(Masih) Ada Haru di Ujung Barat Indonesia

image

Peristiwa itu sudah lewat 10 tahun silam, tapi masih menyisakan guratan pilu di wajah-wajah penceritanya. Lalu lihat kota dan pulau mereka sekarang, berkembang pesat dan mengundang hati yang terpanggil ke ujung barat Indonesia.

Jakarta, 5 Maret 2015

Sebuah kesempatan mengintip indahnya Indonesia kembali saya dapatkan, dan tentu saja tidak akan saya lewatkan. Aceh dan Sabang. Aceh, kota yang namanya identik dengan tiga hal: Tsunami, Aturan Islam yang ketat, dan Kuliner yang menggiurkan (dengan bumbu daun ‘terlarang’) juga Kopi Aceh dan Gayo yang terkenal. Sabang dan Pulau Weh identik dengan pantai santai, bawah laut yang diincar para penyelam bahkan dari mancanegara, dan titik Nol Kilometer di Barat Indonesia yang menjadikannya inspirasi lagu nasional dari Sabang sampai Merauke karya R.Suharjo.

Lebih tepatnya, saya kembali terpanggil ke sana. Setelah tepat Maret 2014 saya sudah menyambangi Banda Aceh dan Sabang untuk kali pertama. Dengan biaya sendiri. Dengan mimpi yang sudah tertanam di benak sendiri. Ya, Aceh adalah salah satu must place to go before die versi saya, entah kenapa.

Saya mencari haru di Aceh saat itu. Ketika semua orang mungkin tidak berpikir ke sana sebagai destinasi traveling mereka. Saya ingin menemukan sesuatu di batin saya, lebih besar dari keinginan menemukan panorama yang memanjakan mata seperti yang saya incar di destinasi pada umumnya.

Ya, Aceh menjawabnya.

Cerita tentang Tsunami yang membuat saya bergidik, karena teman dan orang asli Aceh masih berkaca-kaca saat menceritakannya. Aturan Islam yang dijunjung tinggi di sana, dan cerita pulau Rubiah yang dulu adalah tempat berangkat pergi haji berbulan-bulan dari Indonesia. Ditambah lagi rasa bangga saya tiap mendengar  cerita para pahlawan perempuan Aceh yang gagah, berdiri sama berani dengan prianya. Saya mendapati haru di Aceh tahun lalu.

Tahun ini?

Banda Aceh, 5 Maret 2015

Perjalanan udara menuju Aceh bukan sekadar flight singkat biasa. Bagi saya, rasa jauh-dari-rumah-nya benar-benar terasa. Hampir tiga jam saya dan rombongan mengudara ke arah Barat dari pulau Jawa, sampai akhirnya mendarat di Bandar Udara Internasional Sultan Iskandar Muda yang dikelilingi bukit Barisan yang membatasi Aceh dan kota-kota di pulau Sumatera lainnya.

Panas menyengat kulit saat berhadapan langsung dengan matahari dan udara Banda Aceh yang kering. Tidak ada angin, awan putih yang memayungi kota ini pun rasanya tidak meneduhkan. Mungkin peserta lain di rombongan perjalanan ini masih ragu dan berpikir, “untuk apa saya ke Aceh?”.

image

View dari atas pesawat sebelum mendarat. Foto: Ananda Rasulia

image

Bandar Udara Sultan Iskandar Muda. Foto: Anton Chandra (GetLost Magazine)

Saya berangkat dalam trip dengan total rombongan 28 peserta yang digelar Majalah GetLost Indonesia dari Panorama Group dan didukung Teh Kotak. Beberapa dari mereka sempat bertanya pada saya perkara outfit selama di Aceh, khususnya bagi perempuan. Sekali lagi mungkin peserta, atau siapapun masih bertanya, ada apa di Aceh sampai harus jauh-jauh mengunjunginya?

image

Suasana makan ayam tangkap HASSAN. Foto: Anton Chandra (GetLost Magazine)

image

Ayam tangkap Aceh Rayeuk yang pernah saya nikmati tahun lalu, dan pada trip ini kami mencicipinya pada hari ke-3. Foto: Ananda Rasulia

Kuliner Ayam Tangkap menjawab cepat, paling tidak, perut yang sudah kelaparan selama perjalanan panjang. Makanan khas Aceh ini memang mudah membuat penikmatnya jatuh cinta. Kali ini Warung Nasi Hassan jadi pilihan. Rupanya Pak Hassan sukses membuka beberapa cabang untuk menyajikan menu ayam goreng yang di’tangkap’ tumpukan daun garing bernama Temurui (atau daun Kare) garing ke para pelancong yang kian ramai datang ke Aceh.

