#petualanganalamkomodo: Bangga Menjadi Saksi Pengembangan Wisata Komodo dan Labuan Bajo

image

Ketika mimpi mengunjungi destinasi impian berkembang menjadi tanggung jawab mempromosikannya, ini baru mimpi jadi kenyataan.

Ajakan (kembali) ke Flores bagi saya pribadi masih membuat jantung berdegup lebih cepat dan senyum lebar merekah di wajah. Iya, ini ketiga kalinya saya menginjakkan kaki di salah satu dream destination saya ini. 

image

Namanya Flores, dari Bahasa Portugis, artinya bunga. Letaknya di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Saya tidak pernah lupa kali pertama saya mendarat di Bandara Komodo, Labuan Bajo. Bandara ikonik yang menurut saya cukup megah dan siapapun yang sampai di sini akan bangga, karena salah satu destinasi paling indah di Indonesia sudah di depan mata.

image

Kali ini saya bersama Kementrian Pariwisata Republik Indonesia yang mengajak 7 travel blogger nasional, akan mengarungi Laut Flores dalam trip bertajuk Petualangan Alam Komodo selama 2 hari 1 malam (24-26 November 2017). Saya dan rombongan ternyata bukan sekadar berjalan-jalan, kami akan membuka spot destinasi baru dan menyebarkan kabar gembira bahwa Labuan Bajo adalah salah satu dari empat ‘Bali baru’ yang pengembangannya di percepat Pemerintah.

Ramahnya Labuan Bajo dan Semangat LOB di Komodo

image

Kabar gembira pertama (yang paling penting) adalah info bahwa sekarang sudah ada direct flight  ke Labuan Bajo (tanpa transit di Bali) dari Jakarta. Jadi, bagi yang tinggal di ibukota bisa langsung mendarat di Labuan Bajo, pintu masuk sebelum menjelajah Kepulauan Komodo. Saya dan rombongan menginap dulu satu malam di salah satu resort unggulan di sini, yaitu Silvya Resort Komodo, yang juga memiliki pantai pribadi dan dermaga yang indah.

image
image

Foto di Labuan Bajo oleh Sinyo

Dari dermaga inilah keesokan harinya kami langsung dijemput speed boat kecil yang mengantar kami ke Kapal Phinisi dengan nama operator Noah, yang akan menjadi rumah bagi kami dua hari ke depan. 

image
image
image

Tentu saja saya excited, karena meski sudah pernah Live On Board (LOB) sebelumnya dengan kapal berukuran lebih kecil, kapal phinisi ini lebih besar dan megah, tentunya membuat lebih nyaman berlayar di atas Laut Flores yang luas.

Lebih Nyaman Menjelajah Pulau Padar

image

Foto di Pulau Padar oleh Fadly

Destinasi pertama kami adalah Pulau Padar. Pulau megah dengan view bentangan perbukitan dipercantik cekungan tiga garis pantai berbeda karakter dan laut lepas lagi di belakangnya. Sangat indah. Naik ke puncak bukitnya dan pemandangan ini makin jelas terlihat. Karena percaya, tempat yang indah memang butuh perjuangan ekstra untuk mencapainya. 

image

Saya pun melihat sendiri, fasilitas di sini mulai dikembangkan. Dengan adanya dermaga kayu tempat speed boat kecil atau sekoci bersandar dari kapal-kapal utama yang membawa pengunjungnya. 

image

Lalu, tangga yang terbuat dari kayu, dan sedang diteruskan pembangunannya dengan bahan batu, berjajar rapi membuat pendakinya nyaman sampai ke atas. Senang rasanya jika rencana bukan hanya wacana, senyum di bibir saya merekah lagi. Tidak sabar berbagi kabar ini untuk teman-teman yang ingin ke sini. Oh, iya saya punya Tips Pintar ke Pulau Padar pada link ini.

