Makin Dekat dengan Alam di Ujung Kulon

Sebuah ajakan ‘turun’ ke alam datang lagi, atau yang orang-orang lebih sering sebut, traveling. Bagi saya traveling adalah kesempatan berdekatan dengan alam lebih dari biasanya. Memang kita hidup di tengah alam, menghirup udaranya, meneguk airnya, menginjak tanahnya, tapi terkungkung di tengah bangunan dengan besi dan bata. Ya, kita tumbuh dan berkembang di antara hutan beton yang makin hari berlomba paling tinggi menjulang. Mengerikan.

Jika kita tidak dengan sengaja menyeburkan diri ke laut lepas, menapakkan kaki di antara akar dan tanah hutan rimbun, berdiri di atas bukit atau lebih beruntung lagi bisa ke puncak gunung, atau lebih niat lagi menyelam ke dasar lautan yang tenang, dan masuk ke dalam perut bumi merangkak dalam kegelapan, maka kita bisa saja lupa, ada yang lain yang hidup di Bumi ini selain manusia dan manusia dan manusia.

Berpartisipasi dalam kegiatan apapun yang bertujuan peduli dengan alam tidak akan hanya meninggalkan lelah (dan baju kotor) saja pasca trip-nya. Beruntung bisa ikut kembali bersama Teh Kotak, setelah tahun lalu diboyong brand ramah lingkungan ini dalam Jelajah Jogja, kali ini saya menuju Barat pulau Jawa dalam Explore Indonesia ke Ujung Kulon dan sekitarnya (6-8Juni 2014). Jelajah kali ini lebih ramai partisipannya, kami berangkat bersama pihak penyelenggara utama, Majalah Panorama dan Get Lost, juga sepeda Polygon, dan sekitar 35 peserta dari latar belakang berbeda.

Berangkat dari Jakarta pada Jumat (6/6) dini hari dengan Bus, kami sempat mampir untuk sarapan Durian di sebuah spot makan durian bernama Durian Jatohan Haji Arief di daerah Pandeglang. Sensasi makan duren di pagi hari sambil mempelajari sejarah durian di Indonesia memang seru. Ambil duren pilihan kita, bawa ke petugas yang memotongnya, dengan nampan bulat besar kita siap menyantapnya. 

image

Pertama kali dalam hidup sarapan durian! Jangan salah pilih sebelum dipotong ya 🙂

image

ternyata DJHA ini adalah Agro Outlet di Banten, lho!

Perjalanan darat menuju destinasi pertama hari itu memang panjang. Kami makan siang di Rumah Makan Seafood yang cukup terkenal, RM.Ibu Entin, masih di daerah Pandeglang. Setelah itu kami mulai merasakan medan jalanan naik turun yang cukup seru sampai akhirnya memasuki kawasan Tanjung Lesung tepatnya di resor tempat kami menginap, Kalicaa Resort Tanjung Lesung.

image

Makan hasil laut dari negeri sendiri itu, juara!

Setelah sekitar empat jam di dalam bus, rombongan kami dengan gembira check in di resor dengan area 15 hektar ini. Fasilitas dan area resor yang sangat bagus dan berkualitas premium mengalahkan rasa gerah dan lelah kami dalam cuaca yang panas dan lembab siang itu di Tanjung Lesung.

image

Penginapan kelas premium dengan fasilitas lengkap yang nyaman.

image

Pemandangan sekitar resor.

image

Pohon kelapa, pantai, dan sepeda!

image

Gowes sore dengan Polygon. Keren banget sepedanya!

Setelah pembagian kamar, kami langsung diajak mencicipi ber-gowes ria dengan sepeda keren yang disediakan Polygon. Salah satu pantai yang menarik pada area Tanjung Lesung adalah Pantai Bodur yang masih sangat sepi. Sayang saat itu cuaca mendung dan mulai gerimis sehingga kami harus cepat bergegas kembali ke resor.

imageimage

Pantai Bodur yang masih natural dan sepi, sayang mendung.

image

Bareng Mas Barry Kusuma dan Aria menujutimur.com, dua photographer dan travelblogger kece tanah air! haha

image

ikan sebesar ini dibandrol hanya 25K, belum ditawar pula!

Hari berikutnya dini hari, kami harus bangun lebih pagi untuk melanjutkan perjalanan ke Sumur, atau pelabuhan untuk menyebrang ke pulau-pulau lainnya di Ujung Kulon. Hari ini kami berlayar hampir tiga jam dan sampai di pulau tak berpenghuni bernama Pulau Handeleum.

imageimage

Selamat datang di Taman Nasional Ujung Kulon!

Di sana kami melakukan misi mulia dari Teh Kotak, yaitu kegiatan menanam Mangrove demi masa depan lingkungan di area pulau ini, juga tentunya alam Indonesia.

image

Penanaman ratusan bibit mangrove, dengan tunas yang sudah berdaun 4 lembar untuk layak tanam(di dalam lumpur setinggi dada orang dewasa!). Foto oleh Majalah Panorama.

