Jelajah Sejarah Cirebon part 1 – Keraton Kasepuhan

Mumpung jembar kalangane. Mumpung padang rembulane…

Entah kenapa lirik lagu Lir Ilir karya Sunan Kalijaga ini terngiang terus di pikiran saya sepulang dari perjalanan ke Cirebon akhir pekan lalu (9-10 Agustus 2014). Saya yang berdarah keturunan kota udang itu memang makin hari makin bangga dengan kota kelahiran nenek-kakek sampai buyut dari keluarga Ibu saya ini. Cirebon semakin sakral dan harus saya makin banggakan, seiring dengan dewasanya usia, saya berharap bisa sebijak orang-orang yang menghargai sejarah keturunannya.

Berat memang bicara soal sejarah. Tapi tidak jika keinginan itu timbul dari dalam diri sendiri atau biasa disebut curiosity dan diaplikasikan lewat kegiatan yang kita senangi, seperti saya saat ini, traveling.

Saya dan keluarga cukup sering ke Cirebon untuk ziarah ke makam kakek, atau jika ada undangan pernikahan dari keluarga besar kakek atau nenek di daerah Plered, Tegalwangi, Cirebon. Makin ke sini, saya tidak lagi menginap di rumah kerabat di desa itu, tapi menginap di hotel karena memang juga sudah tidak ada rumah nenek atau kakek lagi di sana. Biasanya kami hanya melakukan tujuan, makan makanan khas Cirebon seperti Nasi Jamblang dan Empal Gentong, belanja oleh-oleh di Batik Trusmi atau aneka cemilan, sirup, kecap di Pasar Pagi lalu pulang. 

image

pintu masuk pengunjung ke area keraton yang menyerupai gapura di Bali

Tapi kali ini saya menyelipkan niat lain pada keberangkatan kami akhir pekan (2 hari 1 malam) kemarin. Saya ingin sekali mengunjungi keraton di Cirebon. Saya malu karena dari kecil sampai sebesar ini belum pernah menyambangi satupun dari empat keraton yang Cirebon punya. Niat saya tercapai kemarin, meski masih meninggalkan ‘PR’.

image

Setiap kerajaan biasanya punya tiga gerbang sebagai pertahanan dan keamanan. 

Saya dan keluarga berkunjung ke Keraton Kasepuhan Cirebon di Ujung selatan Jalan Lemah Wungkuk, Cirebon. Berbekal Google Maps dan bertanya orang di jalan, kami sampai di area Keraton yang sudah jadi tempat wisata untuk umum itu. Tidak sulit memarkir mobil, kami berhenti tepat di depan pintu masuk dan bisa langsung menuju loket tiket yang menurut saya sudah ‘modern’ karena memiliki sistem eletronik barcode dan komputerisasi.

Tulisan di loket ‘Harga Tiket Masuk Sistem Elektronik Keraton Kasepuhan Cirebon mulai tanggal 10 Juli 2014’, cukup menarik perhatian saya karena ada perbedaan harga di hari kerja siang dan malam yang bisa dilihat pada foto berikut ini.

image

Harga tiket yang cukup ‘berani’ untuk ukuran tempat wisata sejarah/museum. bravo Cirebon!

Sebelumnya saya sempat mencari tahu harga tiket masuk dan jam buka kunjungan keraton ke akun-akun Twitter info Cirebon, dan mendapati info harganya sekitar Rp3000-Rp5000. Ternyata harga tiket dibandrol sekitaran Rp10.000 bahkan sampai Rp80.000! Menurut saya dan keluarga, ini adalah suatu keberanian dinas pariwisata Cirebon yang meninggikan harga wisata sejarah semacam ini. Tentu saja dengan maksud pemugaran dan perawatan area keraton yang sudah berumur ratusan tahun itu. 

Saat di pintu masuk, akan ada pemandu yang menawarkan jasa guide (tanpa paksaan) yang ternyata mereka adalah abdi dalem atau masih keturunan keluarga keraton. Saat itu saya mendapat panduan dari guide bernama Pak Iman yang menurut saya memilki attitude yang sangat baik, mengerti pembahasan yang penyampaiannya terstruktur rapi, berbahasa Indonesia dengan sangat baik, mengerti istilah-istilah modern, dan memiliki selera humor dan yang tidak kalah penting berbaik hati menawarkan mengambil foto di area-area yang bagus.

image

Area keraton ini cukup bersih dan terawat. Nyaman berkeliling di sini dengan dipandu guide lokal seperti Pak Iman.

Pak Iman menjelaskan sejarah kerajaan di Cirebon, khususnya tentang Keraton Kasepuhan yang merupakan salah satu dari empat keraton di Cirebon, selain Keraton Kanoman, Keraton Kacirebonan, dan Keraton Kaprabonan. Keraton ini adalah tempat tinggal Kerajaan dari Syarif Hidayatullah, atau Sunan Gunung Jati, satu-satunya dari sembilan wali yang juga seorang Raja.

image

Gamelan dari Banten. Ternyata Cirebon dan Banten masih bersaudra.

image

Ini alat untuk berkirim pesan! Tabung pembungkus surat inilah yang membawa dan melindungi pesan-pesan yang ditulis di atas daun dan dikirimkan antar daerah baik lewat darat maupun lautan!

