Warna Warni Cerita dari Ujung Timur Pulau Jawa

image

Sempat tidak terpikir menjelajah area ini, yang ternyata memiliki kekayaan alam jauh dari perkiraan saya, atau siapapun yang hanya pernah sekadar lewat dari Jawa menuju Bali, tanpa singgah untuk menemukan cerita di Banyuwangi.

image
image

Foto: Ananda Rasulia

Baling-baling kecil yang saya lihat dari jendela pesawat akhirnya tidak lagi menjadi fokus saya ketika hijau tosca dan biru pekat air laut di bawah sana terlihat cantik mengelilingi daratan dengan gunung-gunung menjulang. Ini adalah perjalanan udara pertama saya dengan pesawat kecil, setelah transit di Surabaya menuju destinasi trip saya kali ini, Banyuwangi.

image

Foto: Ananda Rasulia

Hanya ada dua pesawat yang mendarat sekali sehari di Bandara mungil bernama Blimbing Sari, Banyuwangi. Tipikal bandara yang nggak ribet, begitu masuk terminal, langsung bisa ambil bagasi, dan keluar ke parkiran. Panasnya matahari terasa betul di pulau ini. Ya, kali ini saya dan rombongan kembali menjelajah Pulau terluas ke-13 di dunia, Pulau Jawa. Saya bersama Teh Kotak dan rombongan trip dari Majalah GetLost akan menelusur ujung Timur pulau ini yang dijuluki The Sunrise of Java.


Cerita tentang Pejuang Penyu Banyuwangi

image

Foto: Ananda Rasulia

Hari pertama di Bayuwangi (Kamis, 20/8/2015), kami menuju ke area pantai untuk melakukan CSR bersama Teh Kotak dan Banyuwangi Sea Turtle Foundation. Banyak pengetahuan baru tentang penyu dan alam Banyuwangi yang kami dapat dari mengunjungi penangkaran yang dikelola secara mandiri oleh kelompok kerja nirlaba – non pemerintah yang memiliki misi menyelamatkan dan melesetarikan penyu, khususnya di Banyuwangi.

image

Foto: Ananda Rasulia

Faktanya, dari tiga tempat mendarat penyu di Jawa, dua diantaranya adalah di Banyuwangi, dan dari enam spesies penyu di Indonesia, empat di antaranya hidup di Banyuwangi. Selain fakta numerik, fakta lainnya kenapa penyu wajib dilestarikan adalah karena fauna ini berperan sebagai ‘tukang kebun’ di laut yang bertugas melakukan penyebaran flora, karena penyu sendiri adalah herbivora yang hanya memakan tumbuhan, seperti alga misalnya.

image

Foto: Anton Chandra

Akhirnya menjelang sore kami diboyong ke Pantai Boom untuk melepaskan anak penyu atau biasa disebut tukik sambil berharap mereka bisa hidup dan selamat demi keberlangsungan alam yang seimbang di masa depan.


Cerita tentang Afrika Kecil di Indonesia

image

Foto: Anton Chandra

Semangat rombongan terlihat saat bergegas menyambangi destinasi yang menanti kami pagi ini (Jumat, 21/8/2015). Perjalanan yang dokumentasinya bisa disimak pada Instagram dengan hashtag #GetLostkeBanyuwangi ini akan menjelajah Taman Nasional yang menyimpan kekayaan alam, baik flora dan fauna di Pulau Jawa. Ya, kami menuju Taman Nasional Baluran, yang merupakan salah satu dari lima taman nasional tertua di Indonesia.

image
image

Foto: Ananda Rasulia

image

Foto: Kopertraveler.info

Dengan kawasan seluas 24.000 hektar dan savananya sendiri seluas 10.000 hektar, Savana Baluran adalah savana alami terluas di Pulau Jawa. Jangan tanya kondisi alam dan pemandangannya, meski sangat gersang, sepanjang mata memandang kita bisa melihat pepohonan, padang Savana Bekol, hewan seperti monyet, burung, rusa, dan jika beruntung melihat banteng yang menjadikan kawasan ini disebut Little Africa in Java.

image

Foto: Kopertraveler.info

image
image
image

Foto: Ananda Rasulia

image

Foto: Kopertraveler.info

Saya dan rombongan makin antusias saat diajak ke ujung pantai untuk melihat tanaman bakau yang sangat banyak, tumbuh sehat dan kuat, bahkan terbilang yang tertua dan berperan sebagai penyelamat lingkungan sekitarnya dari bencana alam. Kami pun tidak bisa menahan diri untuk tidak berfoto di Pantai Bama yang bersih dan terasa sangat dijaga kelestariannya.