“Yang datang ke Aceh dan makan di sini biasanya orang Jakarta, orang Malaysia, dan dari kota-kota lainnya seperti Medan,” ujar pemilik warung ini bercerita seputar bisnisnya. Cerita ini kemudian didukung info dari guide yang memandu mobil-mobil mini bus yang memboyong kami berkeliling Banda Aceh siang itu.

image

Makam Massal Siron 2014. Tidak banyak berubah saat kami datangi kemarin. Foto: Ananda Rasulia

Sambil mengenalkan objek-objek yang kami lewati, seperti Makam Massal Siron yang dibawahnya terkubur lebih dari 46.000 korban Tsunami, sang guide lokal ini berusaha menyampaikan bagaimana Aceh berdiri lagi setelah bencana alam pada tahun 2004 itu meluluh lantahkan kota mereka. “Selama sepuluh tahun ini Aceh terus berkembang, yang dulunya orang tidak terpikir mengunjungi Aceh, hanya lewat saja untuk ke Pulau Weh, sekarang semua orang jadi mau tahu sejarah Aceh setelah Tsunami,” paparnya panjang lebar dengan logat Melayu yang kental, karena mengaku sering mendapat tamu dari Negeri Jiran.

image

Museum Tsunami dari atas diambil dengan drone. Foto: Anton Chandra (GetLost Magazine)

image

Museum Tsunami bagian dalam. Foto: Hartadi (kopertraveler.blogspot.com)

Museum Tsunami yang berlokasi di tengah kota pun menjadi tujuan kami selanjutnya. Tempat dimana pengunjung bisa sedikit membayangkan apa yang dirasa warga Aceh saat Tsunami datang. Bangunan megah yang didominasi warna abu-abu ini adalah karya anak bangsa, Pak Ridwan Kamil, Walikota Bandung, salah satu arsitek handal yang dimiilki Indonesia.

Bukan hanya bisa dirasakan mata, museum ini mengajak pengunjungnya ikut bergejolak di tengah ketakutan warga Aceh saat Tsunami menggulung kota tempat tinggal mereka. Ada Lorong Tsunami yang gelap, terdapat percikan air, dan suara orang mengaji yang menciptakan atmosfer berada di dalam gulungan ombak sampai akhirnya hanya bisa mengingat kematian. Ada Sumur Doa, dimana terukir nama-nama korban Tsunami yang ditemukan, dan di puncak sumur terlihat tulisan Allah yang kembali mengingatkan kita pada sang Pencipta. Pada museum ini juga banyak terdapat simbol-simbol negara yang membantu Aceh pasca Tsunami, membuktikan bahwa rasa kemanusiaan masih ada antar bangsa di dunia.

Beberapa peserta terlihat berkaca-kaca keluar dari museum ini. Saya pun tahu, beberapa teman Aceh saya menceritakan tidak mudah warga Aceh bisa lupa dengan Tsunami, dan bisa merasa biasa-biasa saja memasuki museum penuh kenangan ini. Maka saya menghargai betul rasa yang ingin disampaikan oleh museum ini pada para pengunjung dari luar kota Banda Aceh.

Aceh berkembang, Aceh makin kuat sekarang. Saya tersenyum haru. Ini baru Indonesia. Negara kuat meski hampir habis ditempa.

