Menjelajah Sisi Lain Yogyakarta

image

Siapa yang tidak kenal Daerah Istimewa satu ini? Kota dengan kekayaan alam dan budaya di Jawa Tengah ini adalah salah satu tujuan wisata paling populer di Indonesia. Sudah pernah kesana? Jika sudah, banyak yang bilang tidak cukup sekali saja mengunjungi Yogyakarta.

Ya. Kenapa tidak cukup sekali saja ke Yogyakarta?

Karena daerah dengan iklim bersahabat ini bukan hanya memiliki satu atau dua nama tempat untuk dikunjungi di tiap jenis objek destinasinya, sebut saja kekayaan alamnya seperti gunung dan pantai, kekayaan budayanya seperti tarian dan musik tradisional, kekayaan sejarahnya seperti keraton dan candi, kekayaan kulinernya yang menggugah selera dan kerajinan tangan yang selalu menanti untuk jadi cinderamata. 

Tapi ada sisi lain dari Yogyakarta dan sekitarnya selain nama-nama besar dan populer yang tidak pernah lekang oleh zaman, seperti Candi Borobudur dan Prambanan yang megah, Keraton dan Tamansari yang menyimpan sejarah klasik Kesultanan Yogyakarta, sampai jalan Malioboro yang menjadi tempat wajib saat ke kota dengan kunjungan turis asing teramai di Indonesia kedua, setelah Bali ini.

Sisi lain Yogyakarta setelah musibah Merapi 2010 silam, dan daerah yang terlihat gersang bernama Gunungkidul, tapi ternyata menyimpan kekayaan tidak terduga di pesisir pantai, sungai dan air terjun, sampai ke dalam perut Buminya, mungkin bisa membuat siapapun yang pernah mengunjungi kota ini bergumam, “Saatnya berkemas dan mengunjungi kembali Yogyakarta.”

image

Tiba di Yogyakarta di pagi yang cerah! Foto: Anton Chandra

Bersama GetLost Magazine dan Panorama Group yang didukung Teh Kotak, saya kembali menjelajah Indonesia untuk melihat langsung kekayaan dan keindahan Negeri ini. 

Kembali ke alam dan merasakan sendiri apa yang Tuhan berikan melalui cantiknya pemandangan, suburnya tanah, pohon, dan udara yang masih segar, keramahan alam lewat penghuninya flora, fauna, dan penduduk lokal adalah tujuan yang diusung Teh Kotak, brand ramah lingkungan ber-tagline Thanks To Nature yang membuat saya dan peserta trip ini lebih banyak bersyukur dan berpikir untuk memberi kembali kebaikan untuk alam. 

Kali ini, selama tiga hari dua malam (24-26/4/2015) kami diboyong ke tengah pulau Jawa untuk menjelajah sisi lain Yogyakarta.

Keindahan Perut Bumi di Goa Jomblang

image

Disambut jeep dan land rover menuju Goa Jomblang. Foto: Ananda Rasulia

Setibanya di Bandar Udara Internasional Adisutjipto Yogyakarta, Jumat (24/4/2015), rombongan mengisi perut sejenak sebelum kemudian bergerak ke sebuah daerah berjarak 50 kilometer ke tenggara Yogyakarta. Kami pun bertemu dengan dataran tinggi yang kering namun ditumbuhi pepohonan rimbun bernama Jomblang, Semanu, Gunungkidul.

Setelah sebelumnya pernah memiliki pengalaman tidak terlupakan di daerah ini 2013 silam, saya siap kembali menemui kejutan yang disajikan objek wisata yang dikelola Mas Cahyo Alkantana, seorang caver senior dan penjelajah Indonesia yang namanya tidak asing lagi di daerah ini karena membawa dampak positif bagi penduduk lokal. Kali pertama ke sini, beliau sempat memandu rombongan saya, tapi kali ini kami dipandu para pekerjanya yang juga sangat informatif menemani siapapun yang berkunjung ke Goa Jomblang.

image

Di depan Luweng Jomblang (Lubang Jomblang), bersama videografer Rheza, peserta setia sekaligus travel blogger Kopertraveler.blogspot.com dan peserta baru, Kristo!