Wajib Menyapa si Kekar Komodo

image

Kami kembali berlayar dan menepi lagi, kali ini di Pulau Rinca. Nah, ini dia, rumah bagi 1500 lebih hewan kekar yang oleh turis dunia disebut-sebut naga. Pintu masuk ke Loh Buaya di Pulau Rinca terlihat ramai antrian pengunjung. Mereka, sama seperti rombongan saya, akan ditemani oleh pemandu dengan tongkat tinggi berbentuk huruf Y besar, yang menandakan mereka adalah ranger yang menjaga kemanan pengunjung saat menjelajah Pulau Rinca.

image
image
image

Saya dan rombongan berjalan di jalan setapak yang sudah rapi dan nyaman. Rasanya seperti masuk taman wisata. Ada peta area, dan ranger akan mengenalkan diri sambil menjelaskan peraturan selama trip berjalan. Saya juga memperhatikan pembangunan yang sedang dilakukan, toilet makin nyaman, ada kafetaria juga. 

image
image
image

Foto dengan komodo oleh Agus 

Akhirnya yang ditunggu muncul juga. Kalau ke Taman Nasional Komodo, yang wajib dilihat ya, Komodonya. Kami pun melihat kawanan hewan besar ini, di bawah rumah-rumah panggung yang ternyata dapur. Pengunjung boleh berfoto dengan jarak sesuai arahan ranger. Sebaiknya ranger dan pemandu tidak dibebankan pegang kamera, karena tugas utama mereka adalah menjaga keamanan kita, para pengunjungnya.

Sunset di Kapal menuju Pulau Kalong

image

Hari mulai petang, dan rombongan kembali ke kapal untuk melanjutkan ke Pulau Kalong. Matahari terbenam di sana tidak bisa ditawar waktunya. Kenapa? Karena akan ada ratusan kalong terbang keluar pulau tak berpenghuni, pulang setelah seharian mencari makan. Kami pun menunggu momen tersebut di kapal dengan sabar.

image

Satu dua kalong yang terbang duluan menjadi pertanda bahwa waktu yang ditunggu tiba. Kalong yang terbang pun makin banyak melewati atas kapal. Saya dan beberapa teman bergegas ke atap kapal, demi melihat fenomena yang menarik ini. Foto dan video yang kami rekam tidak bisa menggambarkan momen ini dengan sempurna. Maka, datang kemari saja. Rasakan sendiri saja.


Batu Balok: Destinasi Baru yang Seru

image

Keesokan harinya, saya semakin semangat. Ada beberapa spot destinasi baru yang tidak kalah seru dengan yang sudah ternama. Setelah bermalam dengan menepi di Pulau Rinca, kamipun kembali mendarat dengan speed boat ke Desa Rinca. Terlihat dermaga kayu yang sudah lapuk, berbanding terbalik dengan wajah-wajah penduduknya yang cerah, menyambut ramah rombongan kami yang akan mengeksplor area tempat tinggal mereka.

image

Sebelum masuk ke hutan, saya berjalan berbaris dengan teman-teman melewati desa yang penduduknya tinggal di tepi laut ini. Rumah-rumah panggung, warna kulit eksotis, dan hamparan ikan yang sedang dikeringkan penduduk menjadi view rutinitas pagi mereka yang bagi saya, sangat mahal harganya. Tidak bisa setiap hari kita saksikan di kota.

image
image
image

Kami menelusur hutan yang masih dihuni burung liar seperti Burung Gosong, ular, dan juga tentu saja Komodo. Jantung saya cukup terpicu cepat, penasaran dengan tujuan trekking datar kami pagi itu, tapi juga terus waspada dengan area sekitar yang masih sangat alami.

image

Akhirnya pemandu menunjukkan bebatuan balok panjang dengan potongan yang sangat rapi, seperti dipotong mesin, tersebar hampir di puncak perbuktian. 

image

Aneh memang, jika mendengar mitos atau legenda yang bilang bahwa ini adalah runtuhan istana yang gagal dibangun oleh Raja Rinca. Mirip cerita Roro Jonggrang, Putri Fraida yang meminta dibangun istana satu malam sebelum dinikahi, berbuat curang sehingga Raja Rinca gagal memenuhi permintaannya.

image

Terlepas dari mitos atau fenomena alam, trek menuju spot ini sangat seru dan recommended untuk dicoba. Bertemu warga lokal, melalui lintasan dengan hewan liar, dan melihat peninggalan unik dengan cerita menarik. Siapa yang menolak mencoba?