Sabang, Pulau Weh 7 Maret 2015

Destinasi saya dan rombongan selanjutnya adalah explore Pulau Weh. Jika bingung penyebutan Sabang atau Pulau Weh, sebenarnya Sabang adalah nama kotanya, yang terdapat di pulau bernama Weh, yang harus ditempuh menyebrang laut selama 45 menit dari Aceh.

image

Pelabuhan Balohan, Sabang. Foto: Ananda Rasulia

Pulau ini masih sama seperti saat saya datangi tahun lalu. Semua tampak seharafiah singkatan yang orang lokal buat, Sabang: Santai Banget. Tidak ada lampu merah, tidak ada macet, hewan-hewan seperti sapi dan monyet liar masih lewat di jalan raya, dan view pegunungan dan laut sukses memanjakan mata.

image

Freddies Bungalow Santai Sumur Tiga. Foto: Ananda Rasulia

Freddies Bungalow, Pantai Santai Sumur Tiga adalah salah satu penginapan eco-friendly yang jadi rekomendasi saat ke Sabang. Saya sudah mencobanya tahun lalu, yang bisa dilihat reviewnya di sini. Freddies berkembang cukup pesat dengan penambahan area restoran dan beberapa kamar. Benar saja, Sabang kian ramai dikunjungi orang terlihat dari pengembangan infrastruktur dimana-mana. Kali ini saya beruntung mencicipi penginapan eco friendly lainnya (yang makin menjamur) masih di area yang sama, bernama Casanemo.

image
image
image

Penginapan Casanemo. Foto: Ananda Rasulia

Hari pertama di Sabang kami tutup dengan menikmati sunset di Sabang Hill. Keindahan Indonesia sukses terpapar di depan mata. meski lelah, para peserta mungkin mulai memahami, ada hal berharga yang mereka perlahan temui di sini.

image

Menangkap sunset dengan kamera di Sabang Hill. Foto: Ananda Rasulia

image

Wajah-wajah lelah peserta tapi tetap semangat! Foto: Anton Chandra (GetLost Magazine)

Sabang, Pulau Weh 6 Maret 2015

Kami terbangun hari ini di Pantai Santai Sumur Tiga, area terbaik menikmati sunrise di Sabang. Tipikal pantai berombak dengan view laut lepas, dan di tepinya ditumbuhi pohon-pohon kelapa yang tinggi menjulang. Masih indah, masih menggugah rasa WAH saya berkunjung ke sini seperti tahun lalu. Rupanya saya sependapat dengan teman baru yang ikut pada trip ini. Kali pertama menyambangi Pulau Weh, Jamal Ramadhan atau akrab disapa Rama pun merasa tidak kecewa.

image
image

View sepanjang Pantai sumur Tiga (atas Freddies Bungalow, bawah Casanemo) Foto: Ananda Rasulia

“Menurut saya destinasi ke Aceh dan Sabang itu nggak biasa. Makanya saya mau tahu, ada apa di ujung Barat Indonesia. Setelah perjalanan cukup panjang kemarin, saya tidak kecewa. Saya jadi makin penasaran dengan destinasi lainnya di Indonesia yang belum banyak dikunjungi orang,” komen Rama, pejalan yang bisa diikuti kisahnya di etaporama.com.

Saya terus mengamati sudut kota dan pulau indah ini. Membandingkannya dengan satu tahun lalu saya berdiri di tempat yang sama. Pelabuhan Balohan Sabang memang tidak banyak berubah, tapi air jernihnya dulu, kini mengeruh. Begitu juga dengan suasana dari pantai ke pantai yang kami jelajahi seharian. Pantai Kasih yang sepi dan berpasir putih memang indah, tapi saya masih melihat tumpukan sampah seperti tidak terawat. 

image

Pantai Kasih. Foto: Ananda Rasulia

image

Saya dan Teh Kotak 🙂 Foto: Jamal Ramadhan (etaporama.com)

Kami juga singgah ke danau bernama Aneuk Laot yang jika dari atas kota Sabang terlihat ke arah bawah dikelilingi pepohonan dan bukit yang indah. Danau ini merupakan sumber mata air bagi warga Sabang. Sebenarnya ini bisa jadi objek wisata yang cantik, namun masih kurang atraksi yang lebih menarik.

image

View pulau Klah. Foto: Ananda Rasulia

Kami tiba di sebuah puncak dimana bisa melihat Pulau Klah yang mengapung di laut biru yang tenang. Semua bergantian berfoto dengan background indah itu. Saya memilih menikmati buah kelapa segar yang dicampur sirup pada sebuah warung kecil. Banyak objek yang tidak masuk itinerary saya tahun lalu ke Sabang. Sambil terus mengawang, bagaimana kondisi pariwisata, dan tentunya alam pulau ini yang makin ramai dikunjungi.