Caver, goa, dan caving. Itulah kejutan yang kita bisa temui di tanah Jomblang. Caver artinya penjelajah goa, dan caving sendiri artinya penjelajahan goa. Tidak salah jika belum familiar dengan sebutan ini, karena caving sebenarnya adalah salah satu extreme outdoor activity dan aktivitas minat khusus seperti yang disebut-sebut pemandu kami, Mas Gatot.

“Trip kita ini termasuk minat khusus, memang ada batasan maksimal untuk aktivitas disini, satu trip sekali masuk goa kita hanya bisa maksimal 25 orang saja, dan minimal 2 orang,” ujar Mas Gatot saat saya memintanya memaparkan sejarah Trip Goa Jomblang dan peran objek wisata ini bagi penduduk lokal.

Jomblang Resort

image

Pengarahan oleh Mas gatot sebelum caving. Foto: Anton Chandra

Guide lokal ini pun menarik kembali ingatannya saat Cahyo Alkantana membeli area Jomblang yang dulunya adalah ladang-ladang gersang milik warga. Setelah membangun resort dan taman, Cahyo dan timnya mengeksplor bawah tanah Jomblang yang ternyata terdapat banyak goa-goa potensial. Salah satunya Goa Jomblang, yang ia buka untuk kepentingan pendidikan, atau sekolah bagi para caver pemula dan pecinta alam sekitar Yogyakarta dan Gunungkidul, juga untuk pariwisata.

image

Cara masuk vertikal Goa Jomblang. Foto: Ananda Rasulia

Selain berhasil ‘meneduhkan’ kawasan Jomblang yang gersang dengan pohon-pohon yang ia bawa dengan sengaja untuk ditanam, Mas Cahyo mengkonsep betul wisata goa di sini. Para pekerjanya adalah masyarakat asli yang kini memiliki pekerjaan baru untuk menyambung hidup, juga pendidikan anak-anak mereka. Pengunjung trip ini akan mengetahui hasil usahanya kini jika sudah mencicipi caving Goa Jomblang ini.

Hutan Purba

image

image

image

image

Proses turun vertikal Goa Jomblang dan suasana Hutan Purba. Foto: Anton Chandra, Ananda Rasulia

Diturunkan dengan tali ke Luweng Grubug, sebuah lubang raksasa berdiameter 80 meter, kami dengan mulus mendarat di kedalaman 60 meter dan berpijak pada area bernama Hutan Purba. Hutan Purba adalah hutan yang terbentuk karena ambruknya area berbentuk lingkaran seluas 80 meter pada masa silam, sehingga apapun yang berada di atasnya saat itu ikut ambruk ke kedalaman 70 meter sampai saat ini. Maka, banyak tumbuhan yang belum teridentifikasi oleh warga setempat maupun peneliti, dan disebut sebagai tumbuhan purba.

Ray Of Light 

image

image

Ray Of Light dari Goa Grubug. Foto: Anton Chandra

Tidak jauh dari area Hutan Purba kita akan dipandu masuk horizontal ke mulut goa yang sudah diberi media bebatuan untuk dipijak dan lampu sebagai penerangnya. Tidak beberapa lama berjalan masuk, tentunya dengan sepatu boots dan helm yang tidak boleh dilepas selama di dalam goa, kita pun akhirnya akan mengintip area seperti jendela dimana Ray of Light terlihat.

Ya, Ray of Light atau Cahaya Surga adalah cahaya yang masuk di antara pepohonan di atas goa, yang ternyata adalah Goa Grubuk, menembus lurus ke kegelapan goa yang berdasar sungai bening bernama Kalisuci. Fenomena alam ini terjadi sekitar pukul 12 sampai 1 siang, jika cuaca mendukung dan kondisi alam sedang memungkinkan untuk menjelajahi bawah tanah sedalam ini.

