Kepulauan Cantik itu Bernama Flores

image

Aku selalu suka penerbangan pagi. Kali ini aku sudah di Denpasar, Bali. Kemudian aku tersadar. Boarding pass di tangan bertuliskan DPS – LBJ. Akupun melanjutkan perjalanan ke kepulauan di seberang sana.

Namanya Flores. Dari Bahasa Portugis, artinya bunga. Letaknya di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Kepulauan cantik ini setahuku sedang ramai dibincangkan banyak pejalan dari Negeri ini, yang sedang cinta-cintanya dengan kekayaan negeri sendiri. Itu bagus. Maka informasi jadi mudah tersebar dan makin menyebar luas. 

image

Sama sepertiku, yang meski baru pertama kali mendarat di Bandara Komodo, Labuan Bajo bersama Teh Kotak dalam Trip GetLost Indonesia, tapi seperti sudah sering mendengar tentang cantiknya pulau ini dari beragam media.

Mari kita buktikan kebenarannya.

image

Hari pertama aku dan rombongan tiba di Labuan Bajo, sebagai pintu masuk sebelum melakukan pelayaran mengitari Kepulauan Komodo. Ya, kami akan hidup di atas laut, di dalam kapal kayu bersama-sama selama tiga hari dua malam (22-25/10/2015), dengan tentunya singgah ke pulau-pulau ikonik yang ditawarkan destinasi ini.

Sailing Komodo, biasa wisatawan menyebutnya, adalah salah satu daya tarik wisata alam dari Flores. Jauh sebelum nama-nama pulau di Kepulauan Komodo ramai di social media, Flores sendiri sudah meninggalkan mimpi di pikiranku akan Danau tiga warna bernama Kelimutu dan Desa di antara bukit bernama Wae Rebo. Akupun menyimpan rasa penasaran mendalam akan hewan langka yang hidup di kepulauan ini, yang sering disebut naga oleh orang asing, Komodo.

image
image

Kali ini aku berkesempatan menelusur laut Flores dengan pulau-pulau berbukitnya yang tidak kalah indah dengan objek lainnya di Flores. Ini dia, Indonesia. Laut, bukit, kepulauan. Lengkap, semuanya ada.

Bertemu si Naga di Pulau Rinca

Kapal kayu yang menjadi alat transportasi sekaligus rumah kami tiga hari ke depan akhirnya menepi pada sebuah dermaga saat hampir senja. Kami turun dengan sekoci mendekati pintu masuk utama pulau ini dan bertemu beberapa pemandu. Mereka memegang tongkat seperti huruf Y besar, menggunakan topi safari dan kaos bertuliskan ‘Naturalist Guide’ di bagian punggung mereka.

image
image

Jalan setapak yang kami lewati sudah tertata rapi. Rasanya seperit masuk taman wisata. Bahkan kami melewati dan berfoto di depan gapura dengan replika Komodo besar sebagai tanda masuk kawasan yang katanya masih dihidupi 2000 ekor hewan yang nyaris menjadi salah satu keajaiban dunia itu.

image

Matahari makin turun, kami berjalan berbaris dengan pemandu di sela-sela kami yang menjaga rombongan trip berjumlah 23 orang ini. Akhirnya setelah mendengar penjelasan singkat kami pun melihat sendiri hewan besar dan kekar itu melata di bawah rumah-rumah kayu yang menjadi tempat tinggal para pemandu. Lidahnya sesekali menjulur keluar, mirip seperti Naga. Mengerikan jika mengingat larinya bisa sangat cepat apabila sedang mengejar mangsanya. Kami melihat sekitar 3-4 ekor, tidak lama, karena kami harus menaiki bukit pulau yang ternyata bernama Pulau Rinca ini untuk menikmati matahari terbenam pertama kami di kepulauan Komodo, Flores, Timur Indonesia.