Cerita tentang G-Land yang Tersembunyi

image
image

Foto: Kopertraveler.info

Masih di hari kedua, kami bergerak ke arah berlawanan untuk menuju destinasi selanjutnya yaitu taman nasional lainnya milik Banyuwangi, dan bermalam di G-Land! Ternyata perjalanan kali ini cukup menantang, setelah bus kami memasuki Taman Nasional bernama Alas Purwo yang areanya lebih terasa sangat ‘hutan belantara’, kami harus berganti kendaraan yaitu jeep off road, dan melanjutkan membelah hutan yang makin gelap untuk sampai ke ujung pulau ini. Benar sekali, G-Land berada ujung paling Timur Pulau Jawa, sebuah area pantai yang melengkung menyerupai huruf G.

image

Foto: Kopertraveler.info

Saya pribadi cukup terkejut saat tiba di area resort dengan bangunan utama berbahan bambu yang menyambut kedatangan para tamu dengan fasilitas restaurant, area bermain seperti meja billiard dan ping pong, sofa-sofa, dan banyak sekali turis asing yang menjadi pengunjung destinasi ini.

image

Foto: Ananda Rasulia

“Tempat apa ini?” pikir saya. Para pekerja di resort yang ternyata bernama Joyo’s Surf Camp ini sangat ramah menyambut kedatangan kami, begitu juga tamu lain, para turis asing yang nampak sangat menikmati berada di tempat ini. Saya makin penasaran, ada apa gerangan di kawasan yang butuh membelah hutan untuk sampai kesini?

Hari memang sudah gelap, sehingga saya tidak bisa melihat ada apa di sekitar penginapan. Kami menuju kamar masing-masing, berupa cottage dari kayu pada komplek resort yang tampaknya musim ini memang dipenuhi tamu. Malam pun kami habiskan di tepi pantai, menyantap ikan bakar, bernyanyi dan bersenda gurau bersama teman-teman serombongan.

image

Foto: Anton Chandra

Pagi hari di G-Land saya buka dengan mengikuti yoga yang memang rutin digelar Joyo’s Surf Camp sebelum sarapan. Terdengar kicauan burung, sepoi-sepoi udara pagi di antara pohon bambu, dan beberapa kali monyet lewat di tiang-tiang kayu atau melompat dari atap ke atap.

image

Foto: Kopertraveler.info

image
image
image

Foto: Ananda Rasulia

Rupanya G-Land adalah surganya para surfer dunia. Ombaknya diincar para turis mancanegara untuk berselancar. Beberapa kali kami berpapasan saat saya dan rombongan bermain di pantai penuh karang, dengan pasir sebesar buliran merica, tapi sayang, ombak belum kunjung terlihat sampai agak siang. Kami pun bergegas menemukan cerita lain di destinasi selanjutnya.


Cerita Matahari Terbenam di Pulau Merah

image

Foto: Dipa Ramsay

Seakan lupa rasa lelah, wajah-wajah dari kami masih sumringah di hari ketiga (Sabtu, 22/8/2015) saat tiba di Pantai bernama Pulau Merah. Jelas saja, di hadapan kami terbentang pantai dan laut lepas juga di kejauhan terlihat pulau-pulau kecil menyumbul seakan seperti siluet yang bersautan dengan latar matahari terbenam yang makin merah, makin cantik terlihatnya.

image
image

Foto: Ananda Rasulia

Tidak bisa berhenti dan puas mengabadikan momen ini lewat layar kamera atau gadget lainnya, saya, dan kebanyakan dari kami memang jadi sibuk sendiri dan lupa sedang berdiri di salah satu tempat indah di negeri sendiri. Sampai salah satu teman sesama rombongan yang kebetulan adalah warga negara asing, mengingatkan dengan kalimatnya.

image

Foto: Natais Zuraida

“Kadang kita terlalu sibuk dengan kamera atau gadget kita. Kita justru tidak menikmati momen seindah ini.” Ujarnya, seorang warga negara Jerman yang bekerja di Indonesia dan sedang mencoba menyisihkan penghasilan untuk menjelajah keindahan negeri ini.