Kalisuci

Hati-hati juga dengan jurang yang mengarah ke Kalisuci di bawah area tempat melihat Ray of Light. Kalisuci sebenarnya bisa dikunjungi untuk bermain air, di mana airnya sangat bening dan masih bisa ditemui binatang laut dengan kulit transparan seperti udang atau ikan.

Namun, Kalisuci di musim hujan sangat berbahaya dan harus dihindari karena dapat terjadi banjir tiba-tiba yang bisa menghanyutkan apa saja yang berada di dalamnya, hingga terbawa ke mulut Goa lainnya dengan jarak yang jauh (contoh: salah satu mulut Goa yang merupakan jalur Kalisuci adalah Pantai Baron).

Batu Gordam

image

image

Gordam dan tekstur alaminya. Foto: Ananda Rasulia

Keindahan lainnya adalah batu besar putih bernama Gordam, yang terbentuk dari air yang kaya mineral dan garam, dan membentuk tekstur yang indah dari tetesan air yang menjatuhinya di dalam Goa dalam waktu yang lama. Batu ini seperti berkilau saat Ray of Light menyinarinya.

image

image

Proses naik dan para warga lokal yang menjadi pekerja Goa Jomblang. Foto: Ananda Rasulia

Setelah puas menikmati Ray of Light dan suasana di dalam Goa, kita akan kembali ke Hutan Purba untuk ditarik kembali naik ke atas. Sebagai pengunjung mungkin kita tidak menyadari apa yang menarik kita sampai ke atas. Ternyata setiap dua orang naik sama dengan ditarik oleh belasan orang, yang tidak lain adalah warga desa laki-laki yang kini memiliki pekerjaan harian untuk Goa wisata ini. Bukti bahwa sebuah objek wisata memang bisa membuka mata pencahariaan untuk penduduk sekitar.

Air Terjun dan Pantai Esksotis Gunungkidul

image

image

Air Terjun Sri Gethuk yang unik. Foto: Ananda Rasulia

Pada hari kedua, Sabtu (25/4/2015) kami mengunjungi area lain dari Gunungkidul. Air Terjun Sri Gethuk yang sangat unik menjadi destinasi kami meski cuaca kurang mendukung. Benar saja, saat kami berjalan di jalan setapak yang sudah sangat nyaman untuk dilewati sebelum akhirnya sampai ke air terjun setinggi 80 meter itu, debit air sedang deras-derasnya. Padahal aliran sungai dari air terjun ini menawarkan kegiatan air seperti body rafting, berenang, dan menaiki getek jika air tidak deras.

image

image

image

Area Pantai Ngobaran yang eksotis. Foto: Ananda Rasulia, Rheza Pramudita

Selain itu, kami juga bergerak ke area pesisir untuk menikmati Pantai Selatan dengan karakteristik view ombak yang besar dan laut lepas sejauh mata memandang. Ada lusinan pantai rupanya di sini yang siap dijelajah dan terus ditemukan baik oleh penduduk lokal maupun penjelajah seperti turis dan traveler. Contohnya pantai Ngobaran dimana ada candi untuk upacara Kejawaen, dan view tebing-tebing besar yang memukau, juga pantai Krakal untuk surfing dan Pantai Indrayanti yang belakangan ini makin ramai diminati.

Menyapa Gunung Merapi dengan Ceria

image

image

Serunya naik jeep dan menikmati view Merapi. Foto: Anton Chandra, Ryan Gustavo

Hari terakhir trip ini, Minggu (26/4/2015) sisi lain Yogyakarta ternyata masih menanti kami. Kami diboyong melihat peninggalan letusan Gunung Merapi 2010 lalu. Kami menyaksikan alam dan sejarah yang tertinggal dari sebuah bencana alam yang menewaskan juru kunci Merapi, Mbah Marijan. Setibanya disana, kami pun disambut beberapa jeep untuk melintasi area off road yang disebut sebagai Lava Tour.

