If I wanna go somewhere my heart belongs to, then I will do.

Hujan mengguyur tempat tinggal saya, Tangerang Selatan dan sekitarnya, juga tentu saja ibu kota Jakarta, hampir lebih dari sebulan lamanya. 

Banjir, genangan air, jalan rusak, kemacetan, udara dingin-lebih dingin dari biasanya menjadi apa yang harus saya dan warga di sini temui setiap hari.

Tidak hari kerja, tidak juga akhir pekan. Kami bergerumul dengan itu semua, memakai baju hangat-yang sudah hampir habis stoknya, sepatu becek, dan kendaraan yang selalu kotor sehingga malas kami cuci atau bersihkan.

Saya tidak mengeluh, hanya rasa rindu pada sinar hangat matahari dan awan putih gemuk-gemuk dari langit yang cerah terus menggerayangi hari-hari saya di aspal becek dan rusak pada jalan pergi-pulang rumah-kantor-rumah setiap harinya.

PANTAI.

Sudah pasti itu adalah destinasi traveling yang paling saya ingin sambangi di hari-hari menggigil seperti ini. Pasti juga bukan saya saja yang berkeinginan sama. Beberapa teman sempat konsultasi tentang trip ke pantai dan melaut, menyebrang ke Pulau Seribu di utara Jakarta. Destinasi terdekat bagi warga kota ini untuk bertemu pasir, snorkeling bahkan diving, berlayar, dan bertemu lautan lepas.

Saya tidak merekomendasikan pelayaran meski dalam jarak dekat itu. Tapi traveling selalu punya dua sisi, antara nekat tetap berangkat, atau cerdas membaca alam demi keselamatan dan kenyamanan menikmatinya.

Akhir bulan ini rasanya keinginan ‘mantai’ sudah tidak bisa terbendung. Beruntungnya saya punya kesempatan untuk melipir ke batas darat berpasir itu pada long weekend lalu.

Kesempatan itu tentu saja berupa materi yang cukup, kendaraan, teman perjalanan, cuaca yang mendukung, dan kesehatan pribadi juga energi berlebih, meski sebelumnya saya dihajar banyak pekerjaan dan urusan. 

Saya dan teman perjalanan menempuh jalan darat sekitar pukul 10 malam dan sekitar 2 jam lebih dari Cikupa, Tangerang ke Anyer dan tiba lewat tengah malam. Kami memilih secara random-tapi bertujuan-lahan tepi pantai yang cocok untuk parkir mobil, dekat dengan pasir, ada pohon untuk menggantung hammock, dan tentunya cukup terang.

Voila. Kami melipir di sebuah lahan bersih, berpenarangan cukup, ada beberapa gubuk layak pakai, pohon-pohon rindang dengan ayunan kayu bergelayutan, berpasir halus, dan dekat dengan air laut meski banyak karang dan malam itu airnya surut.

Ada beberepa pengunjung juga menikmati malam di tepi pantai itu saat kami tiba, mendengarkan musik dari ponsel dan mengobrol. Mobil saya parkir di sebelah mobil mereka.

Tepatnya dekat dengan wisma Kompas Gramedia, di wilayah Karang Bolong, dan bernama Pantai Bulakan. Kami bermalam, sambil membakar api unggun dan memanggang sosis kemasan. Sekitar pukul 2 dini hari kami isitirahat, saya di hammock dan teman saya di gubuk, yang kemudian sekitar pukul 4 pagi saya pindah ke dalam mobil karena kedinginan.

Pengunjung lain yang tadi malam datang sebelum kami ternyata sudah pergi duluan sehingga hanya kami yang tersisa di dini hari hampir subuh itu.

Keesokan hari saya terbangun pukul 6, solat subuh di dalam mobil meski sudah ditawari solat di sebuah rumah milik pedagang dan penjaga pantai yang menyapa saya dan mengingatkan soal uang kebersihan. Saya mengangguk, seraya memesan minuman hangat dan sarapan kemudian menumpang kamar mandi umum yang tersedia air tawar bersih untuk berwudu, buang air kecil, bahkan mandi.

Pantai ini masih sepi ketika saya menelusurinya dan sadar bahwa airnya mulai naik menenggelamkan karang-karang berlumutnya. Pasir putihnya halus, tapi juga ada banyak rumah kerang yang menjadikan teksturnya unik karena hampir memiliki semua karakter pantai Indonesia: pasir putih, karang, air bening dan tenang, tapi makin siang berombak, pasir abu-abu bercampur rumah-rumah kerang mungil, ah, apalagi?

Beberapa nelayan terllihat mulai melaut, mendorong kapalnya dengan wajah sumringah. Hari tidak mendung, malah menuju panas dan cerah. Saya menikmati jalan tanpa alas kaki di pasirnya, menenggelamkan kaki di air lautnya yang bening, bermain ayunan, dan tentunya mengambil banyak gambar dari ponsel.

Beberapa warga menjajakan beragam dagangannya mulai wara-wiri di pantai ini, ikan asin (yang saya beli untuk oleh-oleh), nasi uduk, otak-otak, minuman hangat, sampai jasa membuat tato. Penduduk lokal, ramah, berlogat Sunda, jualannya tidak memaksa.

Matahari makin naik, ketika saya sadar ia tidak ada pada lautan di hadapan saya, melainkan dari arah sebaliknya, makin tinggi, hangat, lalu memanas. Saya bergegas membangunkan teman saya, dan bersiap meninggalkan sensasi pagi hari di pantai ini.

Saya membayar dua gelas teh manis hangat dan satu pop mie beserta uang kebersihan dengan total Rp51.000, teman saya menghitung habis bensin Jakarta-Anyer-Jakarta Rp100.000 (premium sekitar 15liter), lalu uang tol sekitar Rp80.000, makan malam di pecel lele tenda Rp16.000/orang, beli cemilan, minum, tissue, korek di warung Rp50.000.

Yeay, I did it. Went somewhere my heart wanted to go: (for this time)The Beach! 

Happy traveling, smart traveler!

Traveler’s note:

Jangan Remehkan Tempat yang Dekat

 

Leave a Reply