Karena Kita Semua Butuh Pulang

image

Apa yang paling kamu ingat tentang Indonesia? Apa yang paling kamu inginkan untuk pulang? Jika kamu bisa cepat menjawabnya, kamu masih orang Indonesia.

Tapi, jadi orang Indonesia saja tidak cukup.

Kalau ditanya sejak kapan peduli dengan tanah air Indonesia? Saya akan malu sekali menjawabnya. Saya tidak ingat kapan, tapi sepertinya setengah dari umur saya pun tidak.

Ironisnya, mungkin jawabannya adalah saat saya jatuh cinta dengan traveling dan mulai sering melihat banyak tempat, makhluk, budaya, dan kerusakan di Indonesia.

Banyak yang datang menikmati indahnya Indonesia dengan lahap, meninggalkan jejak, mengambil gambar, menancap tenda, menggali tanah, mengambil air, berteriak, membuat kegaduhan, alam kesakitan, tapi dia masih bisa bilang tidak apa.

Tapi dengan lirih, jika kamu mendengar, dia berbisik lewat rumput dan ranting-ranting tua, tolong jangan pulang dengan meninggalkan sampah. Bekas kemasan yang tidak sanggup ditelan tanah yang sudah terinjak-injak, dan kesakitan bahkan tidak bisa ditumbuhi pohon lagi.

Alam tidak butuh banyak dari kita. Sedikit belas kasihan dari kita, perusaknya, sedikit saja pintanya. Tapi dia tidak bisa bicara pelan. Alam punya bahasa sendiri lewat bencana. Lalu kita kembali membencinya sampai beberapa tersadar kalau dia sedang marah dan mulai meminta maaf lalu berjanji berubah sikap.

Maka, semua tempat sama saja, harusnya kita tidak merusaknya.

Karena kita bisa dengan mudah mengambil banyak hal gratis dari alam, dan alam tidak pernah minta lebih dibanding apa yang kita gali dalam-dalam dari mereka.

Lalu kenapa kita tidak bisa mencintai tanah air yang sudah memberi kita banyak ini?

Mungkin karena kita tidak betul-betul mengenalnya.

Jika kamu bisa menjawab pertanyaan dengan cepat, apa yang kamu cintai dari Indonesia, kamu memang ‘masih’ orang Indonesia. Tapi kenapa kamu tidak melakukan tindakan untuk membelanya? Melestarikannya? Menjaganya agar tetap ada?

image

Saya juga baru memulainya.

Saya mencintai Indonesia dengan apa yang saya suka.

Saya bukan tipikal pejalan yang masuk golongan pecinta alam, saya penikmat alam. Saya naik ke gunung, main ke laut, minum air sungai, menangis di bawah curug, dan tersesat di hutan. Saya pergi ke desa, melihat apa yang penduduk lakukan yang kemudian hari disebut budaya. Saya juga suka menikmati kota, tempat bagus nan mewah, melihat warga negara lain atau biasa disebut turis asing, terpukau dengan apa yang kita punya.

Saya suka sekali makanan lezat seperti Konro dan Palbas di Makassar dan cemilan gurih seperti Emping dan Kerupuk Kulit Kerbau dari Cirebon. Saya masih menelusur puluhan bahkan mungkin, ratusan curug dan goa cantik di bawah tanah Bogor, Jawa Barat dan sekitarnya. Saya pun selalu bangga dengan saat mengobrol dan mendengar logat dan ramahnya orang Surabaya dan sikap dan tradisi kuat masyarakat dan Keraton Yogya dan Surakarta yang kini bernama Solo. Saya bermimpi bisa sampai di Desa Wae Rebo Flores, naik puncak Rinjani dan menyapa dari dekat Komodo yang disebut-sebut Naga oleh orang asing. Betapa bangganya saya sudah berdiri di Nol Kilometer negeri ini saat bertamu haru ke Serambi Mekkah, Aceh. Jangan tanya lagi soal mimpi menyelam di Raja Ampat, meski gletser di Puncak Jaya makin mengkhawatirkan saya dan siapapun yang tahu kondisinya sekarang.

 image

Sadarkah kamu bahwa kita bisa mendapati semua hal di negeri belasan ribu pulau ini dengan mudah? Andalas, Java, Borneo, Celebes, Moluccas, Papua. KAYA. Ya, Indonesia Kaya.

Mungkin kita lupa, bagaimana orang-orang terdahulu mati-matian membela kekayaan alam kita, salah satunya adalah rempah-rempah yang direbutkan banyak pihak asing di luar sana? Kekayaan yang menjadikan Indonesia dilirik Negara dari belahan dunia lain yang kemudian menjajah kita.

