Bali ReGreen: Sebuah Komitmen Memberi Kembali untuk Tanah Bali

image

Pulau kaya berkah seperti Bali sudah mendapat banyak dari alam baik di atas tanah, bawah laut dan udara segarnya. Bali ReGreen lebih dari sekadar pesan, tapi juga aksi nyata dan komitmen untuk berterima kasih pada alam Bali.

Apa yang kita pikirkan jika mendengar kata Bali? Sebuah pulau populer di negeri kita (bahkan tidak jarang nama Bali lebih dikenal dari nama Indonesia) yang menjadi tujuan turis dari berbagai penjuru dunia? Surga dunia yang di atasnya ada pantai-pantai indah untuk berlibur, bawah laut memukau, danau bahkan gunung cantik, sawah dan dataran tinggi yang semuanya bisa didapati dalam pulau ini?

Bali diberkahi Sang Pencipta lebih dari alam yang indah, tapi juga budaya dan tradisi yang kuat dan masih dipertahankan hingga sekarang. Apa yang kita cari dari sebuah perjalanan liburan, ada di sini. Membuat pecintanya tidak bisa datang sekali, malah menjadi rutin, dan terus kembali, ke Bali.

Tapi apakah kita membayangkan apa yang sedang terjadi pada tanah, air dan udara Bali? Juga tempat-tempat wisata ramai pengujung lainnya di Indonesia? Atau pada Bumi ini setiap harinya? Apa yang sedang alam ini butuhkan dari penghuninya seperti kita, yang terus mengeksploitasi dan mengambil kebaikannya?

image

Komitmen Nyata

Menurut publikasi Bali ReGreen dalam BaliSpirit Festival 2015 Guide Book, sangat sulit membayangkan bahwa ada daerah sangat kering di Bali jika kita hanya melihat area subur dan rimbun di tengah Bali atau daerah -daerah wisata di pusat Bali yang kian cantik. Area Timur Bali sangatlah kering dan nyaris tidak ditumbuhi pepohonan. Masyarakat yang tinggal disanapun terbilang warga tidak mampu di Bali. Itulah fakta penting tentang kondisi alam Pulau Dewata saat ini.

Sejak 2011, BaliSpirit Festival bersama Yayasan Kryasta Guna, bekerja sama dengan Environmental Bamboo Foundation (EBF) menanam 4.300 pohon Bambu di sebuah desa kering bernama Desa Songan, di Bali Timur. Festival yoga, tari dan musik yang sudah mendunia ini, bersama para pendukungnya, seperti salah satunya Teh Kotak, juga tentunya para pengunjung yang membeli tiket festival, dengan konsisten berkonstribusi menghijaukan kembali Bali dengan cara yang disebut Bali ReGreen ini.

image

“Our commitment to the environment and the people of Bali is not just in message, but in action as well.” ujar Pak Kadek Gunarta, BaliSpirit Festival Co-Founder, Liaison and Artist, Balinese Culture Enthusiast.

BaliSpirit Festival yakin bahwa penghijauan ini bukan hanya tentang memberi kembali pada Bumi, tapi juga untuk masyarakat yang tinggal di atasnya. Selain menanam Bambu untuk penghijauan, juga ada pelatihan untuk masyarakat desa yang menjadi volunteer agar mereka siap memelihara tanaman Bambu ini yang sesuai harapan, dapat ditanam sampai dengan 10.000 pohon Bambu yang kuat di setiap tahunnya. 

Selain itu diharapakan akan ‘lahir’ 300 petani Bambu dengan pelatihan yang cukup, sistem irigasi yang baik dan menghasilkan cadangan air bersih yang baik pula, dan yang juga tidak kalah penting bagi keberlangsungan hidup masyarakat, peluang ekonomi untuk 8000 warga desa.

image
image

Kenapa Bambu?

Ada beberapa alasan kenapa Bali ReGreen memilih tanaman ini untuk ‘meghijaukan’ Bali Timur. Alasan yang sangat brilliant, karena seperti yang bisa kita lihat sekarang, banyak sekali pemakaian Bambu di Bali, untuk berbagai kepentingan dari adat atau budaya sampai pariwisata. Berikut ini adalah 4 alasan utama kenapa Bali ReGreen memilih Bambu untuk ditanam:

1. Bambu dapat menyimpan cadangan air tanah dari air hujan lebih besar daya serapnya dari tanaman lainnya. Jika pepohonan lain dapat menyerap air hujan 35-40%, Bambu dapat menyerap sampai 90%.