Mengobrol dengan orang lokal adalah bagian penting dari traveling. Mengenal kultur dan cerita asli yang mendukung penglihatan, pendengaran, penciuman dan rasa yang kita tangkap selama berada di sebuah tempat baru. Bang Arie Yamani adalah koordinator guide lokal rombongan kami di Sabang. Beliau mengelola travel ke Pulau Weh yang bisa diintip pada halaman Facebook Ayo Ke Pulau Weh.

“Pariwisata Pulau Weh memang terus meningkat. Banyak yang ingin datang menikmati pantai, melihat bawah laut, dan mengeksplor semua objek di Pulau Weh. Hanya saja memang harus sejalan dengan pelestarian alamnya. Jangan sampai malah makin rusak. Kami selaku guide selalu mengingatkan, terutama turis lokal, yang seringnya tidak sepeduli turis asing terhadap lingkungan dan alam,” jelas Bang Arie.

Itu dia. Pariwisata memang seperti dua sisi koin yang berbeda. Di satu sisi, kita ingin mengembangkan potensi lingkungan dan menjadikan banyak orang datang untuk menikmatinya. Tapi di sisi lain, ada pengrusakan alam dan lingkungan karena banyaknya manusia yang datang. Manusia yang belum tentu memiliki pemikiran dan kepedulian yang sama terhadap sekitarnya.

image
image

Rubiah’s snorkeling time! Foto: Jamal Ramadhan (etaporama.com)

Jelajah Pulau Weh berujung di Pantai Iboih. Kami bersiap turun untuk snorkeling. Tahun ini sangat berbeda dengan tahun lalu. Iboih dibangun sana-sini, rasanya juga lapak pedagang makin ramai dan banyak pilihan. Bukan hanya rombongan kami yang datang hari itu, dan setiap harinya. Jelas saja, explore bawah air Iboih dan menyebrang ke Pulau Rubiah adalah salah satu daya tarik utama pulau ini.

Kali ini saya tidak turun ke air. Saya cukup menikmati kapal kayu yang terdapat area kaca untuk melihat ke bawah lautnya. Seingat saya tahun lalu bawah air Rubiah sangat cantik meski agak keruh karena habis hujan. Banyak ikan warna-warni, yang dari pantai Rubiah saja sudah bisa dinikmati. Ada juga coral batik yang bisa dijangkau dengan perahu ke area agak tengah antar Iboih dan Rubiah jika memilih paket snorkeling seharian.

Saya kembali mencari narasumber yang bisa bercerita soal sejarah, dan bagaimana kondisi area ini sekarang. Beruntung saya berkenalan dengan Pak Wahid, warga lokal yang ternyata cucu dari pemilik tanah pulau Rubiah. Cerita bapak yang nampak sudah menjadi kakek tapi masih segar dan semangat berbagi ini sangat seru. Dari sejarah Pulau Rubiah, keberangkatan haji dari pulau ini, sampai persiapan kedatangan Presiden Jokowi yang rupanya akan singgah bulan Maret ini di Sabang.

image

Airnya masih jernih. Foto: Ananda Rasulia

“Dulu Pulau Rubiah dan Iboih itu jadi satu, lalu terpisah karena kakek saya tidak suka nenek saya, yang bernama Rubiah, memelihara anjing. Mereka juga dimakamkan di Pulau itu, tapi beda jarak. Pulau itu juga sekarang sebagian milik pemerintah, tapi sebagian besar masih punya keluarga,” ujar pemilik nama lengkap T.A Wahid Silang itu.

Bagian cerita paling seru menurut saya adalah, saat pulau Rubiah menjadi area karantina untuk para jamaah haji Indonesia sebelum diberangkatkan dengan kapal selama lebih dari tiga bulan ke Mekah. Bayangkan, bagaimana orang dulu harus berlayar ke ujung barat Indonesia dulu baru berangkat ke Tanah Suci.

Di luar semua cerita tentang sejarah Rubiah dan Aceh, saya terkesan dengan pernyataan dari seorang bapak yang kehilangan anak dan istrinya saat Tsunami ini. Sebuah pernyataan dari pelaku pariwisata, warga lokal yang mendapat berkah dari majunya pariwisata daerah tempat tinggalnya yang kini menjadi sumber nafkahnya.

