Kenalan dengan Paralayang di Indonesia

Menyelam ke dasar laut yang cantik, mendaki gunung yang indah, dan menikmati hangatnya pantai Indonesia yang ciamik, apa yang kurang? Sudah pernah terbang?

Yap, terbang! Pernah terbayang bisa terbang melayang di ketinggian dan memandangi semua benda di bawah kita tampak seperti miniatur? Jangan cuma dibayangkan! Mari kita coba berkenalan dengan salah satu outdoor activity yang bisa kita masukkan ke dalam daftar must try before die!

Tahukah bahwa kegiatan ini juga membutuhkan keahlian khusus, sekolah atau waktu belajar, bahkan izin terbang sama halnya dengan diving yang juga memerlukan lisensi? Maulana Kidangjati (23 tahun) yang sudah mencobanya akan berbagi cerita dan info soal kegiatan seru ini di Indonesia.

Bagaimana sejarah paralayang di Indonesia?

Tahun 1990 Paralayang muncul di Indonesia diawali dengan berdirinya Kelompok Terjun Gunung MERAPI di Jogja. Dua tahun setelahnya, komunitas penerbang paralayang bertambah banyak, namun alat yang ada masih sangat terbatas. Tercatat sampai dengan akhir tahun 1992 hanya ada lima buah parasut. Dengan semakin berkembangnya komunitas paralayang, dirasa perlu untuk mengorganisir diri guna meningkatkan teknik dan prosedur keselamatan dan dibentuklah PPI (Pusat Paralayang Indonesia).

Apa bedanya paralayang dan paragliding, dan apa artinya?

Paralayang atau paragliding punya arti yg sama, hanya saja dalam bahasa Inggris disebut paragliding, dalam bahasa Perancis disebut parapente. Awalnya di Indonesia olah raga ini disebut Terjun Gunung, karena memang dahulu lebih sering dilakukan ketika mendaki gunung, lalu turun dari gunung dengan cara terbang. Tapi agar tidak terkesan “menyeramkan” digantilah jadi paralayang, diambil dari kata parasut dan melayang.

Paralayang bisa dilakukan solo dan tandem, apa yang membuat kamu tertarik terbang solo?

Tahun 2012 lalu, awalnya aku diajak ke Jogja Air Show 2012 dimana semua olahraga dirgantara berkumpul dan berlomba, seperti paralayang, gantole, terjun payung, paramotor, microlight, dan lainnya. Tadinya hanya sekadar nonton, tapi ternyata aku sukses ‘diracuni’ dengan warna-warni puluhan parasut yang terbang melukis langit siang itu.

Lalu apa yang kamu lakukan?

Aku ikut kelas untuk latihan ground handling, latihan dasar dalam paralayang untuk melatih bagaimana caranya supaya parasut yang besar itu bisa ada diatas kepala kita dan menyeimbangkannya dengan kaki tetap di tanah, saat kita lari berbelok, parasut harus ikut belok dengan tetap melayang diatas kepala kita. Setelah dirasa cukup mampu menyeimbangkan parasut, selanjutnya kita mulai first jump dari tempat yang lebih tinggi.

Bagaimana dengan alat-alat pendukungnya?

Di kelas ini kita juga mulai belajar lebih familiar dengan alat-alat seperti radio HT untuk komunikasi, harness sebagai dudukan kita selama terbang, parasut cadangan dan parasut utama. 

Berapa lama mengikuti kelas sampai akhirnya mendapat izin terbang sendiri?

Semua tergantung masing-masing peserta dalam menerima pelajaran. Aku mengikuti kelas selama sekitar tiga bulan. Yang terpenting, sebelum terbang harus cek kelengkapan dan keamanan peralatan. Pada dasarnya tidak ada yang perlu disiapkan selain nyali, sisanya kita hanya berserah pada cuaca yang cerah agar mendapat angin yang smooth. 

Apa yang membuat kamu memilih terbang solo dibandingkan tandem?

Nah, jika punya parasut sendiri dan sudah mengikuti kelas, kita bisa bebas terbang kapan saja dan dimana saja. Saya bisa terbang di Puncak (Jawa Barat), Jogja (Pantai Parangtritis) atau di Bali dan daerah manapun di Indonesia yang memungkinkan untuk terbang. Gratis, dan tidak terbatas berapa kali mau bolak balik terbang dan mendarat. Kalau terbang tandem harus bayar biaya pilot pendamping, alat, dan lainnya sesuai spot terbangnya. Seperti di Puncak ini, dalam sehari saya bisa terbang sampai tujuh kali sehari jika cuacanya mendukung.

Bagaimana pengamatan kamu tentang dunia paralayang di Indonesia saat ini?

Dunia paralayang saat ini sedang berkembang sangat pesat, hal ini tercermin dari prestasi teman-teman pilot yang semakin baik, baik dalam kejuaraan lokal maupun internasional, disamping itu semakin banyak juga pilot-pilot baru yang lahir dari berbagai sekolah paralayang di seluruh Indonesia.

Terakhir, apa tips untuk para pemula yang ingin mencoba terbang pertama kali?

Untuk pemula banyak orang bilang olahraga paralayang itu berbahaya, berisiko, dan menakutkan. Padahal olahraga paralayang itu mudah untuk dilakukan asalkan kita paham bagaimana melakukannya dengan benar. Safety first, checking semua peralatan sebelum take off apakah sudah lengkap dan siap untuk digunakan. Pelajarilah ilmu meteorologi dengan baik saat di kelas, seperti membaca arah angin, kecepatan angin, dan lainnya. Dan yang terakhir mencoba banyak diskusi dan bertanya dengan pilot-pilot yang sudah berpengalaman.

Dimana kita bisa mengikuti kelas atau sekadar mencicipi terbang tandem?

Terdekat dari Jakarta mungkin di Puncak, di Bukit Gantole. Ada beberapa sekolah terbang di sana dan bisa langsung datang untuk mendaftar. Jika ingin terbang tandem di sana juga tersedia. Atau jika ingin merasakan sensasi terbang di atas laut bisa di Parangtritis Jogja.

Keep up your smart traveling*!

Foto: Aji Budi Laksana

Traveler’s note: Short Trip to The Sky

Tulisan ini sebenarnya sudah terbit di urbanesia.com November 2013, tapi karena sedang dalam perbaikan situs Urbanesia tidak bisa diakses, sedangkan banyak tulisan saya yang tertaut ke sana. Jadi, akan saya post ulang lagi pada travelmulu.com. Enjoy!

*smart-traveling is doing travel with full responsibility for everything you do to nature, local people, culture, and yourself during the trip.

Leave a Reply