Menikmati Manisnya Pulau Seram

image

Jauhnya Timur Indonesia terbayar di Pantai Ora dan senyum warga Ambon yang ramah.

Tidak mudah untuk mencapai tempat yang indah.

Kalimat ini rasanya tidak asing didengar para pejalan yang sudah terbiasa menjelajah alam demi mendapati keindahan. Seperti candu, rasa ingin ‘menemukan’ tempat yang indah, lagi dan lagi, terus dan makin deras mengalir dalam darah para petualang Negeri ini. Makin hari keindahan Indonesia makin meracuni hati dan pikiran warga negaranya sendiri. Berlomba menjejakkan kaki di tempat yang kian ‘populer’ di social media atau sengaja ‘dipopulerkan’ penjelajah lainnya yang sudah lebih dulu singgah.

image

Dari Barat ke Tengah sampai Timur Indonesia terus dijelajah. Explore Indonesia katanya. Lagu dari Sabang Sampai Merauke rasanya terdengar lantang meski tidak dinyanyikan seharafiah liriknya. Indonesia kini menjadi tuan rumah yang (akhirnya)dipopulerkan penghuninya sendiri. Rasa bangga itu timbul makin hari makin menggebu.

Sama dengan saya. Tidak ada hari untuk tidak makin cinta dengan Indonesia. Meski sedang tidak kemana-mana, panorama indahnya Indonesia tersaji di layar ponsel atau laptop yang dibagi oleh penjelajah yang saya ‘ikuti’ akun social media-nya, Instagram misalnya. Mimpi menjelajah Negeri ini bukan lagi sekadar mimpi yang terlalu tinggi. Banyak jalan yang bisa dicari, ada kesempatan yang bisa saja menghampiri.

Mengikuti perjalanan dengan Teh Kotak bersama GetLost Magazine adalah salah satu kesempatan emas saya mengintip destinasi-destinasi impian saya di Indonesia. Setengah tidak percaya, kali ini makin ke Timur, saya mendarat di Kota Ambon, Maluku Utara. Saya dan rombongan berkesempatan menjelajah Pulau Seram untuk menikmati syahdunya Pantai Ora dan sekitarnya juga Kota Ambon untuk menyapa peninggalan sejarah dan budayanya selama empat hari,11-14 Juni 2015.

Terbang, meliuk, sampai melaut

Seperti kalimat populer di awal tulisan ini, betul, tidak mudah mencapai tempat yang indah. Inilah perjalanan yang harus saya dan rombongan tempuh untuk sampai ke destinasi yang kian populer di Indonesia Timur ini.

1. Saya diterbangkan dengan pesawat dari Jakarta pada pukul 01.30 WIB dan mendarat saat matahari sudah terbit di Bandar Udara Pattimura, Kota Ambon pada sekitar pukul 07.00 WIT.

2. Setelah itu saya dan rombongan harus menuju Pelabuhan Tulehu selama 30 menit jalan darat dengan mobil untuk menyebrang ke Masohi, Pulau Seram dengan kapal cepat selama sekitar dua jam di lautan.

image

Kapal cepat dari Pelabuhan Tulehu, Ambon untuk menuju pelabuhan Amahai, Masohi, Pulau Seram

3. Tidak cukup dibuat mabuk laut (karena ombaknya cukup terasa dalam kapal), masih ada perjalanan darat meliuk-liuk membelah hutan selama dua jam untuk sampai di Desa Saleman,

image
image

Desa Saleman, pintu masuk ke Pantai Ora

4. untuk akhirnya menaiki 10-20 menit boat kayu dan akhirnya menginjakkan kaki di dermaga Pantai Ora.

image

Selamat datang di Pantai Ora!

Bagaimana? Terbayang jauh dan lelahnya? Siapkan stamina yang prima, outfit yang nyaman, dan tentunya semangat menjelajah yang tinggi untuk mengunjungi tempat ini!