Asyik Bersandar di Pulau Padar

Kami bermalam di atas Laut Flores. Pengalaman yang tidak akan aku lupakan. Aku mulai mabuk laut karena semua kegiatan kami lakukan di atas kapal yang kadang cukup terasa goyangannya terkena ombak. Makan, mandi dan tidur. Tapi apa yang kulihat keesokan paginya di jendela kecil pada kamar mungil ini meninggalkan kesan buatku. Hidup di kapal, tertidur dan terbangun pada pemandangan bukit dan lautan tenang dan syahdu.

image
image

Kali ini kapal kami menepi lebih pagi. Sekoci diturunkan dan kami mendekati pulau megah bernama Padar. Kami harus trekking menaiki bukitnya untuk melihat apa yang pulau ini suguhkan di spot terindahnya. Matahari makin naik, makin hangat. Sampai pada satu titik aku menoleh ke belakang. Terpana sejenak seraya berusaha percaya dengan apa yang kulihat.

image
image
image

Jalur trek ini membawa ke area dimana mata kami dimanjakan pemandangan bentangan perbukitan dengan cekungan tiga garis pantai berbeda karakter dan laut lepas lagi di belakangnya. Sangat indah. Aku makin semangat naik ke puncak, untuk tahu apa lagi yang bisa kunikmati dari atas sana.

Indah, dan makin indah. Hangat matahari makin terasa. Rupanya hari makin siang. Kami semua harus turun pulang. Tapi rasanya aku tidak mau beranjak dari penglihatan akan panorama di hadapanku.

image
image
image

Aku berjalan turun dengan lambat. Salah satu pemandu menungguku, yang akhirnya padanya kuserahkan kameraku. Dia asyik memotretku dengan beragam posisi tiduran dan menyender pada savana ilalang empuk yang melapisi bukit Pulau Padar, membuatku makin betah bersandar.

Menyapa Puncak & Bawah Air di Gili Laba

Kami melanjutkan sailing. Aku dan rombongan mulai terbiasa dengan goyangan kapal karena ombak. Tapi rasanya, kondisi laut Flores  kali ini terbilang sedang bersahabat. Sampai kami menepi lagi ke sebuah pulau dengan bukit menjulang. Namanya Gili Lawa Darat atau lebih dikenal dengan Gili Laba.

image
image

Kami kembali mendaki lagi bukit di tanah kepulauan ini. Kali ini kami akan mengejar matahari terbenam di atas puncaknya. Medannya lebih sulit dari bukit lainnya. Terjal dan banyak bebatuan, membuat kami setengah climbing ke puncak yang tidak terlalu luas, tapi pemandangannya tidak kalah cantik dengan puncak bukit lainnya.

image

Foto oleh: Wibowo Sampurna

image

Jadi, sepemikiranku, sailing trip Komodo ini memang menyajikan akitivitas naik-turun kapal, mendaki bukit untuk melihat kepulauan dari atas puncak, bertemu hewan-hewan endemik Indonesia di pulau ini, seperti yang terkenal Komodo, dan kegiatan lainnya adalah menyelam ke bawah lautnya yang sama indahnya dengan daratnya.

image

Foto oleh: Anton Chandra

Ya, akhirnya kami berkesempatan menceburkan diri ke air laut Flores yang dingin dan segar. Koral dan terumbu karang, juga ikan-ikan dan hewan laut berbentuk lucu dan berwarna-warni menyapa kami saat snorkeling yang hanya berjarak satu jengkal dari badan kami di permukaan air. Maka kami dilarang keras berdiri di atas dasarnya dan menginjak apapun yang menjadi penghuni perairan ini.

image
image

Selain di Gili Laba, kami juga sempat menikmati indahnya Pink Beach. Pasirnya yang benar-benar pink karena adanya hewan mikroskopik yang memberi warna pink terang pada terumbu karang, dipadukan dengan airnya yang jernih tosca. Bawah lautnya pun juga dihiasi aneka koral, terumbu karang dan ikan-ikan warna-warni yang masih subur dan sehat.

Jatuh Cinta di Pulau Kanawa

Satu lagi pulau yang kami singgahi adalah Pulau Kanawa. Pulau cantik ini ternyata sudah berpenghuni. Ada resort yang mengelola kawasan wisata di sini. Jadilah kita bisa menemukan kafe, tulisan catchy Welcome to Kanawa yang jadi objek berfoto para pengunjung, kamar-kamar resort yang tidak jauh dari pantai, fasilitas olahraga seperti volley pantai, dan gazebo dan tempat bersantai di bawah pohon yang sangat nyaman.

image
image

Rasanya aku tidak sabar berlarian dari dermaga sampai memasuki pulaunya. Soalnya, ini salah satu pulau yang aku ingin sekali lihat dari kepulauan Komodo ini. Sayangnya, waktu kami di sini tidak cukup banyak. Pilihan snorkeling atau mendaki bukit harus kami pilih sebagai cara menikmati pulau ini.

