Ada Haru di Ujung Barat Indonesia.

Saya menyebrang tiga jam dari kota dan pulau saya, menuju pulau terbarat Indonesia, sambil berpikir “Mom, I go this far!” dan yakin dalam hati bahwa, “Ada haru di sana :)”

Haru. Tentu saja. Tiga jam adalah penerbangan domestik yang menurut saya merupakan jarak tempuh yang lama, apalagi plus harus transit dulu di Kualanamu Medan setelah dua jam merasa tidak sabar dari Jakarta, dan kemudian melanjutkan terbang lagi ke Banda Aceh selama 45-60 menit lagi. 

Kenapa haru? Mungkin karena penerbangan saya siang itu diwarnai pemandangan langit terik, dengan awan gemuk-gemuk seperti karpet, dan rasa penasaran, semua hal tentang Aceh di otak saya sebulan ke belakang yang saya dapat dari berbagai sumber, sesaat kemudian akan saya temui langsung dengan mata kepala saya sendiri.

Ya, perjalanan ke Aceh memang mimpi saya. Aceh adalah salah satu must visit place before die versi saya di Indonesia. Serambi Mekkah adalah alasan kuatnya. Dimana hukum Islam masih berjalan benar di sana, dan tentu saja cerita-cerita tentang Rubiah, pulau tempat orang Indonesia dulu berangkat haji, sampai cerita pahlawan-pahlawan wanita dari Aceh yang punya nyali tidak kalah dengan prianya.

Where there’s a dream, there’s a way. Kesempatan itu datang (terutama soal budget) yang membawa saya mendapat project menulis buku dengan DP honor pembelian tiket dengan harga terbaik PP CGK-BTJ-CGK, lalu pemilihan waktu cuti yang tepat, dan yang paling membantu adalah adanya teman, anak Aceh asli yang bekerja di Jakarta (dulu satu kantor dengan saya), yang menjadi pemandu terbaik saya di sana. Hallo Dara Setyana! 🙂

Saya membuat itinerary (untuk trip Aceh ini, plan A sampai D!). Hal yang saya selalu lakukan sebelum memulai perjalanan, ke destinasi terdekat sekalipun. Bagi saya, bukan ingin sok perfeksionis, tapi itinerary itu sendiri merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari traveling, dimana kita menyiapkan pengetahuan sebelum mendatangi suatu destinasi, sehingga bisa menyiapkan semua hal yang pantas untuk mendatanginya.

Contohnya, perkara outfit. Saya yang hobi mendatangi tempat ibadah, masjid dan juga tempat ibadah agama lain, tentunya menyiapkan busana yang pantas. Seperti di Masjid raya Baiturrahman, saya harus memakai rok, karena perempuan tidak boleh menggunakan pakaian ketat. Begitu juga seperti pergi ke gunung atau pantai dan laut, jangan sampai salah kostum, sampai perintilan sunglasses, topi, sandal dan dry bag untuk membawa gadget. 

Dari itinerary juga yang terpenting bisa menyiapkan budget, apalagi untuk daerah yang kita tidak tahu akan ada mesin ATM atau tidak, dan bisa/tidaknya penggunaan kartu kredit. Semua itu tentu saja penting. Hal yang tidak kalah penting lainnya juga tentang budaya. Saya sangat suka mengetahui budaya setempat, dimulai dari hal ringan seperti bahasa daerah dalam mengucap “Terima kasih” atau kata “Berapa?” untuk membeli dan menawar harga oleh-oleh 😀

Sampai di Banda Aceh, saya dijemput saudara Dara. Saya sering dengar orang Aceh itu suka sekali membantu sesama, terutama tamu. Benar saja, Dara mengerahkan saudara sepupunya untuk menemani saya di hari pertama di Aceh, karena Dara sendiri datang dari Jakarta di hari kedua saya disana. Ica, sama seperti Dara anak berdarah asli Aceh yang sangat baik dan menyenangkan! 

Ica menjemput saya bersama pacarnya bernama Syawal dan memenuhi semua kegiatan di itinerary hari pertama saya dengan sempurna! Rujak Aceh-Makam Massal Tsunami-Rumoh Aceh-Blang Padang (pesawat RI001)-Masjid Raya-Mie Aceh-Kopi Aceh! Haru 🙂

Bahkan saya menginap di rumah Ica, sehingga tidak ada budget hotel selama di Banda Aceh. Sampai keesokan hari, sarapan Lontong Aceh yang lezat dan menjemput Dara ke Bandara adalah kegiatan di itinerary saya hari kedua. Di hari itu juga kami menyebrang ke Pulau Weh, untuk menikmati Sabang di akhir pekan.