Tidur di atas koral dan dipeluk bukit batu

Melipir di dermaga kayu Pantai Ora berarti sudah memasuki kawasan Ora Beach Eco Resort, tempat yang makin penuh tamu, tidak kenal lagi musim dan waktu. Resort dengan 8 bungalow utama di atas air atau disebut Rumah Laut ini, dan bungalow lainnya di area pantai, menjadi incaran pengunjung Pantai Ora.

image
image
image

View sekitar Ora beach Eco Resort

Jelas saja. Ambience yang disajikan kawasan laguna di tepi Teluk Saleman ini memang benar-benar syahdu. Airnya tenang, dan makin ke tepian makin jernih terlihat berbagai jenis koral dan ikan-ikan kecil berenang-renang. Koralnya memang tidak warna-warni, tapi sehat dan subur. Hanya terlihat warna hijau dan biru, seperti ada tone khusus yang membentuk suasana tenang nan tentram di perairan itu.

image
image

Koral dan ikan kecil terlihat dari atas dermaga bahkan dari atas kamar

Bungalow di atas air ini didirikan di atas koral yang sudah mati atau tidak sehat lagi, sehingga tidak merusak ekosistemnya. Saat pembangunannya belasan tahun silam, pemilik resort mengajak Desa sekitar, Sawai dan Saleman untuk membersihkan area pantai sampai membuat peraturan tentang penangkapan ikan yang berlebihan atau menggunakan obat bius dan cara yang merusak lingkungan. Maka jika kita beruntung, masih ada Whale Shark sepanjang 8 meter melintasi Teluk ini dan bisa dilihat dari area Pantai Ora.

image
image
image

View gunung batu yang khas mengelilingi Teluk Saleman

Melihat ke sekitar, area Pantai Ora seperti hampir dikelilingi bukit batu raksasa yang menjulang dipayungi awan putih gemuk-gemuk, kadang juga berupa kabut, atau langit biru bersih tanpa awan sama sekali. Bukit batu yang dikerumuni pepohonan hijau namun tetap terlihat warna batu abu-abunya itu terlihat kokoh, megah, dan juga mistis. Membangun sekali suasana seram sesuai namanya, Pulau Seram. Tapi entah kenapa saya pribadi, dan rombongan, tidak merasa seram sama sekali.


Senyum manis, Ambon Manise

image

Salah satu warga lokal yang bekerja di kapal yang mengantar pengunjung antar pulau yang memang hanya bisa diakses lewat jalur air

Rupanya rasa nyaman tercipta dari sambutan hangat warga lokal sedari bandara sampai pelabuhan ke dermaga dan juga disini, di area pedalaman jauh dari kota yang listrik saja hanya hidup jam 6 sore sampai jam 6 pagi. Ada senyuman yang benar-benar manis, dari orang-orang dengan warna kulit yang lebih gelap dari kami semua. Giginya putih, rambutnya keriting. Matanya besar-besar. Logat bicaranya agak bernada tinggi tapi tidak menakuti.

Bahasa mereka sangat Indonesia menurut saya. Jelas ejaannya, meski bicara dengan orang berbeda daerah dengan kita butuh pemahaman khusus untuk mencerna apa yang hendak mereka maksud. Saya pribadi cukup terkejut. Mereka jauh lebih ramah dari yang saya duga. Tulus, itu yang paling mahal dari mendapati senyum mereka.

Staff Ora Beach Eco Resort, petugas kapal, warga desa yang kami lewati. Mereka seperti sudah siap menanti, ada tamu jauh datang dari wilayah Indonesia lainnya yang ingin melihat langsung keindahan tempat hidup mereka.


Menyelam, mendaki, mencari arti

Saya dan rombongan menikmati area resort yang syahdu. Sarapan, makan malam, bersantai. Kami juga berenang, menyelam, melihat apa yang dipunya bawah laut Ora, area Batu Karst, dan Teluk Saleman. Hamparan koral dan terumbu karang masih sehat-sehat, hanya beberapa terlihat rusak karena terkena jangkar atau bagian bawah kapal yang melintas dan berhenti untuk keperluan pengunjung, maupun kegiatan nelayan yang mencari ikan.

image
image

Syahdunya Pantai Ora dan Teluk Saleman

Area tebing batu karst yang sangat khas, bisa juga dimasuki sela-selanya untuk sensasi menyelam di dalam goa. Kami juga mendaki tebing mini bernama Hatu Pahu Pahu untuk melihat view dari ketinggian. Mata air Belanda yang unik juga membuat kami bergidik, karena air tawarnya yang tiba-tiba dingin mengalir ke arah pantai dan bertemu air laut yang lebih hangat.

image
image

Tebing Batu Karst yang menjadi spot snorkeling pengunjung Pantai Ora

image
image
image
image

View dari atas bukit Hatu Pahu Pahu dengan trekking sekitar 20 menit di medan bebatuan menanjak, tapi cukup safety karena sudah ada jalurnya.

