Singapore #solotrip Guidance – Part 1

Intro

Hai! Ini oleh-oleh cerita #solotrip saya kemarin selama tiga hari ke Singapura. Trip ini saya lakukan pada 9-11 November 2013, membuat itinerary sendiri dan berangkat seorang diri dari Indonesia (rumah saya di Bintaro, Tangerang) dan selama tiga hari di sana menghabiskan waktu sendiri, bertemu orang baru, dan sempat seharian bertemu dan pergi bersama teman SMA yang sedang melanjutkan kuliah di sana. 

Pada post ini, saya akan berusaha menceritakan dengan detil apa yang saya rasa, alami, pikirkan, dan semua cerita di luar dugaan saya selama menyiapkan trip ini dari Indonesia. Semoga panduan ini bisa berguna untuk siapa saja yang ingin melakukan perjalanan serupa di waktu yang akan datang ke Singapura, terutama yang juga ingin mencoba pergi seorang diri. Be smart traveler(s), anyway. Enjoy!

Part 1

Singapore is a(really)Fine City

Sebenarnya saya bukan tipikal traveler yang punya banyak keinginan menginjakkan kaki di luar negeri, karena saya belum punya tujuan pasti negara mana yang sangat ingin saya datangi. Tapi karena satu dan lain hal, saya memutuskan mencoba keluar dari batas wilayah negara ini dengan pergi ke negeri tetangga, Singapura. 

Menurut saya, pilihan saya sudah cukup tepat. Karena Singapura bisa menjadi negara tujuan yang memberi dua kelebihan sekaligus, mengajarkan betul kultur yang berbeda dari Indonesia, tapi juga bukan negara ‘menyeramkan’ untuk memulai trip ke luar negeri pertama kali. Kenapa? Karena ada beberapa jenis kultur yang tinggal di Singapura, dari Arab, India, Cina, dan Malaysia(melayu), juga tentunya orang Singapura asli, bahkan warga Eropa, Amerika, sampai Afrika bisa ada di negeri kecil ini.

Keragaman kultur ini yang memberi dua keuntungan itu. Kita bisa langsung belajar berkomunikasi dengan yang bukan bahasa kita (dengan bahasa Inggris), tapi juga tidak perlu takut salah, karena mereka juga tidak semuanya lancar berbahasa Inggris karena sama-sama pendatang. Beruntungnya, kita juga bisa sering bertemu orang-orang yang tiba-tiba pandai berbahasa Melayu.

Notes/Orang India: 

Pertama kali naik MRT, saya mengobrol dengan orang Cina yang tinggal di Singapura dan seminggu sekali ke Jakarta untuk bisnis perikanan. Ia menasehati bahwa Singapura adalah negara yang aman, nyaman, dan menyenangkan untuk traveling, meskipun sendirian seperti saya. Dia bilang bahasa Inggris saya baik, dan tidak perlu khawatir soal bahasa di sini. Orang India (biasanya) memang terkesan galak, jutek, dan tidak ramah. Itu disebabkan karena mereka (biasanya)tidak lancar berbahasa Inggris, jadi malas diajak bicara. 

Singapura punya banyak peraturan seperti yang sudah saya dengar dari kerabat saya yang pernah ke sana. Soal merokok, membuang sampah, mengambil gambar dengan kamera, sampai menyebrang jalan. Hal ini sebenarnya tidak begitu saya coba ingat-ingat saat menginjakkan kaki di sana. TAPI, akhirnya saya melihat sendiri bagaimana semua orang di sini sangat tertib dan mentaati peraturan yang ada.

image

Menyebrang jalan harus menekan tombol di tiang yang ada di setiap zebra cross. Jalan kecil dan jalan besar sama saja. Semua orang tertib menunggu lampu tanda orang menyebrang menyala hijau, dan lampu tanda mobil menjadi merah. 

Tidak ada orang merokok di tempat publik, tidak ada yang meludah, dan membuang sampah sembarangan.

image

Trotoar untuk pejalan kaki sangat banyak, bersih, dan nyaman digunakan. Di pohon-pohon yang tumbuh di tempat publik, sering saya dapati sepeda hanya disandarkan dan dirantai karena ditinggalkan pemiliknya. 

image

Di stasiun MRT (Mass rapid Transit) yang mostly letaknya di bawah tanah, selalu ada pilihan eskalator atau tangga biasa. Jika memilih menggunakan eskalator, gunakan sisi kiri karena sisi kanan untuk pengguna yang buru-buru dan mau mendahului. Semua pengguna sangat tertib, sehingga jadi tampak aneh dan malu jika kita tidak mengikuti.

image

Menunggu MRT yang datang, perhatikan monitor di setiap peron yang selalu aktif menunjukkan info berapa menit lagi kereta dengan tujuan kita akan tiba di stasiun tersebut. Antri di setiap pintu yang masih tertutup rapat sebelum kereta datang, perhatikan tempat kita berdiri untuk mengantri, karena garis merah di sisi kanan dan kiri menunjukkan tempat kita harus berdiri dan mengantri dengan rapi. Sedangakan garis hijau di tengah, menandakan penumpang yang akan turun harus didahulukan ketimbang yang naik, jadi tidak berhimpitan. 

Notes/line antri MRT:

Saya baru menyadari ini setelah naik kereta untuk ke sekian kali, dan terpukau sendiri dengan taatnya semua orang di negeri ini. Padahal mereka berasal dari kultur berbeda, dan tidak jarang saya menemui backpacker lain yang juga terlihat sama bingungnya seperi saya, ada yang membawa carrier, ransel dan memegang peta jalur MRT.

Di hari pertama saya datang (pesawat malam, sampai Singapore sekitar jam 9 malam), saya sempat tersesat mencari alamat hostel saya. Saya sempat ketakutan, karena saya tidak bisa menggunakan pulsa di ponsel saya, dan saya tidak bisa melihat alamat hostel saya dari email. Saya berjalan kaki sekitar lebih dari satu jam sampai akhirnya sampai di hostel. Saya merasa sudah bertanya pada sekitar hampir 20 orang selama saya mencari hostel saya di Jalan Besar, Bugis. 

Meski saya sempat kesulitan, karena saya lebih banyak bertemu orang India yang kurang membantu dalam bahasa, saya tetap menemui banyak orang baik di Singapura. Saya dibantu sesama turis dari India, sebuah keluarga India yang meminjami internet dari ponsel, seorang tukang sampah, sampai turis Filipina yang membantu saya mendapatkan kunci kamar karena resepsionis hostel sudah tutup ketika saya datang. Dan voila, saya bertemu dua orang Indonesia di kamar saya, asal Bandung yang ternyata mengenal saya dari teman saya di Jakarta.

It’s a really fine city. So, don’t worry!

I’ll be back with another part of the story.

Ciao!

*Traveler’s note:

https://www.urbanesia.com/urbansnote/p/7-tempat-berburu-foto-instagram-di-singapura

https://notes.urbanesia.com/l/singapore-biennale-2013/

Leave a Reply