Strawberry Rock, Mie Goreng, dan Snorkeling Segar

Kembali ke kapal setelah trekking, perut tentunya terasa lapar. Makanan selalu siap tersaji dengan menu-menu lezat. Tapi saya dan beberapa teman, tergoda memasak mie goreng. Bonusnya, kami bisa makan sambil menghadap ke lautan, dan pemandu mulai menceritakan satu lagi spot baru yang unik: Strawberry Rock.

image

Sesuai namanya, memang bebatuan ini terlihat berwarna merah muda segar seperti strawberry, mencolok di atara pepohonan hijau dan air laut yang biru. Pengunjung bisa menikmari dari kapal (seperti yang saya lakukan dengan mangkok mie!) atau merapat dan berfoto di sana.

image

Foto kegiatan snorkeling oleh Him

Setelah itu, kejutan terakhir yang tidak kalah menggembirakan adalah kami diperbolehkan turun ke air, mencicipi segarnya air laut Flores yang jernih dan kaya sumber daya di bawahnya. Benar saja, selain bisa berenang dengan latar bukit cantik, snorkeling di permukaan saja sudah bisa melihat koral dan terumbu karang subur dengan warna-warni indah. Ikan-ikan juga dengan sehat menari-nari menggoda kami. Sungguh, saya bersyukur untuk momen ini, untuk kesempatan bisa lahir dan tumbuh di negeri sekaya Indonesia.

Kembali ke Daratan dengan Harapan: Maju terus Labuan Bajo!

Butuh waktu sekitar 90 menit untuk kembali ke Labuan Bajo dari Taman Nasional Komodo. Sepanjang perjalanan saya bersiap packing sambil merenung apa yang sudah saya dan teman-teman lihat dan rasakan. Bukit-bukti indah dengan view menakjubkan, hutan-hutan kaya dengan flora dan fauna yang tumbuh di dalamnya, dan bawah laut yang cantik, yang membuat siapapun tidak ingin melepas perasaan ini cepat-cepat.

image

Mengunjungi Labuan Bajo dan Kepulauan Komodo adalah salah satu rekomendasi tertinggi saya untuk destinasi di Indonesia. Kalian yang pernah ke sini, akan sangat merasa Indonesia. Semua yang Indonesia punya tergambar megah di laut biru Flores yang luas dan tenang, bukit-bukti tinggi menjulang, dan langit juga udara hangat khas negara tropis yang selalu dirindukan.

image

Saya kembali tersenyum lebar, melihat dari kejauhan pembangun yang sedang diusahakan pemerintah pusat, pemerintah daerah, teman-teman dan semua pihak yang ingin memajukan pariwisata negeri ini tidak akan sia-sia. Mungkin bukan kita yang akan menuai hasilnya hari ini, tapi kelak di masa depan, semua mata dunia akan semakin tertuju pada tanah dan air kebanggaan kita ini, Indonesia.

Keep do your smart traveling* as always!

Baca juga:

http://www.thejakartapost.com/travel/2017/11/28/west-manggarai-hosts-petualangan-alam-komodo-trip.html

http://travel.detik.com/kemenpar/detail/3746723/petualangan-mencari-komodo-di-labuan-bajo-dan-sekitarnya

https://ads2.kompas.com/layer/kemenpar/detail/4995

*smart-traveling is doing travel with full responsibility for everything you do to nature, local people, culture, and yourself during the trip.

Leave a Reply