“Sekarang makin ramai, kalau hari libur bisa penuh semua. Masuk Iboih bisa antri. Saya punya penginapan di Iboih, namanya Kristal Bungalow. Anak-anak saya dan warga di sini juga semakin senang banyak yang datang, jadi ada penghasilan. Kami juga tetap berusaha menjaga keamanan alam dan lingkungan. Ada kapal patroli ke tengah laut, tidak boleh ada yang menangkap ikan sembarangan dan merusak terumbu karang,”

image

Spot foto wajib! Foto: Anton Chandra (GetLost Magazine)

Saya terdiam. Tidak lama kemudian rombongan kami menuju Nol Kilometer, yang berada jauh di puncak pulau ini sehingga harus melewati jalan meliuk-liuk di tengah hutan untuk akhirnya sampai ke area tugu yang juga sedang direnovasi. Makin banyak pedagang membuka lapak di sini, sehingga saya merasa kesulitan melihat sunset dari dinding pembatas dengan jurang, yang dulunya mudah dinaiki dan diduduki meski banyak coretan iseng para pengunjung yang tidak bertanggung jawab.

Senja pun turun, sunset tidak begitu cerah, atau mungkin karena kami sudah lelah. Berfoto di tulisan besar NOL KILOMETER INDONESIA jadi keharusan. Kami pun kembali ke penginapan untuk mengisi kembali energi dan siap lanjut menjelajah Sabang dan Aceh esok hari.

Sabang, Pulau Weh 7 Maret 2015

Hari ini kami melanjutkan hari terakhir explore Pulau Weh, yaitu ke ke Air Terjun Pria Laot Sabang yang medannya cukup menantang. Objek wisata air terjun memang bisa jadi alternatif menikmati sisi lain Sabang, setelah puas bertemu pantai dan menyelami bawah lautnya.

image

Foto: Ananda Rasulia

image

kiri ke kanan, bersama teman-teman travel blogger mas Yudasmoro, saya, Kokoh Hartadi, dan Rama! Foto: Rheza Pramudita

“Nggak tahu sebelumnya ada air terjun di Pulau Weh. Medan untuk kesini cukup menantang, dan saat sampai, terbayar dengan view air terjunnya, kok!” komen Yudasmoro, salah satu kru dari Panorama Group yang juga penulis buku traveling.

image

Medan yang cukup menantang. Foto: Ananda Rasulia

image

Mas Ryan Gustavo dari Panorama Group yang menikmati segarnya air terjun! Foto: Anton Chandra

Rombongan kami juga mampir ke bunker peninggalan Jepang, dimana view dari atasnya sangat cantik. Baik di Air Terjun dan Bunker Jepang, tidak ada tanda-tanda pemberitahuan objek wisata, seperti plang resmi, tiket masuk, guide, dan semacamnya.

image

View bunker Jepang ke Laut Anoi Itam. Foto: Ananda Rasulia

Berat hati meninggalkan pulau santai ini, tapi kami harus kembali ke Banda Aceh dan mencari cerita lainnya di sana.

Banda Aceh, 7 Maret 2015

Kembali ke Banda Aceh, kami disuguhi lagi kuliner khas yang nikmat, Ayam Tangkap yang kali ini kami santap di Rumah Makan Atjeh Rayeuk yang menyajikan lebih banyak pilihan menu pendamping lauk utama, seperti ikan sayur, dendeng rusa, sampai kerupuk emping Aceh yang gurih. Malam itu rasanya panjang, karena kami berkumpul bersama saat makan malam, dan dilanjutkan ke kedai kopi Aceh bernama Paknek Coffee Shop untuk berbagi cerita sebagai tanda malam terakhir kebersamaan di trip Aceh-Sabang ini.

Banyak tawa, banyak cerita. Saya menikmati betul perjalanan dengan rombongan satu ini yang sudah seperti keluarga. Rasanya belum percaya besok kami pulang dan kembali dipisahkan dengan kesibukan masing-masing sampai trip selanjutnya mempertemukan kami kembali.

