Antara Menulis, Traveling, dan Live Simply

image

Lokasi: Pulau Rinca, Kepulauan Komodo, Flores, NTT | Foto oleh: Yudasmoro

“Enak banget, sih, traveling melulu! Kerjanya ngapain, kok bisa jalan-jalan gratis?” Kalimat tanya seperti ini seringkali ditujukan pada saya dua tahun terakhir. Ini jawabannya 🙂

Saya pernah punya motto hidup “Nggak nyoba, nggak tau!” (in positive way) yang bikin saya punya cerita-cerita ajaib versi saya semasa SMA sampai kuliah. Saya pernah memimpin tim mading sekolah yang hobinya lomba terus dan harus menang

Kesannya ambisius. Tapi saya menanamnya sebagai semangat ‘vini vidi vici’ a la Julius Caesar yang artinya saya datang, saya melihat dan saya menang. Setengah maksa, saya bilang kepada tim kalau mau ikut lomba, harus niat, harus semangat dan usaha maksimal, jadi juga bisa bawa pulang kemenangan.

Masih dengan semangat itu juga, saat SMA saya memberanikan diri ikutan jadi wartawan sekolah di sebuah majalah anak muda yang tergabung pada korporat besar. Saya berkesempatan bertemu teman-teman lain dengan semangat yang sama dari berbagai SMA di Jakarta. Pengalaman ini membekali saya merintis karier wartawan, sampai saat kuliah menjadi kontributor dan freelancer resmi, baru setelah lulus bisa jadi karyawan atau Editorial Staff beneran. Ikut rapat redaksi, plus juga makin sering mendapat penugasan ke luar kota.

image

Lokasi: Desa Saleman, Pulau Seram, Maluku Tengah | Foto oleh Hartadi Putro

Nah, dikirim ke luar kota untuk peliputan, jelas kesempatan besar buat saya menjelajah kota orang selain kota kelahiran saya, Jakarta. Biasanya saat dinas luar kota, setelah mengerjakan tugas liputan, saya mulai mensiasati waktu untuk bertualang. Seringnya naik angkutan umum lokal atau paling efektif adalah kenalan dengan teman-teman baru yang siap mengantar saya sekaligus ajang mereka ‘memamerkan’ kota mereka. 

Sampai saat pulang, teman-teman di Jakarta menanyakan banyak hal tentang tempat yang saya kunjungi dan mereka mengusulkan saya membuat blog saya sendiri untuk menampung cerita saya selama bepergian. Voila! Blog inipun lahir dan jadi media berbagi kepada siapapun yang membutuhkan informasi.

Pada perkembangan karier saya selanjutnya, saya mencoba kesempatan lain yang ada di depan mata saya saat itu, menjadi penulis iklan atau Copywriter. Saya pun mengenal industri kreatif lebih luas lagi. Posisi lainnya yang saya coba dalam perusahaan -yang kemudian akrab disebut digital agency- adalah Content Writer untuk digital media seperti website dan social media. Sayapun mencoba menulis cerita dan teks video yang kemudian menjadikan saya mencicipi posisi Script Writer untuk iklan pendek juga, pada digital media.

image

Lokasi: Kawah Ijen, Banyuwangi, Jawa Timur | Foto oleh Anton Chandra

Kemudian rupanya, ada kesempatan lagi. Blog traveling saya menjadi bekal yang membawa saya berkesempatan diajak traveling gratis oleh sebuah brand minuman lokal dengan pintu awal menjadi salah satu pemenang writing competition yang mereka gelar. Maka, dua tahun ke belakang saya menjalani beragam profesi menulis saya di kantor (dan sekarang di rumah, atau dimana saja!) sambil dengan rutin dua bulan sekali bepergian, iya gratis, untuk membawa pulang pengalaman yang bisa saya tulis dan bagi pada blog atau social media pribadi saya.

Kalau dilihat dari awal, apakah kamu melihat satu benang merah dari apa yang saya kerjakan sepanjang karier saya? Ya, saya benar-benar merasa terlahir sebagai penulis. Saya tidak punya pendidikan formal dalam dunia tulis menulis, tapi saya sahu, saya sangat suka menulis. Sangat suka. Itu hobi saya. Itu mimpi saya.

