Bandung 23 Jam.

Whosa. Bandung nggak ada matinya~

Punya libur satu hari di hari kejepit dalam minggu-orang-orang-pada-pergi-liburan-jauh-jauh ini emang bikin galau. Saya tidak punya rencana traveling jauh pada minggu istimewa bagi traveler lainnya. Saya tidak ambil cuti, saya pun tidak memesan tiket dan memesan akomodasi kemanapun. Saya belum punya ide sampai awal minggu kemarin.  

Sampai akhirnya Rabu malam saya memutuskan ke Bandung menyetir dari Jakarta, menginap satu malam, dan pulang di Kamis malam. Dan inilah kisah Bandung 23 jam, yang mungkin kata orang, ah-biasa-aja-bandung-mah, tapi menurut saya Bandung memang nggak pernah ada matinya. Selamat menikmati, teteh dan akang-akang!

Itinerary

Start from Jakarta pulang kerja 20.30

Isi bensin 100K, tol 50K, makan malam KFC rest area 30K

Sampai di Bandung (Tol Pasteur) 23.00

Ke Gampong Aceh, Dago Bawah 40K (berdua)

Naik ke Dago Atas, check in penginapan Rumah Kiboku 00.00

Istirahat 00.30

Bangun pagi, solat Subuh, look around, light workout 05.30

Sarapan 09.00

Check out 11.00

Penginapan 1 malam 275K, sarapan bakso tahu 20K (berdua)

Taman Hutan Raya Ir.H.Djuanda Dago Pakar 11.30

Light trekking, solat Dzuhur, foto-foto, look around Goa Jepang 13.30

Tiket masuk 2 orang 22K, mobil 10K

Makan siang di Rumah Nenek, Dago Atas 14.00

Makan Nasi Tim Ayam, minum, es potong total 51K (berdua)

Turun ke Bandung 15.00

Kineruku & Garasi Opa di Setiabudi 16.30

Lihat-lihat, baca buku 17.30

Jalan ke Toko Musik di Bandung di Bandung Trade Center (BTC) 18.00

Braga Music, lihat-lihat, beli senar gitar, solat Magrib di BTC 18.30

Makan malam di Paskal Food Market Pasirkaliki 19.00

Makan malam Sate dan Bebek Bali, minum 100K (berdua) 

Kembali ke Jakarta masuk Tol Pasteur 21.00

Tol 50K

Sampai Jakarta 23.00

total budget berdua:

all accommodation dan parkir-parkir 500K

Spot Review

Gampong Aceh

Menjadi pilihan tempat makan sebelum naik ke Dago atas karena tempat ini buka sampai sekitar jam 2 pagi. Jenis makanan tidak berat karena mie aceh, roti cane, dan minuman hangat seperti teh tarik bisa jadi pilihan late dinner. Sepertinya sudah berdiri lama dan jadi salah satu spot anak-anak mahasiswa sampai pekerja baik first jobber atau yang sudah mapan.

Kisaran harga 15K-30K

Rumah Kiboku

Rekomen banget sama penginapan baru ini. Berdiri Desember 2013, bed, breakfast & backyard spot ini nyaman, bersih, dan modern, juga pastinya harganya yang terjangkau. Hanya di kisaran 275K tanpa sarapan, dan 350K dengan sarapan nasi goreng. Meski tanpa AC, menurut saya penginapan ini lebih dari sekadar cukup jika dibandingkan dengan harganya. Mungkin yang saya notice sekali adalah design bangunan, lokasi dan view, juga furnitur baik dari material sampai kebersihannya. Semua nampak modern dan cukup niat untuk dibandrol dengan harga murah. Kasur, bantal masih empuk dan baru, sprei dan selimut bersih dan baru, LCD TV, alat mandi, dan kamar mandi dengan air panas! Design ruang kamar yang fungsional sehingga meski tidak besar tapi juga tidak terasa sempit. Pemilik dan si anak berambut keriting yang menjadi inspirasi nama Kiboku ini juga membuat suasana homie tercipta antara owner dan pengunjungnya, sehingga betah berlama-lama. Lokasinya gampang ditemukan, naik ke arah Dago atas, setelah melewati Alfa Mart dan belokan ke Dago Pakar resor, masih terus lagi ada gedung warna abu-abu (kemarin gedung tsb belum selesai dibangun), atau tidak jauh dari Mountain View Golf Dago (lapangan golf pertama di Bandung), Rumah Kiboku mudah ditemukan ada di tepi jalan dengan lahan parkir cukup besar bisa untuk sekitar 5 mobil. Search Facebook & Twitter mereka: Rumah Kiboku.

Kisaran harga penginapan 275K-350K

Kisaran harga makanan 10K-25K

image

view dari Rumah Kiboku

image

area bawah Rumah Kiboku yang dipenuhi rumput!

