Menjelajah Alam, Budaya, dan Sejarah Jawa Timur

“Gemah ripah loh jinawi, tata tentram kerta raharja…,” yang artinya tentram dan makmur serta subur tanahnya, adalah kutipan salah satu pidato Soekarno yang terkenal tentang alam Indonesia. Entah kenapa kalimat ini menurut saya cocok untuk menggambarkan perjalanan saya dalam Explore Indonesia bersama Teh Kotak, majalah Panorama dan Get Lost juga sepeda Polygon Indonesia, akhir pekan lalu (15-17/8/2014).

Jawa Timur, tempat banyak peristiwa sejarah negeri ini dicetuskan, dan jangan ragukan lagi alam dan budaya yang terbentang di atasnya. Jawa Timur punya beragam pilihan destinasi wisata yang tidak kalah eksotisnya dengan wilayah bagian Jawa lainnya, bahkan pulau-pulau indah di seluruh Indonesia.

Tiga hari menjelajah kota-kota di provinsi ini jelas tidak cukup, tapi rombongan kami sangat beruntung bisa menikmati keindahan alam, sejarah dan budaya Jawa Timur dalam perjalanan singkat namun padat kegiatan dan tentunya pengalaman (juga dokumentasi!) yang bisa dibawa pulang dan dikenang.

Day 1: Serunya Rafting di Sungai Pekalen!

Hari pertama keberangkatan dari Bandara Soekarno Hatta, kami tiba di Bandara Juanda dan disambut matahari khas Surabaya yang hangat. Perjalanan kami lanjutkan langsung menuju destinasi pertama yaitu Probolinggo. Di perjalanan kami sempat mencicipi Rawon Nguling, salah satu resep rawon masakan khas nusantara yang sudah sangat terkenal di kota ini. Lidah orang Indonesia pasti cocok dengan daging empuk, tempe, dan perkedel yang garing apalagi minuman favorit seluruh peserta, Teh Kotak, sudah tersedia menemani santap pagi itu.

image

Foto: Arris Riehady

Semangat menggebu makin terasa saat tiba di lokasi dimana kami akan melakukan rafting, salah satu extreme outdoor activity di sungai Pekalen Atas, Probolinggo. Sungai sepanjang 12 km, dengan puluhan jeram, dan tujuh air terjun indah yang dimiliki Pulau Jawa adalah jelajah alam kami siang yang terik itu. Beautiful Waterfall adalah favorit saya!

image

Foto: Noars Rafting, Probolinggo

Setelah memakai pelampung, helm, dan membawa dayung masing-masing, kami dibawa menggunakan mobil bak menerjang jalanan menanjak yang berbatu, melewati rumah penduduk, hutan, dan kebun, dengan pemandangan pegunungan indah sebelum tiba di titik awal memulai rafting dengan perahu karet besar-besar yang sudah dijamin keamanannya. 

image

Foto: Noars Rafting, Probolinggo

Berbagai instruksi diberikan oleh guide, dan kami pun menghabiskan waktu hampir tiga jam menyusur sungai sambil bermain air dan berfoto bersama. Seru! Banyak spot keren untuk berfoto di sepanjang trek rafting Sungai Pekalen. Maka, jika rafting di sini jangan lupa tanyakan pada guide apakah boleh dan bisa menepi untuk berfoto. Seperti tips dari Barry Kusuma pada trip ini, bawa perangkat foto seperti kamera dan ponsel dalam dry bag dengan kualitas terbaik, karena kondisi air masuk ke perahu, bahkan perahu terbalik sangat memungkinkan terjadi selama rafting.

Puas bermain air, bergoyang di atas jeram, melompat, dan menikmati keindahan alam sekitar Sungai Pekalen, kami melanjutkan perjalanan dari Probolinggo ke Malang. Kami istirahat di Hotel Santika Premiere Malang yang nyaman untuk bersiap melanjutkan kegiatan esok pagi yang lebih seru lagi.

Day 2: Hi Malang, Enjoy Nature Love Nature!

Hari kedua kami disambut hangatnya matahari pagi Malang namun masih terasa angin semilir yang dingin khas kota Apel ini. Kami bergegas menuju Alun-alun Batu untuk bersepeda menikmati kota dingin yang rapih ini. Bersama sepeda Polygon, kami mengayuh pedal dengan semangat menuju Candi Songgoriti yang memiliki sejarah unik, yaitu mata air panas yang bisa menyembuhkan penyakit. Rombongan kami pun antusias mendengar penjelasan guide sambil terpukau akan salah satu situs yang sedang diajukan menjadi 7 keajaiban dunia ini.

image

Foto: Anton Chandra

image

Foto: Ananda Rasulia

Kami melanjutkan kegiatan setelah makan siang menuju area Coban Rondo dengan elf. Disinilah kegiatan favorit saya dari semua perjalanan bersama Teh Kotak dilakukan. Teh Kotak, brand minuman yang ramah lingkungan selalu menyelipkan kegiatan ‘untuk alam’ di setiap perjalanan ‘menikmati alam’ yang diselenggarakan. 