Saya pun terdiam, mematikan kamera dan gadget saya. Menolehkan pandangan langsung, (bukan di layar alat dokumentasi), menatap matahari terbenam yang secepat kilat menghilang tidak peduli ada yang memperhatikannya atau tidak. Alam akan terus berjalan sesuai tugasnya, dan kita sebagai penikmatnyalah yang harus bersikap bijaksana.


Cerita (dibalik)Megahnya Kawah Ijen dan Sunrise of Java

image

Foto: Ananda Rasulia

Destinasi yang paling ditunggu pun siap didatangi dini hari (Minggu, 23/8/2015) dari kota Banyuwangi menuju daerah perbatasan dengan waktu tempuh sekitar satu jam, dimana Gunung Ijen berdiri di atas dua kawasan, Banyuwangi dan Bondowoso.

Perlengkapan mendaki di suhu dingin sudah siap melekat pada masing-masing dari kami, seperti jaket tebal, kupluk, sepatu trekking, sarung tangan, syal, dan yang juga penting dibawa ke Kawah Ijen adalah masker. Jika cukup yakin bisa bernafas dengan masker kain sebenarnya tidak apa-apa, saya pirbadi mengantisipasi dengan membawa masker khusus yang biasa digunakan bomber atau untuk keperluan pengecatan.

Jika dibandingkan dengan trekking di Gunung Bromo, sebenarnya medan di Gunung Ijen tidak begitu jauh berbeda, kita akan berjalan dalam kegelapan (dini hari) untuk mengejar matahari terbit, dalam cuaca dingin, dengan kondisi trek/jalan yang sudah bagus. Kendaraan bermotor akan berhenti di area bernama Pos Paltuding dan dimulai dari situlah pendakian dilakukan.

Jika sedang ramai pendaki, sebenarnya kita tidak akan kehilangan arah, karena jalurnya akan dilalui oleh pendaki lainnya atau para penambang belerang yang membawa keranjang atau gerobak kosong. Semangat mereka membuat saya malu, karena saya pribadi merasa tidak fit malam itu. Durasi trekking sendiri tergantung pada masing-masing orang, biasanya dua sampai tiga jam sesuai kecepatan berjalan.

Satu jam sudah saya berjalan, yang tadinya masih bersama rombongan lainnya, lama kelamaan saya terpisah jauh karena sempat berhenti di tempat-tempat istirahat seperti pendopo untuk duduk yang tersedia sepanjang trek. Sampai akhirnya saya ditemani oleh seorang pemandu, pemuda asli Banyuwangi yang ke Kawah Ijen hampir setiap akhir pekan.

Memang, saya pernah dengar soal teori pendakian, kalau ‘teman jalan’ atau travel buddy itu bisa sangat berpengaruh pada sampai atau tidaknya kita ke tujuan. Benar saja, saya sedikit tidak percaya akhirnya bisa sampai sebelum matahari terbit di bibir Kawah dimana bau belerang mulai tercium.

image

Foto: Ananda Rasulia

Saya tidak turun mendekat ke area Blue Fire, karena tahu diri kalau medan tersebut sepertinya akan menyulitkan saya untuk turun dan naik kembali. Saya cukup merasa puas melihat dari atas, sang api biru yang diincar untuk dilihat langsung oleh pengunjung lokal maupun mancanegara, karena fenomena alam ini hanya ada dua di dunia, Iceland dan Indonesia.