Beranjak dewasa, motto hidup saya mulai berubah menjadi Your Life, You Choose (Hidup Kamu, Kamu yang Pilih). Hidup memang kadang terlihat dan terasa sangat berat dengan banyak pilihan di depan mata, dengan banyak keharusan, juga tuntutan yang malah seringnya bukan berasal dari diri sendiri. Itu mengapa hidup terasa begitu rumit, tidak sederhana. Padahal, banyak pilihan yang bisa kita bijak pilih dengan baik. Pilihan yang ‘kita banget’ dan harusnya bisa kita tekuni, dan kita pertanggung jawabkan juga. 

image

Lokasi: Pasir Timbul Mansuar, Raja Ampat, Papua Barat | Foto oleh Erlangga Pragolo

Saya tidak terlahir menjadi seperti sekarang hanya dari pengalaman kemarin sore saja. Saya menjalani apa yang mungkin orang bilang tidak mungkin, dengan justru melihatnya sebagai sebuah kemungkinan besar, peluang, atau sederhananya saya sering sebut sebagai kesempatan.

Banyak kesempatan yang orang tidak ambil, padahal dia mau, padahal dia bisa. Padahal juga, sering kita dengar kalau kesempatan bisa saja tidak datang dua kali, tidak bisa berulang. Berani mengambil dan memilih untuk mencoba kesempatan yang (mungkin saja) merubah hidup kita adalah hal yang sering disepelekan oleh orang-orang yang merasa hidupnya berat dan kemudian, mereka jadi selalu iri melihat hijaunya rumput tetangga sebelah. 

Sesederhana ingin pergi traveling tapi selalu saja ada alasan tidak bisa pergi. Kalau tidak punya atau susah ambil cuti kerja, coba lihat, ada weekend yang dimulai dari Jumat malam sampai Minggu malam. Kalau tidak punya budget besar, coba lihat, ada tempat-tempat dekat yang bisa didatangi murah meriah, atau rencanakan trip bersama sehingga bisa berbagi biaya dengan teman seperjalanan. Ada keinginan yang terus dipendam, tidak kejadian, hanya jadi wacana. Seperti itu terus dan terus. Sudah berapa kesempatan traveling yang kamu lewatkan?

image

Lokasi: Waisai, Pulau Waigeo, Raja Ampat, Papua Barat | Foto oleh Erlangga Pragolo

Live Simply (menyederhanakan hidup) versi saya adalah berani memilih apa yang kita suka, tekun dan serius menjalaninya, dan harus bisa dipertanggung jawabkan oleh diri sendiri nantinya. Maka, seharusnya tidak ada lagi keluh kesah dan penyesalan, karena kita sendirilah yang paling tahu apa yang kita mau. Apa yang kita impikan, apa yang kita butuhkan.

Menulis dan traveling mengajarkan saya banyak hal untuk lebih menghargai arti kehidupan. Melihat kehidupan orang lain dari berbagai daerah, suku, agama dan budaya berbeda, melihat hewan dan tumbuhan, gunung, hutan, dan lautan, yang semuanya memiliki kesempatan hidup yang sama. Maka saya jadi bisa menghargai kesempatan hidup yang Tuhan berikan, dan berjanji untuk menjadikannya terus lebih baik sepanjang usia.

image

Lokasi: Waisai, Pulau Waigeo, Raja Ampat, Papua Barat | Foto oleh Hartadi Putro

Saya menyadari pentingnya air minum yang baik selama beraktivitas maupun saat bepergian. Mountoya, brand lokal yang lahir 25 tahun silam dari alam yang subur, mata air Cipaniis, Gunung Ciremai, Jawa Barat, terus berusaha meningkatkan kualitasnya hingga kini dapat meraih sertifikasi standar internasional ISO 22000 dan pH 7,28 (menurut Departemen Kesehatan, pH yang baik ada di kisaran 6,5 – 8,5, di bawah itu air bersifat masam dan tidak baik bagi tubuh kita yang pH-nya sendiri sekitar 7). 

image

Lokasi: Waisai, Pulau Waigeo, Raja Ampat, Papua Barat | Foto oleh Ananda Rasulia Wirawan

Selain itu, kemasan tanpa label plastik yang diusung demi kelestarian lingkungan (label plastik lebih sulit didaur ulang ketimbang bahan botolnya sendiri!) menjadikan saya merasa cocok dengan visi misi brand ini yang peduli pada alam, sama seperti prinsip saya ketika bepergian.

Ya, Mountoya menjawab kebutuhan saya akan hidup yang lebih baik sesuai Live Simply versi saya, yang berkaitan dengan hobi sekaligus pekerjaan saya saat ini, menulis dan traveling.

Apa Live Simply versi kamu?

Traveler’s note:

Tulisan ini dibuat dalam campaign Mountoya Indonesia: #livesimply. Info lebih lengkap kunjungi

Website: www.mountoya.co.id

dan ikuti akun social media Mountoya pada:

Instagram @mountoya_id

Facebook page: Mountoya

Twitter: @mountoya

YouTube Channel: Mountoya

Leave a Reply