image

Salah satu ruangan di Museum Merapi. Foto: Alan

Saya kembali mengobrol dengan salah satu guide lokal dan driver yang juga penggiat tur bernama Fun Track Merapi. Namanya Mas Remon. Selain beliau sangat ahli mengendarai jeep untuk membawa pengunjung menikmati keindahan alam di kaki Merapi, mengunjungi Museum Merapi berupa rumah-rumah peninggalan yang menjadi korban Merapi, Mas Remon juga bisa membawa jeep-nya melalui trek-trek yang seru dan menantang adrenalin penumpangnya, tentunya sesuai rekues atau izin dari penumpangnya itu sendiri.

image

Pak Adi (Teh Kotak), Rheza, Mas Remon dan saya setelah sesi wawancara untuk video. Foto: Hartadi (kopertraveler.blogspot.com)

Mas Remon pun banyak bercerita soal pariwisata yang berkembang disini pasca meletusnya Merapi. Bahwa setelah bencana selalu ada hikmahnya, dan Merapi yang sudah memberi banyak berkah berupa tanah yang subur dan kekayaan alam yang berlimpah pada penduduk di sekitarnya hanya menjalani tugasnya yang sudah pasti, berupa letusan yang kini meninggalkan banyak hikmah dan pelajaran.

“Pariwisata adalah salah satu faktor utama pulihnya perekonomian warga setelah meletusnya Merapi, karena banyak warga kini menjadi pelaku wisata. Misalnya penduduk yang dulunya beternak sapi, sekarang menjadi driver jeep, seperti saya yang dulu tidak pernah pegang jeep sekarang pegang jeep. Itu pilihan kita. Tapi ada warga juga yang bekerja untuk tambang, tapi menurut saya pengadaan alat-alat berat itu tidak bagus untuk daerah ini. Jadi ada banyak faktor yang membangkitkan ekonomi Merapi, pertama pariwisata, kedua tambang, dan ada juga warga yang bertani dan kembali ke atas Merapi,” papar Mas Remon.

image

Saya, Teh Kotak, dan jeep-jeep Lava Tour di Merapi yang jumlahnya sudah mencapai ratusan. Foto: Hartadi (kopertraveler.blogspot.com)

Saya pun setuju, bahwa alam memang punya caranya sendiri untuk mempertingati makhluk yang tinggal di atasnya. Bahwa alam sudah memberi lebih banyak yang manusia minta dan butuhkan, bahkan setelah sebuah bencana melanda suatu daerah, alamlah yang menjadi sumber utama perbaikan baik ekonomi, maupun fisik dan mental penduduk di sekitarnya.

image

image

image

Penanaman pohon di area Merapi. Foto: Ananda Rasulia, Yudasmoro

Teh Kotak mengajak bertanam pohon di area Merapi yang juga sedang terus menjalani tahap recovery. Bibit pohon Akasia yang dipilih akan tumbuh dengan nilai guna tinggi baik kayu juga daunnya yang akan menambah rimbun area Merapi nanti. Para peserta terlihat antusias dengan kegiatan penanaman pohon, dimana mereka bukan hanya membawa keceriaan ke tanah Merapi dan Yogyakarta, tapi juga sesuatu untuk masa depan yang akan berguna.

Seperti itulah seharusnya sebuah perjalanan menjelajah Indonesia. Menikmati apa yang sudah alam berikan dan kembali memberikan kebaikan untuknya.

Traveler’s note: Tulisan ini dibuat setelah saya mengikuti perjalanan GetLost Indonesia ke Yogyakarta & Gunungkidul, 24-26 April 2015. Happy smart traveling*!

*smart-traveling is doing travel with full responsibility for everything you do to nature, local people, culture, and yourself during the trip.

Baca juga:

Menikmati Manisnya Pulau Seram

Aceh & Sabang: (Masih) Ada Haru di Ujung Barat Indonesia

Kepulauan Derawan: Serpihan Surga di Indonesia

Makin Dekat Dengan Alam di Ujung Kulon

Menjelajah Alam Budaya Jawa Timur

Leave a Reply