Review Wonderful Life Movie: ‘Bekal Penting’ Perjalanan Orangtua Muda Kekinian

image

Saat menulis ini usia saya 28 tahun, belum dan akan berkeluarga,  dan saya merasa film ini menggambarkan potret generasi berikutnya yang harus ‘diselematkan’ di masa depan.

Harus pintar. Harus berprestasi. Harus ‘jadi orang’.

Itulah harapan kebanyakan orangtua pada anaknya, yang kadang menyampingkan kondisi anak, perasaan, dan cita-cita dari bakat si anak sendiri, yang tidak selalu sama dengan apa yang dipikirkan orangtua.

Film Wonderful Life menyampaikan dengan sangat baik fenomena masalah orangtua dengan anak ini dalam sebuah cerita ringan tentang keseharian tapi mengandung banyak pesan, untuk anak, orangtua, dan keluarga.

Menonton dan mereview film ini, saya pribadi tidak bisa memisahkan antara opini mengenai review film dengan pengalaman pribadi sebagai seorang anak yang memiliki pengalaman serupa tapi tak sama dengan cerita di film ini. Ya, saya merasa termasuk generasi yang diharapkan ‘jadi orang’ oleh keluarga kecil di rumah, dan berada di lingkungan keluarga besar yang juga mengharapkan generasi berikutnya juga ‘jadi orang’ sama, seperti yang dirasakan turun temurun dari orangtua sebelumnya.

Menurut saya ini akan seperti ‘tradisi’ menetapkan prestasi konvensional untuk menilai seseorang, seperti pertanyaan ‘common people’: sekolah dimana, rangking berapa, jurusan apa, nanti kuliah dimana, dapat jurusan apa, lulus kuliah kerja dimana, jadi apa di kantor, jabatannya apa, gajinya berapa, menikah dengan siapa, anaknya nanti sekolah dimana, anaknya jadi apa, dan seterusnya. Seperti tidak ada habisnya.

Ternyata, ini bukan hanya persoalan dari dalam keluarga kecil saya dan keluarga besar saya, tapi juga lingkungan, di kalangan teman-teman satu generasi saya. Saya merasa, kami, generasi saya ini, harus menyelamatkan generasi berikutnya dari fenomena seperti ini.

image

Pada film ini, prinsip-prinsip harus pintar, harus berprestasi, harus ‘jadi orang’ Amalia (diperankan oleh Atiqah Hasiholan) terapkan pada anaknya Aqil (diperankan oleh Sinyo). Amalia adalah seorang perempuan perfeksionis, wanita karier yang cerdas, sibuk dan berprestasi di kantornya. Prinsip ini tertanam di kepalanya sejak kecil yang ia dapat dari ayahnya (Arthur Tobing) yang keras terhadap Amalia dan kakak laki-lakinya yang meninggal dunia karena stress tidak dapat meraih nilai kuliah yang diharapkan sang ayah. Amalia menjadi pribadi yang juga keras, meski ada sikap lembut yang ia masih dapat dari sang Ibu (Lydia Kandou).

image
image

Amalia jadi juga keras terhadap Aqil, dan terus berusaha menjadikan Aqil seperti yang ia mau. Namun hidup berkata lain, Aqil divonis mengalami Disleksia, kondisi dimana seseorang mengalami kesulitan membaca dan menulis. Dalam kondisi ini, berprestasi secara akademis tentulah sebuah hal yang tidak mungkin bagi Aqil.

image

Setiap Amalia melakukan konsultasi tentang Disleksia, ia selalu mendapat masukan yang sama bahwa seharusnya ia hanya perlu menerima Aqil dengan ‘kemampuan lain’ di luar akademis, yaitu menggambar dengan jiwa seni yang kuat pada dirinya. Amalia juga diharapkan bisa lebih memiliki waktu berkualitas dengan Aqil, seperti traveling bersama dan bermain di alam terbuka.

image

Dalam penyangkalannya, Amalia yang bersikeras bahwa semua penyakit itu ada obatnya dan bisa disembuhkan. Ia pun membawa Aqil mencari pengobatan kesana kemari, mulai dari dokter, pengobatan alternative (dimana ada peran yang dimainkan Didik Nini Thowok sebagai salah satu orang yang akan menyembuhkan Aqil), dan yang paling seru adalah adegan membawa Aqil ke desa-desa sampai ke dukun yang berniat jahat.

image

Siapa sangka, perjalanan penyembuhan Aqil ini ternyata membawa petualangan Ibu dan anak pada pengalaman yang seru dan tidak terlupakan, dimana Amalia dihadapkan pada kemungkinan terburuk dalam hidupnya: hampir kehilangan Aqil. Pada titik inilah Amalia menyadari bahwa ada yang lebih penting dari sekadar memaksakan prinsip dan konflik batinnya sendiri, yaitu kebahagiaan Aqil, anak yang terlahir sempurna seperti setiap anak lainnya. Amalia pun akhirnya menerima kekurangan Aqil sebagai kelebihannya, Aqil boleh menggambar dan melakukan yang ia suka. Amalia mendukung bakat dan minat Aqil dan tidak lagi memaksakan kehendak pada anaknya.