2. Bambu dapat tumbuh dengan cepat, sekitar 2 inci septiap jamnya atau sekitar 30-90 cm setiap harinya. Maka sangat cocok untuk penghijauan dalam waktu singkat dan efektif.

3. Bambu adalah sumber daya alam yang sangat menjanjikan. Bambu dapat dipanen hanya dalam waktu 3-5 tahun, dibanding pohon lainnya yang butuh waktu 10-20 tahun. Bambu dapat tumbuh lebih tinggi dari 30 m dengan diameter sampai 15-20 cm.

4. Bambu sangat bermanfaat bagi warga Bali, dari lahir sampai kematian selalu menggunakan Bambu. Saat ini, Bambu pun makin sering digunakan untuk berbagai keperluan. Contohnya tempat wisata dan bangunan yang mengusung misi ramah lingkungan, tapi juga bernilai seni tinggi.

image


Bergerak Bersama

BaliSpirit Festival memang lebih dari sekadar selebrasi yang mencari kesenangan untuk pengunjung maupun keuntungan semata bagi penyelenggara. Festival ini benar-benar ingin mengajak pengunjungnya bukan hanya membawa jiwa dan raga mereka kembali ke alam, tapi juga memberi kembali kebaikan, berupa tindakan berguna untuk keberlangsungan hidup lingkungan, khususnya di Pulau Bali.

Komunitas-komunitas yang mengusung kecintaan pada alam dan lingkungan hadir di BaliSpirit Festival dengan misinya masing-masing, tapi dengan visi yang senada yaitu, menjadikan alam Bali lebih baik, dan menjaganya agar tetap lestari, karena tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai kebaikan.

image
image

Seperti Keep Bali Beautiful yang peduli dengan masalah sampah di Bali dan mendaur ulang sampah sehingga memiliki nilai guna kembali. Selain memproduksi produk-produk berkualitas dan dari daur ulang sampah, gerakan ini juga sudah mulai masuk ke sekolah-sekolah dan menularkan misi kebaikan untuk alam ini kepada para siswa-siswi atau para pemuda Bali yang memang seharusnya mulai dirangkul sedini mungkin.

image

Merk footwear Indosole juga patut dilirik usahanya dalam memanfaatkan ban-ban bekas yang butuh waktu ribuan tahun untuk diurai tanah di Bumi jika dibuang begitu saja ke lingkungan. Kolaborasi yang apik antara warga negara asing yang menjadikan warga Bali lebih produktif menciptakan karya berupa sepatu dan sandal berdesain catchy dengan sol dari ban bekas yang menjadikannya selain lebih berguna, ternyata juga menjadi lebih menarik dan bernilai jual tinggi.

Teh Kotak juga turut ambil bagian dalam rangkaian BaliSpirit Festival 2015, yaitu menggelar workshop Mari Berkebun bersama Bali Berkebun dan para siswa yang antusias dari SMPN 1 Sukowati, Bali. 

image
image
image
image

Para siswa nampak bersemangat mengikuti pelajaran berkebun dengan kemasan Teh Kotak yang sudah tidak terpakai, belajar membuat pupuk dan mendaur ulang barang bekas, seperti kaos menjadi tas. Teman-teman dari Bali Berkebun juga dengan gembira menularkan kebiasaan baik ini pada generasi muda, yang akan menjadi penentu masa depan alam Bali dengan kebiasaan baik yang mereka pilih dan mulai tekuni sejak dini.

image
image

Semakin banyak lagi pihak yang terlibat dalam BaliSpirit Festival 2015 ini, maka semakin banyak pula penyebaran ‘habit’ berbuat baik dan berterima kasih untuk alam. Dengan adanya media seperti event BaliSpirit Festival, baik murni untuk sosial, maupun yang bernilai bisnis, gerakan demi kebaikan ini akan lebih cepat menyebar dan menginpirasi orang lain agar melakukan hal yang sama, atau mungkin lebih baik lagi, untuk lingkungan.

image
image
image

Read also:

BaliSpirit Festival 2015: Soul Journey, Thanks to Nature, and Be The Change!

Traveler’s note: Tulisan ini dibuat setelah saya mengikuti BaliSpirit Festival 2015 untuk Teh Kotak (http://www.untukalam.com/). Happy smart traveling*!

*smart-traveling is doing travel with full responsibility for everything you do to nature, local people, culture, and yourself during the trip.

Leave a Reply