image

ini dia si Kibo, venan, anak dari owner Rumah Kiboku

Taman Hutan Raya Ir.H.Djuanda

Sejujurnya saya memang ingin eksplor daerah Dago saja pada short trip ini. Soalnya kalau sudah ingat Bandung macet, saya jadi malas dan bisa menghabiskan waktu di jalan saja. Maka saya ada pilihan ke Hutan Djuanda atau Curug Dago. Secara saya tidak berniat main basah-basahan atau trekking berat, saya memutuskan mengunjungi Hutan Djuanda. Hutan pinus dengan trek yang sudah rapi (aspal dan paving block) ini saya tempuh dengan memakai celana jeans, sandal jepit, dan ranselan saja, karena saya memang tidak begitu niat menjelajah terlalu dalam. Soalnya area hutan ini sangat luas, bahkan bisa sampai tembus ke daerah Maribaya. Dari parkir mobil ke spot-spot pada hutan ini cukup jauh dan memang terus menjauh jika semakin dalam berjalan. Medannya juga naik turun, terdapat tanjakan terjal, dan masih banyak monyet berkeliaran. Ada Goa Jepang, Goa Belanda, Curug Lalay yang jaraknya bisa ditempuh ojek karena makin jauh. Saya hanya berjalan sampai Goa Jepang, itu pun tidak masuk karena tidak membawa senter (tapi banyak penyewa dengan hagra 5K). Sebelum pulang saya menyempatkan beli souvenir dari kayu pohon yang jatuh juga biji-bijian kering dari hutan ini.

Harga masuk 11K/orang, 10K mobil

Kisaran harga souvenir 3K-15K

image

Hutan pinus di Taman Djuanda yang menjulang

image

outfits light trekking yang jangan dicontoh, meski medannya sudah bagus di sini :p

image

Pintu masuk Goa Jepang

Rumah Nenek atau Warung Lela

Sepertinya spot ini juga sudah menjadi favorit warga Bandung dari jaman dulu. Resto bertema rumah di tepi bukit dengan view langsung dataran tinggi Bandung memang jadi daya jual banyak tempat makan di area Rancakendal ini. Tapi resto yang dulunya bernama Rumah Nenek dan sekarang jadi Warung Lela ini juga terkenal dengan makanannya yang enak. Jenis menunya memang lebih ke bakso, mie atau yamin, tapi ada juga menu nasi seperti nasi tim ayam, atau juga ada nasi lidah. Saya tertarik dengan dessert es potong, kemarin saya coba rasa kelapa dan enak!

Kisaran harga 15K-35K

image

view dari Warung Lela

image

es potong rasa kelapa, enak!

Garasi Opa

Saya pertama kali mendengar nama Garasi Opa dari online media, dan kemarin terbersit untuk mengunjungi si garasi penjual barang-barang bekas yang terletak di dekat jalan Setiabudi, tepatnya jalan Hegarmanah , dan memang salah satu hidden spot yang seru disambangi. Sempat bingung karena ada plang bertulis parkir Garasi Opa di rumah no.56, tapi sepi dan tidak nampak ada kegiatan pada rumah tersebut, ternyata letak Garasi Opa sendiri ada di dua rumah setelah tempat parkir tersebut yaitu no.52. Garasi Opa ternyata satu rumah dengan Rumah Buku Kineruku. Garasi Opa sendiri terletak di halaman belakangnya yang berumput hijau, berbentuk sebuah toko terbuka yang dipenuhi aneka barang vintage bekas. Dari alat elektronik kuno seperti telepon rumah, tv, mesin tik, sampai vinyl kuno, aksesoris seperti kacamata, baju, tas, dan perintilan lainnya ada di sini tergantung hasil buruan dan beli putus sang owner dengan siapa saja yang ingin menjual barang bekasnya. Saya menemukan banyak benda yang saya kira sudah punah atau mengingatkan pada jaman dulu atau masa kecil.

Kisaran harga 10K-tak terprediksi

image

Tampilan luar Garasi Opa yang teduh

image

Beragam jenis barang vintage bekas yang dijual di Garasi Opa

Kineruku

Kineruku ini bertempat di sebuah rumah tinggal yang tidak terlalu besar, tapi begitu masuk di area ruang tamu sudah banyak rak buku dan ada meja kasir atau tempat sirkulasi peminjaman item di Kineruku, dari bacaan sampai CD. Di sini dijual juga CD, kaset, sampai vinyl dari musisi indie tanah air, juga produk kreatif seperti note book dan kartu pos handmade yang lucu-lucu. Titip tas di loker di pintu masuk, dan jangan berisik karena banyak pemuda-pemudi Bandung atau mahasiswa yang membaca atau mengerjakan tugas kuliah di sini.

Kisaran harga CD dan creative stuffs 5K-200K

image

Area pertama saat masuk ke Kineruku

image

Selain bacaan, ada materi audio visual juga yang dipinjamkan seperti CD musik dan film

Paskal Food Market

Makan malam penutup di Bandung saya jelas mengenyangkan dan terbilang agak mewah. Saya datang ke area food court yang sepertinya baru hype di Bandung, berada di daerah Pasirkaliki dan bernama Paskal Food Market. Menurut saya ada ratusan food stall di sini dengan aneka makanan dari berbagai daerah di Indonesia dari Sabang sampai Merauke, juga mancanegara. Sempat memutari area food stall dan bingung, pilihan saya pun jatuh pada masakan Bali yaitu Sate sapi, bebek Bali, dan Sate lilit ayam. Cara order adalah pesan langsung di stall yang diinginkan, bayar di kasir yang tersebar di seluruh area, cari tempat duduk, dan nanti pengantar makanan akan mencari nomor lalu kita memberi bon tanda lunas. 

Kisaran harga 10K-tak terprediksi

YEAH! THAT’S ALL BANDUNG in 23 HRS! 

Just enjoy what you wanna enjoy in life! I do what I wanna do, walk I wanna go, and eat what I think it’s good for my life and happiness. Do ya?

Happy smart traveling*!

*smart-traveling is doing travel with full responsibility for everything you do to nature, local people, culture, and yourself during the trip.

Leave a Reply