image
image

Ibu Amalia Prabowo bercerita pada teman-teman media saat exclusive press screening di Senayan City, Jakarta 8 Oktober 2016. Foto: Ananda Rasulia

Wonderful Life diangkat dari kisah nyata Ibu Amalia Prabowo dengan anaknya Aqil yang divonis Disleksia, yang sudah dituangkan dalam buku dan kemudian difilmkan ke layar lebar. FIlm ini merupakan persembahan Sariayu bersama Visinema, Creative & Co, dan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) yang tergabung menjadi konsorsium dengan misi pemberdayaan dan perubahan kaum perempuan Indonesia ke arah yang lebih baik.

image

Konsorsium pendukung film Wonderful Life: Sariayu bersama Visinema, Creative & Co, dan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) saat exclusive press screening di Senayan City, Jakarta 8 Oktober 2016. Foto: Ananda Rasulia

image

Atiqah Hasiholan (pemeran Umi) dan Rio Dewanto (salah satu produser) saat exclusive press screening di Senayan City, Jakarta 8 Oktober 2016. Foto: Ananda Rasulia

Film ini diperankan dengan baik oleh Atiqah Hasiholan, aktor muda berbakat Sinyo, disutradarai oleh Agus Makkie dan diproduseri oleh Angga Dwimas Sasongko, Handoko Hendroyono dan Rio Dewanto.

Pesan penting dari film Wonderful Life yang sangat menyentuh bagi saya pribadi adalah bagaimana tergambarnya hubungan antara orangtua Amalia berpengaruh pada cara Amalia mendidik anaknya. Tanpa kita sadar, mungkin generasi kita tidak bisa terlepas dari orangtua konvensional dan keras, dimana sebenarnya itu tidak 100% buruk, karena orangtua pasti selalu menginginkan yang terbaik bagi anak, namun ada baiknya generasi kita bisa ‘menyelamatkan’ generasi berikutnya dengan memberi ruang yang lebih luas sesuai minat dan bakat anak-anak kita kelak.

image

Karena pada era ini semua lini sudah serba berubah dan maju, dan kita harus bisa mengikuti zaman. Prestatif, sukses, dan bahagia tidak lagi hanya dari prinsip yang sama: jabatan tinggi di kantoran, bekerja setiap hari dengan jas dan dasi (saat ini bekerja bisa dari mana saja dan kapan saja!), jurusan kuliah yang sangat akademis (seni dan olahraga pun sekarang juga keren!), akan tetapi asal apa yang dikerjakan masih berjalan sesuai aturan-aturan yang baik, seperti sesuai ajaran agama dan etika dan norma di masyarakat sebaiknya tetap didukung karena hasilnya tidak kalah membanggakan dari apa yang hanya terkungkung di pikiran orangtua konvensional.

image

Sebagai calon dan orangtua ‘kekinian’, generasi saya, generasi kita, juga harus berhati-hati pada kemajuan teknologi dan zaman, dimana semua serba mudah, serba instan, dan tuntutan materi yang kian tinggi. Jangan sampai kita meninggalkan keluarga, terutama anak, karena menjunjung alasan ingin mencari nafkah untuk masa depan mereka. Kebahagian mereka adalah kita. Kita, orangtua yang hadir secara fisik dan bathin di sisi mereka, memperhatikan, terjun langsung dan mendukung perkembangan mereka hingga kelak mereka menjadi generasi orangtua dengan memori positif yang tertanam di pikiran dan hati mereka. Maka generasi selanjutnya akan terus menjadi generasi yang lebih baik dari sebelumnya.

Dream big, act small, act fast! -Dr. (H.C) Martha Tilaar 

Karya Aqil, putra dari Ibu Amalia dengan Disleksia namun berbakat menggambar yang sang at unit dan lucy ini dijadikan limited edition Sariayu yang dengan bangga mempersembahkan film Wonderful Life sebagai pembuka gerakan perubahan Be Wonderful Movement. Gerakan pemberdayaan perempuan yang diinisiasi Sariayu Martha Tilaar ini ingin mengajak perempuan Indonesia untuk membuat perubahan dalam hidupnya dan menjadi agent of change yang berguna bagi sekitar.

image
image

Karya Aqil dijadikan limited special edition produk Sariayu dipamerkan saat exclusive press screening di Senayan City, Jakarta 8 Oktober 2016. Foto: Ananda Rasulia

Selain mengangkat Empowering Women yang menjadi salad satu dari pilar Martha Tilaar Group, ke depanya Be Wonderful Movement juga akan mengangkat isu-isu terkait Beauty Green, Beauty Education, Beauty Culture dengan merangkul sosok-sosok perempuan inspiratif di tanah air. What a wonderful vision!

image

Yuk, teman-teman calon dan para orangtua muda (terutama yang satu generasi dengan saya hehe…), sempatkan menonton film Wonderful Life di bioskop mulai tanggal 13 Oktober 2016. It means a lot for our wonderful life and next generation! Recommended!

Lihat trailer Wonderful Life Movie di sini.

Foto-foto dokumentasi Instagram @wonderfullifemovie 

Leave a Reply