Hutan, bagaimana jika dia tidak ada?

image

Pagi itu saya membuka hari dengan, seperti biasa, menyimak apa yang sosial media sajikan untuk kaum urban seperti saya setiap harinya. Melihat status, tulisan, foto, gambar, video, dari banyak insan cerdas tersebar di Indonesia, dan di seluruh dunia.

Salah satu yang menarik perhatian saya adalah rilisan di Facebook Greenpeace Indonesia soal kondisi hutan di negeri ini. Meski saya penulis yang lebih tertarik ranah visual, kali ini saya benar-benar terhentak dengan kalimat pada layar di depan saya saat itu.

“Indonesia tercatat pada Guiness World of Record, sebagai negara dengan laju perusakan hutan tercepat di dunia.”

Astaga. Prestasi macam apa ini?

Pikiran saya melayang ke beberapa tahun silam saat berkesempatan menelusur jalan darat dari Balikpapan ke Samarinda, dan mencicipi Bukit Soeharto di tanah Kalimantan.

Tidak ada apa-apa di sana, hanya hutan dan jalan. Beruntungnya karena jalanan sudah beraspal, dan yang paling berkesan seingat saya adalah di tepi-tepi jalan beberapa kali saya temukan tanda semacam, “Awas hewan melintas”, atau “Suku pedalaman 1KM lagi!”.

Menarik sekali!

Ini Indonesia, yang kita semua banggakan, akui, negeri ini milik kita. Hutan, laut, udara, tanah kering, basah, berlumpur, bahkan belerang semua ada di negeri ini. Bagi siapa saja yang pernah berkesempatan mencoba berjalan, berlari, melompat, menyelam, terbang, menari di tanah ini, harusnya punya rasa peduli lebih dari siapapun yang tidak seberuntung kita memilikinya.

Saya suka sekali menikmati alam Indonesia. Suka sekali. Berjalan seru dengan ransel naik bus atau kereta masuk ke gunung dan hutan, atau terbang cantik dengan koper dan merasakan destinasi pantai nan mewah. Saya suka semuanya.

Saya lihat belakangan banyak orang juga suka menikmati Indonesia seperti yang saya lakukan. Tapi yang disayangnkan, semangat menikmati alam tidak berbanding lurus dengan perkara kepedulian mereka pada alam yang memberikan banyak, bahkan lebih tanpa diminta.

Pikiran saya melayang lagi ke hal lain, saat ponsel saya bergetar memberi notifikasi ada surat elektronik masuk, yang ternyata dari Greenpeace Indonesia. Saya selalu suka membacanya  dengan cermat, penasaran akan kabar apa yang dikirimkan.

Senangnya karena kali ini kabar baik. Berita gembira tentang berhasilnya sebuah komitmen dibuat oleh APP (Asia Pulp and Paper) untuk mengumumkan kebijakan baru perlindungan hutan alam dan lahan gambut di Indonesia. Greenpeace kembali mengajak saya mendukung aksi penyelamatan hutan lainnya, atau mereka sebut Protect Paradise, yang masih terus berlangsung, entah sampai kapan.

Iya, entah sampai kapan pihak-pihak pejuang pelestarian alam, seperti Greenpeace, terus beraksi menyelamatkan apa yang seharusnya menjadi tanggung jawab kita semua sebagai penikmatnya.

Mungkin banyak yang tidak menyangka, belum mengerti, atau tidak peduli pada dampak penanda tanganan petisi yang makin sering disebar melalui internet, hal terdekat bagi kaum urban sekarang. Apa tanda tangan saya berpengaruh? Apa kalau saya donasi sekali saja berpengaruh? Apa informasi tentang lingkungan ini penting untuk kehidupan saya?

Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi awal yang baik untuk memulai kepedulian kita pada alam. Beberapa tahun ke belakang saya berdonasi bulanan meski nominalnya sangat kecil, membaca surat elektronik yang masuk, selebaran dan buletin yang dikirim, ikut tanda tangan, dan menyebar informasi semampu yang saya bisa lewat sosial media favorit saya, tentang isu lingkungan (yang belum juga berhenti) di Indonesia.

Jika kaum urban seperti saya dapat dengan mudah bermain-main di dunia maya, menulis status, tweeting, berbagi foto, video, dan apapun setiap harinya, kegiatan seperti ini tidak sulit dilakukan, bukan?

image

image

image

ini adalah foto-foto teman saya, Dita Kurnia, pasangan muda yang berakhir pekan di Desa Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Saya masih mau melihat hutan, untuk bersama anak cucu menikmatinya walau sekadar berpiknik di akhir pekan, atau melakukan kegiatan ekstrim pemicu adrenalin seperti hiking, climbing, caving, paragliding, dan apapun di tanah dan air Indonesia.

Jika tidak ada lagi hutan, tidak ada lagi flora dan fauna di dalamnya, tidak ada lagi gunung, laut, udara, kehidupan, Indonesia? Kali ini pikiran saya menolak membayangkannya.

Masih mau ada hutan? Protect Paradise ini adalah langkah awal yang baik. Mari saya temani 🙂

Leave a Reply