Ray of Light Hunting – Goa Grubuk, Jawa Tengah

Tidak pernah terpikirkan di benak saya sebelumnya untuk masuk sedalam ini ke dalam perut Bumi. Pernah masuk ke Goa-goa wisata sebagai pelancong biasa (Goa Jepang, Jogja, atau Goa Lalay, Sawarna) jelas bukan bekal nyali yang mumpuni untuk akhirnya bertatap muka dengan kesempatan emas ini. 

Ini adalah caving vertikal (entrance) pertama saya, diturunkan lebih dari 70 meter dengan sistem Single Rope Technique (SRT) yang dikembangkan oleh pengelola, mempekerjakan warga sekitar sehingga bernilai jasa tinggi untuk pecinta salah satu extreme outdoor activity ini. Sebuah usaha yang bagus dalam mengembangkan potensi wisata yang sejalan dengan pengembangan sumber daya manusianya.

Kesempatan ini adalah pengalaman mengesankan sekaligus menegangkan bagi saya dan rombongan yang juga baru pertama kali melakukan caving ini. Setelah menginap satu malam, dan pagi harinya melakukan latihan fisik berupa trekking berkeliling ke Goa sekitar yang ternyata berjumlah cukup banyak, sekitar lebih dari 300 Goa di bawah tanah Jomblang yang gersang.

Goa yang berada dalam kawasan Jomblang Ressort milik Cahyo Alkantana, seorang caver senior dan penjelajah Indonesia ini merupakan Goa wisata yang cukup aman bagi caver pemula seperti saya, atau pejalan yang belum terbiasa dengan extreme outdoor activity. Namun, caving tetap saja tidak boleh diremehkan sebagai hanya sekadar salah satu pilihan traveling tanpa persiapan matang dan dipandu ahlinya.

Pastikan saja kita menuruti peraturan yang ada selama kegiatan caving. Seperti selalu menggunakan peralatan sesuai petunjuk dari instruktur (biasanya pecinta alam profesional di daerah Jomblang dan sekitarnya), tidak terlalu dekat dengan lubang masuk goa, baik yang berdiameter besar sekali seperti entrance Goa Grubuk (diameter 80 meter), maupun lubang kecil yang harus tetap waspada kita perhatikan selama perjalanan menuju mulut goa, juga yang penting dan wajib kita ikuti adalah memperhatikan larangan merusak lingkungan, dalam jenis apapun.

Larangan terkeras tentang perusakan di sini adalah pada area Hutan Purba, dimana kita akan berpijak setelah diturunkan dari atas, sebelum akhirnya bertemu mulut Goa. Hutan Purba adalah hutan yang terbentuk karena ambruknya area berbentuk lingkaran seluas 80 meter pada masa silam, sehingga apapun yang berada di atasnya saat itu ikut ambruk ke kedalaman 70 meter sampai saat ini. Maka, banyak tumbuhan yang belum teridentifikasi oleh warga setempat maupun peneliti, dan disebut sebagai tumbuhan purba. Saat itu yang saya lihat adalah Cabai Rawit Purba dan beberapa jenis tanaman Pakis Purba.

Dari Hutan Purba, saya dan rombongan berjalan tidak jauh untuk bertemu mulut Goa. Memasuki Goa ini sebenarnya tidak sulit, karena sudah tersedia jalan setapak yang dibuat pengelola, bahkan lampu sebagai penerangan, maka Goa ini tidak termasuk goa dengan kegelapan total. Terus perhatikan langkah dan arahan instruktur, dan juga larangan tidak merusak apapun di dalam Goa.

Larangan terkeras pada area ini adalah tidak menginjak Gordam dengan menggunakan alas kaki, dan terlalu banyak jumlah orang di atasnya. Gordam adalah sebutan untuk batu yang terbentuk dari air yang kaya mineral dan garam, dan membentuk tekstur yang indah dari tetesan air yang menjatuhinya di dalam Goa dalam waktu yang lama.

Ray of Light atau Cahaya Surga dapat kita lihat pada pukul 12 sampai 1 siang, jika cuaca mendukung atau matahari bersinar dengan lurus memasuki goa. Cahaya yang menerobos celah-celah pepohonan di atas mulut Goa yang sebenarnya Goa Grubuk ini jatuh di atas bebatuan Gordam dengan sangat indah.

Hati-hati juga dengan jurang yang mengarah ke Kalimati di bawah area tempat melihat Ray of Light. Kalisuci sebenarnya bisa dikunjungi untuk bermain air, di mana airnya sangat bening dan masih bisa ditemui binatang laut dengan kulit transparan seperti udang atau ikan.

Namun, Kalisuci di musim hujan sangat berbahaya dan harus dihindari karena dapat terjadi banjir tiba-tiba yang bisa menghanyutkan apa saja yang berada di dalamnya, hingga terbawa ke mulut Goa lainnya dengan jarak yang jauh (contoh: salah satu mulut Goa yang merupakan jalur Kalisuci adalah Pantai Baron).

Tetap waspada dengan langkah, anggota badan terutama kepala, dan juga bawaan yang sebaiknya jangan teralu banyak dibawa saat caving, terutama gadget yang tidak waterproof. Masukkan semua bawaan ke dalam dry bag, karena kita tidak pernah tahu seberapa banyak air yang menetes di dalam Goa, atau tingkat kelembapan yang mungkin dapat membuat bawaan kita basah.

Setelah puas menikmati Ray of Light dan suasana di dalam Goa, saya dan rombongan kembali ke Hutan Purba untuk ditarik kembali naik ke atas. Saya sangat terkejut, ternyata setiap dua orang ditarik dengan SRT sama dengan ditarik oleh belasan orang, yang tidak lain adalah warga desa laki-laki yang bekerja untuk Goa Wisata ini.

Benar-benar pengalaman pertama yang mengesankan. Tegang bercampur kagum saya rasakan selama hampir tiga jam berada di dalam perut Bumi. Dengan mencicipi caving vertikal sedalam ini untuk pertama kalinya, saya menjadikan caving sebagai salah satu kegiatan traveling yang kini selalu masuk daftar pilihan perjalanan dan destinasi saya. 

Temukan keindahan di dalam perut bumi lainnya, karena Indonesia kaya dengan goa-goa cantik yang menarik untuk dijelajahi, namun tetap harus berhati-hati dan mematangkan persiapan saat melakukan kegiatan jenis ini dan, selalu ingin untuk tetap menjaga kelestarian lingkungannya.

Enjoy caving, see deeper, and watch out, to keep our nature safe!

Photos taken by iPhone 3GS with no filter.

Rekomandasi Instruktur: Kurniawan Adi Wibowo 081215771534

*Traveler note:

Baca juga cerita saya dalam #jelajahjogja yang membawa saya pada caving ke Goa Grubuk ini:

http://travelmulu.com/post/55662369006/sebuah-geowisata-beragam-cerita-geowisata

Baca juga caving saya ke Goa Cikenceng, Jawa Barat:

http://travelmulu.com/post/55167866452/hello-caves-lets-caving-semakin-tinggi-mendaki

Leave a Reply