Dulu Indonesia mungkin hanya dianggap Negara yang terdiri dari pulau-pulau kecil, yang mengapung di antara Samudra Hindia dan Pasifik sebelum akhirnya menjadi sorotan karena rempah-rempah. Ya, Gemah Rempah Mahakarya Indonesia. Itu sangat istimewa, bukan?

Bayangkan, apa yang dilakukan para pahlawan yang cinta dengan negeri ini, mempertahankan kekayaan yang dipunya, hingga sejarahnya kini bisa sangat apik dikenang sampai akhir zaman nanti. Mereka tentunya sangat mencintai apa yang Indonesia punya, karena bahkan, mereka rela mengorbankan nyawa mereka.

Bandingkan dengan kita kini. Kita semua tahu Indonesia semakin kaya dengan apa yang kita bisa lihat di depan mata kita, sehari-hari. Bahasa, budaya, kekayaan alam, lingkungan, pemikiran, ah! Kita punya semua.

Tapi apa yang kita sudah lakukan untuk menjaganya? Kita ikut menikmatinya, membangga-banggakannya, tapi tidak berbuat apa-apa.

image

Saya bergerak di jalan yang saya suka: traveling. Maka saya melihat habit, melihat attitude, dari para traveler muda, yang harusnya bisa jadi penerus bangsa, membela dan melestarikan kekayaan Indonesia.

Traveling yang mahal itu akomodasinya. Tiket, konsumsi, oleh-oleh, bayar masuk tempat wisata.Tapi apa yang kita dapat dari dalamnya semua gratis. Udara segar, matahari terbit dan tenggelam, teduh pohon-pohon, jernihnya air terjun, indahnya terumbu karang, ikan-ikan lucu menyapa, puncak gunung yang membawa haru dan kebanggaan. Semua diberikan alam untuk kita, penikmatnya, cuma-cuma.

Maka sayang jika itu hanya bisa kita nikmati sekarang. Jika tidak ada lagi di masa depan, di saat anak cucu kita baru punya kesempatan berkunjung ke dunia ini. Lalu, kemana mereka akan pulang nantinya? Jika alam dan lingkungan ini tidak dijaga dari sekarang, di masa depan tidak ada lagi alam, lingkungan, Indonesia?

image

Melakukan perjalanan kemanapun, saya selalu teringat pulang, rindu rumah, atau biasa disebut homesick. Rumah saya yang sederhana, teduh, dan bersih, karena Ibu saya merawat dan menjaga kebersihannya hingga kami yang tinggal di dalamnya merasa nyaman dan selalu rindu pulang.

Indonesia adalah rumah kita.

Lalu, siapa yang bertanggung jawab menjaganya?

Aksi kecil terdekat dan termudah yang bisa dilakukan memang harus dimulai dari diri sendiri dulu. Apakah itu berpengaruh untuk perubahan besar? Pasti.

Tidak ada kata terlambat untuk kebaikan.

Jika masih mau menikmati alam, hidup dalam lingkungan, menjadi bagian dari usia Bumi yang semakin tua ini, mari bergerak melakukan sesuatu. Mulai dari menjaga kebersihan, ajak orang sekitar menjaga kebersihan, ajak lebih banyak lagi orang menjaga kebersihan.

Semudah membuang sampah pada tempatnya, membawa kembali kemasan dengan bahan yang tidak bisa diurai lingkungan, menghormati peraturan yang dibuat penjaga laut, hutan, gunung, danau, dan semua tempat yang kita tidak punya hak sedikitpun untuk merusaknya.

 image

Karena kita semua butuh pulang.

Ke rumah yang kita bangga-banggakan di mata dunia. Rumah yang di atasnya sudah kita tanami bibit-bibit kehidupan dan kita petik hasilnya dari lahir sampai sekarang. Rumah yang tanah dan airnya tidak henti-henti kita ambil dan ambil dan terus ambil sampai tidak tahu kapan. Rumah tempat kita semua kembali pulang dari apapun jenis perjalanan.

Saya masih mau pulang, ke tanah air ini.

Saya masih mau terus merindu jika suatu saat meninggalkannya ke negeri lain di luar sana. Saya masih mau mengajak anak cucu menikmatinya bukan hanya cerita dari gambar tidak bergerak atau rekaman bersuara dalam perangkat produk teknologi.

Saya mau menjaga rumah tempat pulang kita semua.

Kamu, juga kan?

Do your smart traveling*. It means a lot for Indonesia.

*smart-traveling is doing travel with full responsibility for everything you do to nature, local people, culture, and yourself during the trip.

[All photos taken by me]

Leave a Reply