Kepulauan Derawan: Beach Cleanup for Care

image

Alam tidak meminta banyak dari kita yang sudah lama menggalinya. Peduli, dan lakukan sesuatu untuk membalas kebaikannya.

Berkesempatan mengikuti perjalanan bersama Teh Kotak dalam kegiatan Untuk Alam, selalu menjadi penghargaan tersendiri untuk hati dan sikap pribadi saya sebagai pejalan.

Turun ke alam, berarti menikmati segarnya udara, hangatnya cahaya matahari, dinginnya air laut dan semua pemandangan indah dari hewan dan tumbuhan adalah kegiatan rutin yang harusnya manusia lakukan agar tetap menjadi manusia. Saya pun setuju sekali dengan perumpamaan, ‘nature makes human, human’. Karena dengan kembali ke alam, kita akan selalu sadar, ada makhluk hidup lain yang tinggal berdampingan dengan kita di Bumi ini.

Begitu juga kali ini, Teh Kotak ikut mengajak para peserta perjalanan Explore Indonesia ke Derawan untuk tetap melakukan (meskipun)hal kecil dan sederhana, yang ditujukan untuk alam yang telah memberi kita lebih dari yang kita minta.

image

Foto: Ananda Rasulia 

Pada hari pertama tiba di Pulau Derawan (2,5 jam pesawat dari Jakarta dan 3 jam speed boat dari Tarakan, Kalimantan Utara), kami melihat-lihat pulau di Kalimantan Timur yang sudah cukup padat dihuni oleh 600 Kepala Keluarga ini.

image

Foto: Ananda Rasulia 

Pulau yang masih sangat terasa kekeluargaan antar warganya ini menjaga betul keramahan terhadap pengunjung yang siap menjawab setiap pertanyaan kami. Mereka dengan hangat memberi panduan menikmati Objek wisata Kepulauan Derawan yang kini menjadi mata pencaharian baru bagi mereka, sekitar setelah tahun 2008 para turis berdatangan karena ada PON (Pekan Olahraga Nasional) di Kalimantan.

imageimageimageimageimage

Foto: Ananda Rasulia 

Sore harinya kami melakukan Beach Cleanup di salah satu sisi pantai Pulau Derawan yang masih sangat asri dan tenang. Tidak banyak orang datang ke pantai yang syahdu untuk berjalan kaki ini. Ternyata pantai ini adalah sisi pulau Derawan untuk menikmati matahari terbit, dan masih ada penyu yang bertelur di pasir pantainya di malam hari.

imageimage

Kami mengumpulkan sampah, yang walaupun belum terlihat banyak, tapi tetap saja masih bisa kami temukan limbah non organik yang tidak bisa diserap alam, melainkan akan merusak lingkungan di sekitarnya. Masih ada saja orang yang membuang bungkus makanan atau minuman, botol plastik, dan sampah ringan lainnya yang seharusnya bisa dibawa pulang atau dibuang ke tempat yang seharusnya.

Alam butuh kita untuk peduli. Meski sedikit, meski sederhana. Jika semua berpikir sama, alam akan berterima kasih kembali pada kita.

image

Foto: Ananda Rasulia 

Traveler’s note: Tulisan ini dibuat setelah saya mengikuti perjalanan Explore Indonesia ke Derawan 11-14 Desember 2014 dan terbagi menjadi empat bagian tulisan. Happy smart traveling*!

Read also:

Kepulauan Derawan: Serpihan Surga di Indonesia

Kepulauan Derawan: 5 Kejutan di Pulau Kakaban!

Kepulauan Derawan: Seperti Mimpi di Sangalaki

Menjelajah Sisi Lain Yogyakarta

(Masih) Ada Haru di Ujung Barat Indonesia

Makin Dekat Dengan Alam di Ujung Kulon

Menjelajah Alam Budaya Jawa Timur

*smart-traveling is doing travel with full responsibility for everything you do to nature, local people, culture, and yourself during the trip.

Leave a Reply