Setelah itu, kami pun melanjutkan kegiatan lebih seru lainnya yaitu Canoeing di sungai Cidaon yang masih menjadi rumah bagi buaya, burung-burung, binatang laut, ular bahkan badak yang sesekali menyebarang sungai yang disebut-sebut Amazon-nya pulau Jawa. Kami juga merasakan sensasi ‘pemburuan’ melihat satwa di area Savanna yang saat itu sedang dihuni kawanan Banteng hutan.

imageimage

Canoeing di Sungai Cidaon

image

Salah satu kru Panorama di Savanna Cidaon

Destinasi kami berkutnya adalah sebuah pulau indah bernama Pulau Peucang dengan air laut yang masih biru, bersih, dan sangat jernih seperti kristal. Mendekat ke dermaga, terlihat banyak sekali ikan-ikan kecil, mungkin ada ribuan, yang berenang berkelompok di bawah dermaga kayu tempat kapal kami merapat.

imageimageimageimage

air laut dan pantai sejernih kristal dengan ribuan ikan di bawah dermaga kayu Pulau Peucang.

Kami check in di Peucang Island Eco Resort, dimana hewan-hewan masih berkeliaran bebas di sekitar area penginapan, seperti rusa, babi hutan, monyet, dan sesekali biawak pun berjalan santai dan anggun di tepi pantai berpasir putih yang sangat halus ini.

imageimageimageimage

area penginapan yang masih menyatu dengan hewan liar

Serunya, di pulau ini saya merasakan sensasi berenang malam hari di bawah bulan purnama yang cantik dan langit yang cerah. Kami berenang dekat dermaga dengan air yang jernih dan bersih sebelum jam makan malam tiba. Kegiatan malam hari kami habiskan di restoran resor ini sambil sharing session dengan gamez dan doorprize yang dipandu MC seru dari Panorama.

imageimage

pemandangan setelah trekking menuju Karang Copong

Keesokan harinya kami pun bergegas melakukan trekking yang ternyata cukup memakan waktu lama yaitu tiga jam pulang pergi ke sebuah tempat yang saya tidak pernah bayangkan memiliki daya tarik nan eksotis yang membuat saya betah berlama-lama menatapnya.

image

Karang Copong adalah salah satu objek yang wajib dilihat jika ke Ujung Kulon. Ada standing area di puncak dengan kemiringan hanya sekitar 60 derajat (jalan sebelumnya sangat landai dan mudah dilalui), dimana kita bisa melihat indahnya batu karang raksasa di tengah samudera lepas, yang mengingatkan kita dengan Uluwatu atau Tanah Lot Bali.

image

bersama Alfons dan David dari Panorama & Get Lost, penyelenggara kegiatan ini. 

image

view yang bikin betah lama-lama memandangnya

Menariknya, ketika saya memutari standing area yang juga tidak luas itu, saya menemukan objek lain yang sangat cantik, yaitu bebatuan stalaktit membentuk jurang sempit dimana air ombak dari laut menghantamnya pasang dan surut, cantik sekali.

image

beautiful view worth for 3hrs trekking!

image

Foto oleh Arris, Majalah Get Lost

Warna air biru muda bercampur putih menghantam bebatuan berwarna krem, dan terus berulang lagi dan lagi sukses membuat saya duduk terdiam memandanginya dari atas di bawah pohon dan merasa tidak mau beranjak.

image

Saat kami melewatinya, jamur ini sedang mengeluarkan asap sporanya berwarna merah! Cantik sekali 🙂

Hutan yang kami lalui juga tida kalah eksotis dan asrinya, masih ada kawanan rusa yang lalu lalang, juga aneka tumbuhan seperti pohon-pohon raksasa yang sudah tua, sampai flora cantik seperti jamur warna warni yang asyik mengeluarkan sporanya pagi itu. Cantik sekali.

image

foto hasil teknik aerial photography ini diambil oleh mas Barry Kusuma yang hasil-hasil fotonya sangat ciamik!

Pengalaman saya dalam perjalanan singkat ini membawa banyak cerita dan memori yang indah tentang alam Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Tidak ada kata lebih buruk atau lebih indah jika membandingkan alam yang terbentang di masing-masing wilayah di Negeri ini. Semua memiliki ciri khas dan kecantikannya sendiri.

Terima kasih Teh Kotak, Majalah Panorama & Get Lost dan semua pihak yang mengadakan kegiatan ini. Semoga saya bisa terus ikut berpartisipasi 🙂

Happy Smart Traveling*!

Read also:

Menikmati Manisnya Pulau Seram

Menjelajah Sisi Lain Yogyakarta

(Masih) Ada Haru di Ujung Barat Indonesia

Kepulauan Derawan: Serpihan Surga di Indonesia

Menjelajah Alam Budaya Jawa Timur

*smart-traveling is doing travel with full responsibility for everything you do to nature, local people, culture, and yourself during the trip.

Leave a Reply