Berkumpul dengan keluarga Dara, keluarga Aceh asli juga sangat menyenangkan. Siang itu kami makan di rumah makan tengah sawah bernama Kayee Lheu dan sore harinya kami ke Pelabuhan Ulee Lheue untuk menyebrang dengan kapal cepat ke Sabang, Pulau Weh. Kapal yang membawa kami banyak diisi turis asing. “Apa yang mereka cari di ujung Barat Indonesia?” Pikir saya.

Sabang menjawabnya. Kota di Pulau Weh ini memang benar menjadi salah satu tempat dimana tetesan rasa surga jatuh di Indonesia. Sabang, yang disebut-sebut kependekan dari “santai banget” memang sebuah kota pada pulau yang diciptakan untuk menikmati hidup! 

Tidak ada macet, tidak ada pengguna jalan ugal-ugalan, saya tidak melihat lampu merah, hanya sesekali hewan seperti sapi, kambing, bahkan monyet ada di jalanan dengan jumlah kendaraan lalu lalang yang juga tidak banyak. Kami melanjutkan perjalanan hari itu ke Tugu Nol Kilometer Indonesia. 

Menginap di salah satu penginapan di daerah Pantai Sumur Tiga Sabang adalah pilihan terbaik menurut saya selama trip ini. Freddies bungalows & resto adalah tempat paling syahdu menikmati hidup di Sabang. Rasanya tidak mau pulang mengingat view pantai di sana, penginapan yang eco-friendly nyaman dan bersih, dan tentunya harga penginapan yang terjangkau. 

Hari berikutnya di Sabang adalah mengintip bawah laut Pulau Weh di Pantai Iboih dan Pulau Rubiah. Kami kedatangan teman Dara lainnya bernama Ira dan Izzy, dua anak Aceh yang sama menyenangkannya dan menambah keseruan kami menikmati Pulau Weh! Air berwarna hijau segar, tosca, bahkan jernih bisa ditemui di kawasan menuju bawah laut ini. Menyewa boat dan alat snorkeling, kami sepakat menghitamkan kulit demi menyelami keindahan Barat Indonesia ini.

Kembali ke Banda Aceh keesokan harinya kami isi dengan kegiatan (masih)dalam rangka melengkapi itinerary saya yaitu mengunjungi Kapal PLTD Apung dan Museum Tsunami yang megah dan terkenal itu. Temperatur udara kota Banda Aceh memang sedang tinggi ketika saya datang, panas di siang hari bisa sampai 33 derajat Celcius. Tapi makanan lezat selama di Aceh membuat saya lupa dengan kekurangannya yang lain 😀

Dara sempat  membawa saya ke Aceh Besar untuk menikmati Pantai Lampuuk yang indah. Sebelumnya saya bertemu lagi dengan haru mendalam saat mampir solat Ashar di Masjid Rahmatullah, yang berdiri kokoh saat Tsunami meratakan bangunan di sekelilingnya. Saya berdoa cukup dalam untuk para korban saat berada di masjid ini.

Hari terakhir saya isi dengan membeli oleh-oleh souvenir cantik favorit saya dan cemilan di Pasar Atjeh, juga menikmati makan siang terakhir saya di sana, Ayam Tangkap khas Aceh Rayeuk dengan gurihnya daun Temurui yang tidak akan saya lupa.

It wrapped very well! Perjalanan lima hari ke Banda Aceh dan Pulau Weh adalah salah satu cerita traveling tidak terlupakan untuk saya dan tentu saja saya membawa pulang banyak rasa dari sana, termasuk haru. Bagaimana hangatnya orang Aceh terhadap pendatang, view indah Sabang mengagumi lukisan Tuhan yang istimewa, kuliner lezat dan budaya juga sejarah yang membuat saya semakin bangga dengan negara ini, Indonesia 🙂

Traveler’s note:

Lihat Itinerary Aceh yang saya susun di sini. Semoga berguna!

Lihat review Penginapan Freddies di Sabang di sini.

Semoga berguna! Happy smart traveling* 🙂

*smart-traveling is doing travel with full responsibility for everything you do to nature, local people, culture, and yourself during the trip.

Leave a Reply