image
image

Foto: Ananda Rasulia

Saya melanjutkan trekking ke area yang lebih tinggi, katanya, dimana kita bisa melihat matahari terbit langsung di ujung Timur Pulau Jawa. Itu incaran saya. Lelah yang tadinya terasa, terbayar dengan melihat sang surya mengintip dari lereng gunung, naik dan naik dengan warna merah, menjadi oranye, dan menguning cerah menerangkan serentak area Kawah dan Gunung Ijen, juga seluruh dunia hari itu. Dari tempat saya berdiri melihat matahari, terlihat siluet selat Bali. Ini dia matahari dari tempat yang disebut The Sunrise of Java, cantik sekali.

image
image

Kejutan lainnya ternyata menunggu di balik badan saya. Saat melihat ke arah berlawanan dari terbitnya matahari, panorama kawah besar berwarna hijau tosca, jernih, bersih, terpampang indah di depan mata saya. Gunung-gunung seakan bermunculan menjadi latar di belakangnya, salah satunya Gunung Raung yang berdiri sehat, dengan megahnya.

image
image

Foto: Ananda Rasulia

image

Foto: Anton Chandra

Rasanya saya memang tidak bisa berhenti mendokumentasikan warna kawah Ijen yang sangat indah lewat kamera, sambil sesekali masih terkagum melihat ke sekitar. Saya membayangakan salah satu tempat impian saya untuk dikunjungi, Danau Kelimutu di Nusa Tenggara Timur.  Sayang, waktu dan itinerary mengharuskan saya untuk turun. Saya masih dikejutkan pemandangan menuruni gunung ini yang tidak saya sangka saya lewati selama mendaki naik dalam kegelapan dini hari.

image
image
image

Foto: Ananda Rasulia

Saya pun menemukan para penambang dengan wajah khasnya yang saya atau kita semua sering lihat di berbagai media publikasi. Benar, mereka memiliki wajah yang sangat berkarakter: pekerja keras, ramah, dan sangat ‘Indonesia’. Keranjang dan gerobak mereka sekarang sudah penuh dengan apa yang mereka cari pagi ini, untuk dibawa turun dan menjadi sumber penghasilan mereka. Belerang berwarna kuning cerah yang sudah membeku. Bentuknya tak teratur. Ada yang besar-besar, atau sudah dipotong kecil-kecil agar mudah dibawa turun. Biasanya, mereka menopang keranjang seberat 80 kg di atas pundaknya, turun dari ketinggian 2.368 mdpl.

image
image

Foto: Ananda Rasulia

Tak jarang mereka menjajakan belerang berbentuk hewan, tokoh kartun, atau bentuk unik lainnya untuk jadi kenang-kenangan pendaki. Dihargai Rp5000/buah, saya hampir berhenti dan membeli di semua penambang yang menawarkan saya. Selain memang sangat unik dan saya ingin memilikinya untuk oleh-oleh, saya tahu pendapatan yang mereka dapat per kilogram-nya tidak sampai 1000 Rupiah. Sayangnya, akhirnya belerang yang saya beli tidak bisa naik ke pesawat dan harus tertahan di bandara.

image
image
image

Foto: Gilang Gupta

image

Foto: Ananda Rasulia

Seingat saya sampai detik ini, saat itu saya turun dengan banyak pemikiran di kepala dan kesan di hati. Terus berpapasan dengan para penambang yang semangatnya setinggi Gunung Ijen yang mereka rutin daki setiap hari. Sambil terus berdecak kagum dengan apa yang alam suguhkan, gratis, untuk kita, makhluk yang hidup di atasnya. Biru, hijau, merah, oranye, kuning, tosca. Sebuah pengalaman tidak terlupakan bagi saya  tentang ujung Timur pulau kelahiran, cerita penuh warna dari The Sunrise of Java.

Traveler’s note: Tulisan ini dibuat setelah saya mengikuti GetLost Indonesia ke Banyuwangi & Ijen, 20-23 Agustus 2015. Happy smart traveling*!

Rekomendasi:

Kemunir Banyuwangi (Tour Package, Study Tour, Company Gath) @kemunir

Joyo’s Surf Camp www.g-land.co.id

*smart-traveling is doing travel with full responsibility for everything you do to nature, local people, culture, and yourself during the trip.

Leave a Reply