Terkadang, kita harus memaafkan Jakarta. – The 10 things that still free here.

Hari-hari di minggu ini, saya sangat membenci kota ini. Tidak pernah merasa meminta dilahirkan di kota padat penduduk dan sangat angkuh ini, saya tidak punya pilihan lain selain melanjutkan hidup sejak kecil sampai sepanjang 25 tahun menerima apa yang Jakarta suguhkan, khususnya stress tingkat tinggi akan segala macam hal negatifnya. Ya, literary, ne-ga-tif!

Sepulang dari traveling kemarin-yang saya build up sendiri untuk menutup minggu terakhir sebelum puasa, saya hanya bisa escape ke Pulau Seribu, untuk menghindar sejenak dari kepenatan saya akan ‘area bermain’ saya sehari-hari, Bintaro-Kemang-Bintaro yang, ah, menyebalkan! 

Saya masih menghormati keindahan dan (beberapa) keperawanan puluhan pantai dan pulau di Gugusan Pulau Seribu, Jakarta Utara untuk dua hari satu malam snorkeling, berenang, dan bengong-bengong santai, ketawa-ketiwi bersama 8orang travelmates di sekitar lima atau lebih pulau dan snorkel sites Sabtu-Minggu (6-7/7/2013) kemarin.

Tapi begitu kembali ke area bermain saya, alias back to routine, saya benar-benar lemas. Bintaro-Kemang di pagi hari itu minimal 2 jam untuk naik bus, dan pulangnya di sore hari, bisa sampai 3 jam, yang berarti sama saja menyebrang ke Pulau Harapan (P.Seribu), atau naik puncak Pangrango dari Kandang Badak (Jawa Barat). *huff*

Saya berniat mengejar teraweh di rumah, jadi dengan berat hati harus masuk kantor jam 8, untuk bisa pulang jam 5. Dan, ya, saya benar-benar struggling. 

Mengobati rasa luka mendalam yang Jakarta selalu torehkan perkara (salah satunya tentang) jalanan, saya cukup tersenyum mengetahui tulisan saya untuk tema HUT Jakarta bulan lalu ‘nangkring’ di puncak Popular Articles urbanesia.com. Whatever, mungkin pembacanya, sama seperti saya, masih mencari secercah harapan untuk memaafkan kota satu ini selama masih terpaksa harus menetap di sini, sampai waktu yang belum bisa ditentukan.

Well, Jakarta. I do believe that you have more things to make me calm down of your bad habit(s). These are 10 things that I share to people about your kindness side so far.

So, Jakarta, be good, be better, I beg.

(hormat ke Pak Wali, walikota Solo yg saya temui untuk ngobrol tahun lalu, yang nggak pernah saya sangka akan benar-benar berani do much much much more struggling things untuk membenahi kota ini. wish you luck.)

Traveler note:

http://notes.urbanesia.com/p/10-hal-di-jakarta-yang-masih-gratis

Leave a Reply