Malam ini pun terasa lebih istimewa karena kami dibolehkan beribadah di Masjid Raya Baiturrahman, yang kunjungannya terus tertunda sejak pertama kami tiba di Aceh.

image

Masjid Baiturrahman di kala malam. Foto: Anton Chandra (GetLost Magazine)

Masjid megah nan cantik ini menjadi saksi doa-doa beberapa dari kami yang terjaga sampai malam demi bisa berkesempatan memanjatkan permohonan pada Sang Pencipta dengan khusyuk di ikon kebanggaan Aceh ini. Saya salah satunya, yang termasuk paling merasa haru saat berdoa. Berusaha mensyukuri apapun yang sudah saya capai di hidup saya hingga di usia ini. Love life!

Aceh Besar, 8 Maret 2015

Hari terakhir pada trip ini tiba juga. Beberapa dari rombongan bangun lebih pagi dari yang lain untuk kembali shalat di Masjid Raya Baiturrahman, mencoba menaiki bentor (becak motor) khas Aceh, berburu sarapan khas di pasar Atjeh. Sayangnya pagi itu kondisi badan saya tidak fit, jadi saya memutuskan memaksimalkan istirahat karena masih ada kegiatan CSR Teh Kotak sebelum pulang ke Jakarta.

Kami pun diboyong ke lokasi yang disebut-sebut ujungnya pulau Sumatera bernama Pantai Ujung Pancu di Aceh Besar. Kami melakukan penanaman Bakau sebagai usaha penghijauan area sekitar Aceh, demi keseimbangan alam di masa yang akan datang.

image
image
image

Suasana penanaman bakau. Foto: Anton Chandra (GetLost Magazine)

“Dalam setiap trip GetLost selalu ada CSR bersama Teh Kotak, kegiatan positif yang bisa dibilang timbal balik kita setelah menikmati keindahan alam agar nantinya berguna bagi masa depan dan anak cucu kita pun berkesempatan untuk menyaksikan semuanya,” ujar Hartadi, salah satu peserta yang juga travel enthusiast dimana perjalannya bisa kita ikut nikmati pada blog kopertraveler.blogspot.com.

Ya, ini juga hal yang paling saya suka selama melakukan perjalanan bersama Teh Kotak yang menjunjung tagline Thanks To Nature. Selalu ada cara untuk berterima kasih pada alam yang sudah memberikan kita banyak sekali manfaat, keindahan, dan pastinya masa depan. Jadi, jika kita tidak menanam kebaikan di saat ini, kita juga tidak akan menuai apa-apa di masa depan.

image

Befoto di depan ikon terbesar Aceh, dan membawa pulang haru dan cerita. Foto: Anton Chandra (GetLost Magazine)

Melihat tanah Aceh dan Sabang yang makin terus berkembang, saya tentu saja ikut senang. Apalagi pihak yang peduli dan sadar untuk menjaga kelestariaannya adalah para pelaku pariwisata di areanya masing-masing. Mereka yang paling tahu betul apa yang bisa wilayah mereka tonjolkan sebagai objek wisata, yang kemudian bisa mendatangkan Rupiah bagi warga di sekitarnya. Para pelaku wisata di suatu daerah seharusnya memang menjadi pahlawan untuk wilayah mereka sendiri, dan bisa saling memberi sebagai timbal balik antara eksplorasi kekayaan alam dan penanaman kembali kebaikan untuk masa depan.

Saya belajar banyak dari berbagai perjalanan yang saya lakukan. Untuk Aceh dan Sabang, saya resmi kembali membawa pulang haru yang mendalam tentang kota di ujung Barat Indonesia ini. Haru yang akan terus saya kenang, haru yang menjadi semangat mengintip lagi keindahan Indonesia lainnya dan membaginya dengan cara yang saya bisa: Menulis.

Traveler’s note: Tulisan ini dibuat setelah saya mengikuti perjalanan Explore Indonesia ke Aceh & Sabang, 5-9 Maret 2015. Happy smart traveling*!

Read also:

Menikmati Manisnya Pulau Seram

Menjelajah Sisi Lain Yogyakarta

Kepulauan Derawan: Serpihan Surga di Indonesia

Makin Dekat Dengan Alam di Ujung Kulon

Menjelajah Alam Budaya Jawa Timur

*smart-traveling is doing travel with full responsibility for everything you do to nature, local people, culture, and yourself during the trip.

Leave a Reply