Di area keraton seluas 25 hektar ini berdiri istana utama, bangunan pendukung seperti tempat menerima tamu dan menonton pertunjukan, taman sari dan sumur, juga tempat semedi dengan aturan yang masih kental dan wajib dihormati hingga saat ini. Ada juga museum benda-benda peninggalan yang memiliki cerita-cerita menarik dari segi bentuk, kegunaan, sejarah dibuat atau ditemukan, dari mulai senjata, alat musik, alat upacara, sampai alat berkirim pesan sebelum adanya teknologi seperti sekarang.

Salah satu yang menarik perhatian saya adalah kurungan untuk upacara Turun Tanah. Banyak tradisi simbolik penuh makna dari jaman para wali dulu. Salah satunya tradisi untuk anak bayi yang baru boleh injak tanah lepas usia 7 bulan ini. Bayi dikurung dalam kurungan bambu besar seperti yang sudah berusia 100 tahun seperti terlihat pada foto (kurungan dan Ibu saya di depannya), lalu dibiarkan memilih benda yang diramalkan menjadi masa depannya. Biasanya keris, alat tulis, alat make up, uang, dan lainnya. 

image

Saya merasa beruntung, karena ternyata Ibu saya sempat mengadakan upacara itu saat saya bayi. Saat itu saya dikurung di dalam kurungan ayam milik kakek saya dan memilih pulpen di antara benda-benda lainnya 🙂

Kereta Kencana Singabarong yang didesain sangat apik dan penuh perhitungan adalah peninggalan yang paling memukau kami hari itu. Kereta berukuran besar yang sangat kokoh dan didesain sedemikian rupa membentuk gabungan Gajah, Naga, dan Buroq yang menjadi simbol toleransi tiga budaya pada zamannya, yaitu India, Cina dan Mesir. Kereta yang ditarik empat kerbau ini masih terlihat kokoh kayu dan bajanya, namun sudah tidak lagi digunakan demi pelestariannya. Maka dibuatlah duplikatnya yang digunakan jika ada acara kesultanan di Cirebon.

image

Kereta kencana Sunan Gunung Jati yang artistik, simbolik, sekaligus fungsional dan penuh perhitungan pada pembuatannya.

Masih banyak lagi peninggalan menarik dan penuh cerita yang membuat kami terpukau hari itu, terutama bagi saya dan keponakan-kepokanan kecil saya yang ternyata sedang mengikuti kisah Wali Songo di televisi. Ibu dan Uwak saya sudah pernah ke sini dan sudah mengerti sejarahnya meski masih penasaran bertanya pada guide kami yang baik hati. Peninggalan lainnya seperti lukisan Prabu Siliwangi yang unik karena mata, bagian jari-jari kaki, dan bentuk tubuhnya bisa berubah-rubah mengikuti arah dan jarak lihat dari pengunjung. 

image

Hormati semua aturan yang ada adalah bagian dari traveling with attitude 🙂

Banyak area yang jarang dimasuki pengunjung umum, seperti sumur-sumur mata air dari area keraton ini yang tidak pernah kering, taman sari yang dulunya dihiasi karang-karang indah karena Cirebon dekat dengan laut, juga tempat semedi yang tidak bisa dimasuki perempuan dengan aturan tradisi yang tetap terus harus kita hormati sebagai pengunjung.

image

Cuaca cerah nan panas siang hari di Cirebon sangat cocok digunakan untuk berkunjung ke Keraton atau situs sejarah lainnya.

Mengitari area peninggalan kerajaan ini sangat meninggalkan kesan di hati dan pikiran saya. Sekitar dua jam sudah diajak berkeliling oleh Pak Iman akhirnya terdengar suara adzan dari masjid yang tidak kalah kaya sejarahnya, yaitu Masjid Sang Cipta Rasa yang jaraknya tidak jauh dari Keraton Kasepuhan. Shalat disana setelah menjelajah Keraton Kasepuhan benar-benar membuat haru. Terbayang usaha dan taktik para wali menyebar agama Islam ke seantero Indonesia. Mereka cerdas, kreatif, dan menerapkan nilai-nilai seperti toleransi dan tenggang rasa yang cuma numpang lewat di buku sekolah kita. 

image

I’ll be back, Cirebon. Wait me!

Akan segera kembali ke Cirebon untuk Jelajah Sejarah yang lainnya. Mumpung masih ada waktu, sepeti lagu Lir Ilir pada intro tulisan ini di atas. Ikut saya?

*Traveler note:

Recommended local guide: Pak Iman

Gunakan pakaian yang sopan karena tempat ini adalah salah satu peninggalan sejarah penyebaran Islam di Indonesia.

HAPPY SMART TRAVELING*!

*smart-traveling is doing travel with full responsibility for everything you do to nature, local people, culture, and yourself during the trip.

Leave a Reply