Indonesia, Saya, dan Rasa.

image

Gemah ripah loh jinawi, tata tentram kerta raharja…,

[tentram dan makmur serta subur tanahnya…,]

Ini adalah kutipan dari salah satu pidato Soekarno kesukaan saya, dan Bapak Soekarno adalah tokoh favorit saya dari negeri yang kaya bernama Indonesia.

Hai, saya salah satu anak bangsa yang bangga sekali bisa lahir, tumbuh, dan hidup di tanah ini. Menghirup udaranya, menikmati airnya. Saya bahagia. Tidak pernah terbayangkan di benak saya untuk bisa terlahir kembali menjadi orang lain, di negara lain, menjadi besar dengan pemikiran yang lain pula. Saya senang beranjak dewasa dengan rasa ini, rasa cinta pada Indonesia.

Keluarga, sekolah, dan orang-orang sekitar banyak berperan membentuk saya sekarang. Kini, saya adalah seorang anak, sahabat, teman dekat, berprofesi sebagai penulis yang identik dengan hobi berkeliling negeri. Hampir setiap bulan saya bepergian, bahkan, setiap akhir pekan bisa jadi waktu terbaik untuk ‘melarikan diri’ sejenak menikmati tempat yang dekat tapi selalu bisa memberi cerita sebelum kembali bertemu Senin dan hari kerja. Itulah saya.

Cinta pada Indonesia semakin saya rasakan dengan semakin seringnya saya berjalan. Melihat tempat-tempat yang belum pernah saya sambangi. Membuktikan sendiri kebenaran kata-kata Bapak Soekarno pada pidatonya itu. Indonesia memang benar-benar kaya.

image

Mungkin ada pemandangan lain yang lebih indah dari yang Indonesia punya, mungkin juga ada gunung, hutan, sungai, dan lautan yang lebih luas di belahan Bumi lainnya. Tapi saya yakin, ada satu hal yang akan membuat saya selalu ingin ‘pulang’ ke tanah air ini. Rasa.

Indonesia punya beragam cita rasa yang tertuang dalam aneka makanan dan minuman tradisional yang tersebar ke seluruh penjuru daerah, dari Sabang sampai Merauke. Lidah, adalah salah satu panca indera yang menjadi ujung tombak kita mencintai negeri ini. Jika mata dan pendengaran bisa dikalahkan dengan visual dan ambience di negeri lain, coba adu dengan rasa khas yang masakan Indonesia punya.

Saya terlahir dengan darah campuran dari Timur dan Barat Jawa. Kakek nenek dari Ayah, berasal dari Tumpang, Jawa Timur, dan Ibu dari Cirebon, Jawa Barat. Dua kota yang makanannya tidak ada yang tidak enak. 

Menyusuri darat dan pesisir Jawa, sudah saya lakoni dari kecil. Semua rasa masakan yang sedap itu, adalah candu paling tidak setahun sekali jadi asupan di meja makan saat Hari raya. Saya dan keluarga sudah hapal betul rasanya, baik dibuat oleh para Ibu dalam keluarga dengan resep turun menurun, maupun saat ziarah pulang kampung dan makan langsung di kotanya. Itu warisan rasa, tidak ternilai harganya bagi saya dan keluarga.

Tumbuh dewasa, saya berani bertandang ke pulau seberang. Bali, Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera. Sama. Rasa itu makin kaya menjadi catatan di hati, pikiran, dan tentunya wadah-wadah saya berbagi dan bercerita, baik lisan maupun tulisan seperti ini. 

image

Konro bakar, Sop konro, Palubasa, Coto Makassar. Siapa yang berani menolaknya? Makanan-makanan berbahan utama daging ini bisa begitu mantap terasa di lidah, disajikan dalam porsi besar maupun ‘pas’ untuk makan siang maupun malam, semua rasanya enak luar biasa. Tampilan tidak selalu jadi pertimbangan saya untuk mencicipi kuliner di suatu daerah, tapi kayu manis, cengkeh, ketumbar, kluwak, bawang merah dan bawang putih tidak pernah bohong meski tidak pernah banyak bicara. Mereka melebur menjadi rempah yang memperkaya rasa masakan asli dari kota yang dulunya bernama Ujung Pandang ini.