Seperti yang tertera pada T-shirt Teh Kotak, Enjoy Nature Love Nature, saya sangat setuju dengan apa yang Teh Kotak usung perkara menikmati alam tapi juga harus mencintainya. Alam sudah memberi kita banyak. Banyak sekali, bahkan sebelum dan tanpa kita minta dengan susah payah. Kita menggali, menebang, meneguk, memakan hasil alam, buah, daun, tanah, air, dan udara segar yang jarang kita pikirkan untuk memberi dan membalas kebaikan alam pada kita.

image

Foto: Ananda Rasulia

Menanam pohon di area Perhutani, Malang menjadi salah satu contoh dimana kegiatan menikmati alam sangat bisa sejalan dengan melestarikannya juga. Pohon yang kami tanam siang itu termasuk pohon yang bukan untuk keperluan produksi, sehingga bisa tumbuh sampai besar dan tua menjadi penyangga alam sekitarnya.

image

Keluarga Pak Anas yang selalu ikut serta di kegiatan Explore Indonesia! Foto: Ananda Rasulia

Sore itu ditutup dengan menikmati Air Terjun Coban Rondo yang terkenal di Malang. Air Terjun setinggi 84 meter ini sendiri berada pada ketingian 1.135 meter di atas permukaan laut, atau memang berada di dataran tinggi Jawa Timur, sehingga pemandangan menuju lokasi masuknya juga indah. 

image

Foto: Ananda Rasulia

Malam harinya, kami kembali dibawa terpukau dengan objek wisata di Malang, yaitu Museum Restoran bernama Inggil. Betapa terpananya saya pribadi, yang memang tertarik dengan budaya lokal di setiap destinasi traveling saya, melihat sebuah rumah tua peninggalan Belanda disulap menjadi tempat makan dan museum yang menyimpan catatan sejarah Indonesia, terutama Jawa Timur dari puluhan bahkan ratusan tahun silam.

imageimage

Foto: Ananda Rasulia

Ada area makan menyerupai tempat pagelaran wayang dilengkapi tempat dalang biasa beraksi. Ada ruangan yang terdapat diorama Bung Karno cs. untuk mengenang  Kongres Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) di Malang tahun 1947 silam, dan yang paling membuat saya terdiam lama adalah panggung besar di tengah-tengah ruang makan utama bertuliskan Inggil di atasnya, dimana ada penari Jawa melenggak lenggok di atasnya diiringi musik Jawa yang indah. Sayang, kami harus cepat pulang karena dini hari nanti harus bangun lebih pagi untuk sunrise hunting di Bromo.

Day 3: Sensai 17 Agustus di Bromo!

Benar saja, pukul 00.00 kami dibangunkan dan bergegas naik ke daerah Tumpang, pintu masuk Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, salah satu kekayaan alam Indonesia yang paling istimewa yang tersaji apik di tanah Jawa. Seperti dugaan kami, dinginnya udara Bromo masih menusuk sampai ke tulang, meski sudah dipenuhi entah berapa ratus orang yang ingin memperingati 17 Agustus di sana.

imageimage

Foto: Ananda Rasulia

Ya, di hari besar Republik Indonesia yang ke-69 ini, kami merasa berbangga hati bisa berdiri dalam haru biru dimana bendera merah putih dikibarkan beberapa pengunjung, juga lagu-lagu nasional yang dikumandangkan sambil menikmati matahari terbit di Penanjakan. 

imageimage

Foto: Ananda Rasulia

Setiap mata melihat ke puncak-puncak gunung di Bromo hari itu, ada bendera Merah Putih dikibarkan, seperti di puncak Gunung Batok, juga Kawah Bromo yang membuat saya merinding. Bromo dan gunung-gunung lainnya hari itu menjadi saksi bahwa Indonesia masih diberi umur panjang oleh Tuhan. Meski sampai setua ini banyak yang masih harus kita benahi, kita tetap harus bangga akan kekayaan alam dan budaya yang kita punya dan masih kokoh berdiri hingga saat ini.

image

Foto: David Rindo

Semoga bisa bertemu lagi di kesempatan berikutnya menjelajah alam dan budaya daerah lainnya di Indonesia! Terima kasih Teh Kotak, Majalah Panorama & Get Lost dan semua pihak yang mengadakan kegiatan ini. Semoga saya bisa terus ikut berpartisipasi 🙂

Traveler’s note:

Catatan menarik dan positif dari pejalan seperti saya adalah, objek wisata di Jawa Timur itu bersih dan rapih. Banyak tempat sampah, dan jarang terlihat sampah berserakan atau dibuang sembarangan oleh pengunjungnya. What a smart traveling*!

Read also:

Menikmati Manisnya Pulau Seram

Menjelajah Sisi Lain Yogyakarta

(Masih) Ada Haru di Ujung Barat Indonesia

Kepulauan Derawan: Serpihan Surga di Indonesia

Makin Dekat Dengan Alam di Ujung Kulon


*smart-traveling is doing travel with full responsibility for everything you do to nature, local people, culture, and yourself during the trip.

Leave a Reply