image
image

Aku pun memilih mendaki bukit dan kembali melihat Kepulauan Komodo dari atas puncak yang berbeda. Meski pemandangannya kadang nyaris serupa, sensasinya tidak pernah sama. Tapi, pulau ini memang sama cantiknya dengan pulau atau gili lain selama sailing trip ini pikirku. Aku jatuh cinta pada Flores, saat pulang, aku akan mengabarkan tentang keindahannya pada siapapun, bahkan ke seluruh dunia jika aku bisa.

image

Saat turun, teman-teman serombonganku bermain volley pantai di atas pasir Pulau Kanawa yang putih bersih. Aku lebih memilih memesan milkshake dingin yang segar, kunikmati di bawah pohon rindang sambil memperhatikan sekitar. Rasanya benar saja. Pada kepulauan ini aku jatuh cinta.

Menanam Harapan di Papagarang

Seperti biasa, tripku bersama Teh Kotak akan selalu diisi kegiatan memberi kembali untuk alam. Sebagai bagian dari CSR Teh Kotak, kali ini kami serombongan akan menanam bakau di salah satu pulau mungil bernama Papagarang.

image
image

Foto oleh: Yudasmoro

Rupanya kegiatan ini ditunggu-tunggu dengan antusias oleh warga desa di pulau itu, khususnya para penjaga lingkungan yang paham betul, kegiatan semacam ini akan sangat berguna untuk masa depan alam di tanah mereka, juga Indonesia nantinya.

Bukan hanya perkara berapa bibit yang kita tanam, tapi niat dan pemikiran bahwa harus ada yang bisa kita lakukan untuk alam yang sudah memberi kita banyak hal. Apalagi di Indonesia, kita sudah mendapat banyak sekali manfaat dari alam yang kita tinggali. Tanah, air, udara. Kita sudah sepantasnya berbuat baik dan menanamkannya sedini mungkin kebiasaan ini pada penerus bangsa.

image
image
image

Anak-anak kecil Pulau Papagarang menyambut kedatangan kami di dermaga. Kami memanam bakau sambil sama-sama berdoa, ada harapan yang bisa kita tuai nanti dari alam Indonesia di masa yang akan datang untuk anak cucu kita semua.

Menikmati Sejenak Labuan Bajo

Sailing trip berakhir saat kami kembali berlabuh di desa mungil tepi laut bernama Labuan Bajo. Dari atas bukit atau area yang lebih tinggi, kita bisa melihat pelabuhan yang menjadi ikon wilayah ini. Dimana kapal-kapal datang dan pergi, terlihat sibuk sekali, tapi view yang sangat indah untuk dinikmati.

image

Saat matahari terbenam, langit Labuan Bajo bisa sangat merah muda. Lalu mulai menghitam, dan berganti lampu-lampu kapal yang seperti berkedip dari kejauhan. Rupanya ada yang justru terbangun. Kafe dan restoran sepanjang jalan kecil Labuan Bajo mulai buka. Kami menikmati aneka hidangan ikan di sebuah resoran, bahkan sempat mencicipi santai minum kopi juga di salah satu kafe yang nyaman.

image

Keesokan harinya kami menjelajah Goa Batu Cermin tidak jauh dari pusat kota. Goa dengan stalaktit dan stalakmit eksotis yang mudah dikunjungi karena sudah ada anak-anak tangga tersedia, dan pemandu menjaga keamanan kami dengan sigap menyiapkan senter juga helm sebelum kami bergelapan di dalam Goa.

image
image
image

Masih banyak yang bisa kita semua jelajah di tanah Flores ini. Jika punya kesempatan dan waktu yang lebih banyak, aku mau kembali dan mengenal kecantikan lainnya dari tempat ini. Semoga, suatu saat nanti.

Always do your smart traveling*!

Traveler’s note:

Rekomendasi kontak kapal, pemandu & sailing trip Flores:

Pak Don 081246597872

Rekomendasi Hotel Bintang 4 Labuan Bajo:

La Prima Hotel

Rekomendasi Hostel Backpacker Labuan Bajo:

Komodo Indah – Shana 0811800210

*smart-traveling is doing travel with full responsibility for everything you do to nature, local people, culture, and yourself during the trip.

Leave a Reply