image

Bahkan ketika saya menyebrang ke salah satu pulau perawan di Selat Makassar, bernama Samalona, saya tidak menemui makanan yang mewah tapi malah terbilang sangat ‘rumah’ dan ‘sederhana’. Warganya yang ramah menyajikan makan siang ikan bakar, tumis sayuran, dan sambal ulek segar yang juga didalamnya dicampur aneka bumbu dan rempah yang menjadikan makan siang biasa jadi istimewa.

Saya pun terbang makin jauh ke Barat Indonesia. Menyambangi Aceh, di ujung Barat negeri ini dan mencapai Nol Kilometer di Sabang. Betapa saya merasa semakin beruntung terlahir di negeri yang membentang di atasnya pegunungan dan perairan yang indah. Saya penggila makanan Aceh sudah dari kecil di Jakarta. Entah, mungkin mendatanginya kali ini sukses menjadi pelengkap rasa cinta saya pada Indonesia.

image

Mie Aceh adalah hal paling fatal untuk dilewatkan saat pergi ke kota dengan sebutan Serambi Mekah ini. Cicipi nikmatnya menyantap mie goreng, mie rebus, atau mie tumis yang sedap, dengan pilihan isi daging atau seafood sesuai selera. Pantas saja rasanya menggugah perut dan lidah, bumbu halus didalamnya adalah kuatnya rasa bawang merah, bawang putih, kari bubuk, merica, dan kunyit yang dibakar. Semua berkumpul menjadi penyedap sekaligus membuat penikmatnya kecanduan. Begitu juga dengan Ayam tangkap. Menu unik dengan rasa yang tidak bisa saya lupakan bahkan langsung terasa begitu membayangkannya.

image

Rasa ini yang membawa saya pulang.

Kemanapun saya pergi, bahkan ketika saya tidak kemana-mana. Rasa ini yang mendekatkan saya dengan Indonesia. Ketika saya di Kalimantan, saya menyerap ke dalam memori beragam rasa baru, dan kembali rindu dengan rasa yang lain di Sumatera. Tapi saya tetap orang Jawa yang selalu paling merasa cocok dengan rasa masakannya, kemanapun saya berpindah.

Begitulah cara saya mencintai negeri ini lewat apa yang saya suka. Jangan sampai saat saya menjalankan hobi tidak menyerap apa-apa untuk otak dan terutama, hati saya. Itulah pikiran saya saat kembali terus tertantang menjelajah negeri ini. Masih banyak rasa yang saya ingin coba, dan pahami. Untuk kemudian saya bagi, untuk bercerita, atau saya simpan sendiri dan meningkatkan rasa nasionalisme saya.

Ya, nasionalisme tidak seberat itu.

Berjuang berperang seperti pahlawan jaman dulu, itu bukan jaman kita. Selamatkan diri sendiri dulu dari pikiran negatif tentang negeri sendiri, kemudian kita bisa merasakan sendiri bagaimana kita sudah membela dan makin cinta dengan Indonesia.

Gemah rempah mahakarya Indonesia. Ini adalah kekayaan rasa yang Indonesia punya. Tertuang dalam ribuan pilihan kuliner yang tersebar di setiap daerah yang bisa kita pilih kapanpun untuk menyambanginya. Sempatkan, tidak mesti jauh, tidak mesti terlalu banyak rencana. Tapi yang jelas, kita harus segera memulainya. Indonesia menunggu kita. 

Selamat menjelajah. Happy smart traveling*!

image

[all photos taken by me]

*smart-traveling is doing travel with full responsibility for everything you do to nature, local people, culture, and yourself during the trip.

Leave a Reply