Satu malam tidak terlupakan adalah, ketika saya dan tim Teh Kotak ditemani panitia penyelenggara menyebrangi teluk selama hampir 30 menit dalam kegelapan. Kami menuju ke Desa Sawai untuk bertemu penggiat lingkungan yang sudah ikonik di Pulau Seram, bernama Bapak Muhammad Ali. Kami membicarakan tentang kegiatan CSR Teh Kotak yang dilakukan keesokan harinya bersama semua peserta trip ini.

Beliau bicara banyak. Berbagi cerita yang membuat mata saya dan siapapun yang mendengarnya, berkaca-kaca. Usaha ‘menyelamatkan’ lingkungan oleh seorang warga lokal yang masih lebih peduli dari yang lain. Pak Ali, begitu ia akrab dipanggil, mengusahakan kebersihan laut dan darat di Pulau Sawai tempat ia tinggal sekarang dan membesarkan usaha resortnya, dimana para pekerjanya adalah ‘bekas’ perusak lingkungan seperti dirinya dulu: menangkap dan menjual burung, menebang kayu, merusak alam.

Konservasi burung yang menjadi satwa endemik kebanggaan Maluku, menanam kembali pohon dan melindungi hutan, menjaga kebersihan air dan darat tidak lagi menjadi perjuangan Pak Ali seorang diri. Kebiasaan baik ini menular pada warga sekitar, juga kelompok pecinta alam yang digerakkan pemuda-pemudi penerus perjuangannya di masa depan.

Apa artinya semua ini?

image


Bermain di desa dan menanam masa depan

Saya kembali ke Desa Sawai bersama rombongan peserta trip dan bertemu lagi dengan Pak Ali dan komunitas pecinta alam yang ternyata anggotanya benar-benar masih muda sekali (kisaran siswa-siswi SMA).

image

Pak Ali dan Komunitas Pecinta Alam Manusela

image

Suasana desa dan kegiatan penduduk Desa Sawai

image

Penduduk masih menggunakan kayu untuk keperluan memasak dan rumah tangga. Banyak pohon dan bakau yang masih ditebang sampai saat ini.

Kami diajak mengelilingi Desa Sawai, melihat langsung aktivitas penduduk, dari Ibu-ibu mencuci pakaian di sungai sampai anak-anak kecil yang bermain riang di luar rumah jauh dari teknologi canggih. Kami membagi-bagikan Teh Kotak sambil sesekali terlihat beberapa dari kami berfoto ria dengan penduduk desa.

image

Peserta berfoto dengan penduduk dan anak-anak Desa Sawai

image

Menuju hutan bakau di Taman Nasional Manusela

image

Kami pun diboyong dengan perahu menuju tempat budidaya Mangrove yang termasuk kawasan Taman Nasional Manusela, Pulau Seram, Maluku Tengah. Terlihat beberapa peserta bersusah payah terjelembab dalam area lumpur basah untuk menanam bibit mangrovenya. Bibit yang nantinya menjadi masa depan bagi wilayah yang sudah kami nikmati keindahannya ini.

image

Hutan bakau yang terawat dan menjadi masa depan daerah Sawai dan sekitarnya

image
image

Kegiatan CSR Teh Kotak, menanam bakau bersama

image

Danke, Moluccas!

Untuk keindahannya yang sangat khas, dan pelajaran berharga tentang semangat membalas kebaikan alam.Danke, dalam bahasa Ambon artinya terima kasih. Mirip seperti bahasa Asing, dari Eropa yang mengajak kita untuk menolak lupa, bahwa Ambon dan Maluku adalah area penting penghasil rempah-rempah yang diincar dunia di masa lampau. Kaya, indah, ramah. Maka, kalau ke Timur, singgahlah untuk merasakan sendiri sensasi manisnya pulau ini.

image

Pantai Liang, Ambon, Maluku Utara

image

Pantai Natsepa, Ambon, Maluku Utara

image

Suasana kota Ambon

Traveler’s note: 

Tulisan ini dibuat setelah saya mengikuti perjalanan GetLost Indonesia ke Ora dan Ambon, 11-14 Juni 2015. Happy smart traveling*!

Read also:

Menjelajah Sisi Lain Yogyakarta

(Masih) Ada Haru di Ujung Barat Indonesia

Kepulauan Derawan: Serpihan Surga di Indonesia

Makin Dekat Dengan Alam di Ujung Kulon

Menjelajah Alam Budaya Jawa Timur

*smart-traveling is doing travel with full responsibility for everything you do to nature, local people, culture, and yourself during the trip.

Leave a Reply